REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai kontrak perdagangan kacang hijau dan rumput laut antara Indonesia dan China pada 2026 mencapai 19,59 juta dolar AS atau sekitar Rp326 miliar. Kontrak tersebut mencakup 14 ribu ton komoditas, sementara pemerintah menjajaki peluang kerja sama pengolahan hasil pertanian untuk meningkatkan nilai tambah produk di dalam negeri.
Berdasarkan data China National Township Enterprises Co., Ltd. (CNTEC), perdagangan tersebut terdiri atas 7.900 ton kacang hijau senilai 9,86 juta dolar AS dan 6.100 ton rumput laut senilai 9,73 juta dolar AS. Data itu disampaikan dalam pertemuan CNTEC dengan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Beijing pada pekan ini.
Nilai perdagangan tersebut merupakan kontrak yang telah dipaparkan CNTEC, bukan kesepakatan baru yang ditandatangani dalam pertemuan. Selain membahas perdagangan komoditas, pemerintah menjajaki kerja sama teknologi pertanian dan pengolahan produk dengan sejumlah perusahaan China.
Menteri Transmigrasi Iftitah mengatakan, kerja sama perdagangan dan investasi perlu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia. Salah satu fokus pemerintah adalah meningkatkan pengolahan hasil pertanian agar komoditas tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.
“Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan,” ujar Iftitah dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Menurut Iftitah, peluang pasar ekspor harus diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi dan kualitas hasil panen. Perbaikan penanganan pascapanen serta distribusi juga diperlukan agar kawasan transmigrasi mampu memasok kebutuhan pasar secara berkelanjutan.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kementerian Transmigrasi membahas peluang kerja sama dengan FAMSUN Group. Pembahasan mencakup pengembangan fasilitas pengeringan, penyimpanan, dan pengolahan hasil pertanian.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi kehilangan hasil panen dan menjaga kualitas produk sebelum dipasarkan. Pengolahan di daerah juga berpotensi meningkatkan nilai jual komoditas dan membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat.
Selain pengolahan hasil pertanian, pemerintah menjajaki penggunaan teknologi pertanian bersama Shenzhen DJI Innovations Co., Ltd. (DJI). Teknologi drone menjadi salah satu fokus pembahasan, terutama untuk penyemprotan, penebaran benih dan pupuk, pemberian pakan ikan, serta pengangkutan barang.
Peluang kerja sama tersebut juga mencakup pelatihan operator dan teknisi lokal. Penguasaan teknologi diharapkan dapat membantu petani meningkatkan efisiensi kegiatan produksi dan pengelolaan usaha.
Sementara itu, Beijing Leili Marine Bioindustry Inc. memperkenalkan berbagai produk olahan rumput laut, termasuk bahan untuk membantu pertumbuhan tanaman dan menjaga kesehatan tanah. Teknologi pengolahan tersebut membuka peluang pengembangan industri berbasis rumput laut dengan nilai jual lebih tinggi.
Meski demikian, sejumlah rencana kerja sama masih memerlukan kajian lanjutan. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan baku, standar kualitas produk, kebutuhan teknologi, serta kesiapan infrastruktur pendukung.
Kementerian Transmigrasi selanjutnya akan memetakan potensi proyek dan calon mitra berdasarkan karakteristik setiap kawasan transmigrasi. Pemerintah juga akan mempertimbangkan keterlibatan petani dan pelaku usaha lokal agar peluang perdagangan serta pengolahan komoditas dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.