Penguatan Gerakan Indonesia ASRI melalui Reresik Sekolah di Yogyakarta
Minggu, 19 Juli 2026 19:12 WIB
Aksi bersih lingkungan sekolah di tepi Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta dalam kegiatan Gerakan Reresik Sekolah menutup kegiatan MPLS di Yogyakarta. Jumat (17/7/2026). ANTARA/Hery Sidik.
Yogyakarta (ANTARA) - Tawa dan canda bersahutan, sementara ekspresi penuh semangat terpancar dari wajah para pelajar Kota Yogyakarta yang memadati kawasan sekolah dan trotoar di sepanjang Jalan Cik Di Tiro, Terban, Kecamatan Gondokusuman.
Dengan sapu dan serok di tangan, para pelajar putra-putri dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA memunguti sampah yang berserakan di trotoar, saluran air, serta fasilitas publik di tepi jalan utama Kota Yogyakarta.
Didampingi guru, organisasi kepemudaan, dan masyarakat, mereka mengikuti Gerakan Reresik Sekolah, aksi bersama untuk membersihkan lingkungan sekolah dan sekitarnya agar tetap bersih, nyaman, dan enak dipandang.
Kegiatan itu berlangsung pada Jumat pagi (17/6), yang menjadi hari terakhir pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di seluruh satuan pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA di Kota Yogyakarta.
Menurut data Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Yogyakarta, setidaknya terdapat 11 sekolah atau satuan pendidikan di kawasan jalan protokol strategis tersebut, yang menjadi salah satu pusat pendidikan, kesehatan, dan perbankan di jantung Kota Yogyakarta.
Karena itu, para siswa dari jenjang TK hingga SMA di kawasan tersebut dikerahkan untuk mengikuti Gerakan Reresik Sekolah pada pagi hari, sebelum melanjutkan kegiatan MPLS hari terakhir di sekolah masing-masing.
Kawasan itu dipilih Pemerintah Kota Yogyakarta karena berada di pusat aktivitas kota dan membentang dari kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Sleman, di sekitar Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) di sisi utara, hingga Simpang Empat Gramedia di sisi selatan.
"Kebetulan untuk seremoni kami mengambil lokasi di SMP Negeri 1 Yogyakarta jalan Cik Di Tiro Nomor 29, di kanan kiri atau timur dan barat penggal jalan yang radiusnya 800 meter terdapat ada 11 sekolah yang ada di lokasi itu," kata Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Dinas Dikpora Yogyakarta Mugi Suyatno.
MPLS tahun ajaran 2026/2027 di Kota Yogyakarta dilaksanakan serentak di seluruh jenjang pendidikan mulai Senin (13/7) hingga Jumat (17/7), sebelum para siswa baru memulai kegiatan pembelajaran efektif pada Senin (20/7).
Pembukaan MPLS di Yogyakarta pada 13 Juli dilakukan oleh Wali Kota Hasto Wardoyo di SMP Negeri 10 Yogyakarta, sementara rangkaian kegiatan tersebut ditutup oleh Wakil Wali Kota Wawan Harmawan di SMP Negeri 1 Yogyakarta.
Dengan demikian, Gerakan Reresik Sekolah yang dipimpin Wakil Wali Kota dan dipusatkan di Jalan Cik Di Tiro menjadi penutup rangkaian MPLS di seluruh satuan pendidikan dari berbagai jenjang.
"Nah, tentu kegiatan itu juga menjadi penguatan kegiatan Pemerintah Kota Yogyakarta agar Yogyakarta berhati nyaman, mensukseskan dan mendukung Gerakan Indonesia ASRI (Aman Sehat, Resik dan Indah)," kata Mugi Suyatno.
Perkuat budaya hidup bersih
Melalui aksi bersih sekolah dan lingkungan lingkungan sekitar, Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat budaya hidup bersih dan kepedulian terhadap lingkungan dengan melibatkan berbagai pihak, terutama generasi muda sebagai agen perubahan.
Menjaga kebersihan lingkungan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Karena itu, para pelajar perlu dibiasakan sejak dini untuk peduli terhadap lingkungan di sekitarnya, baik di sekolah maupun di ruang publik.
Budaya hidup bersih yang diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari perlu ditanamkan sebagai bagian dari karakter setiap generasi muda. Pendidikan karakter tersebut melengkapi pengetahuan yang mereka peroleh melalui proses pembelajaran di ruang kelas.
Dengan demikian, upaya membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan, dapat dilakukan melalui pembentukan karakter yang tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, salah satunya melalui Gerakan Reresik Sekolah.
Selain membersihkan lingkungan sekolah, aksi di sepanjang jalan protokol juga menjadi media pembelajaran bagi peserta didik mengenai pentingnya tanggung jawab, disiplin, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Para pelajar juga perlu terus ditanamkan nilai-nilai kerja sama, saling membantu, disiplin, serta pemahaman bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pelajar, guru, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat yang bersama-sama turun membersihkan kawasan sekolah dan ruang publik, menunjukkan bahwa membangun budaya hidup bersih membutuhkan kolaborasi.
“Ketika sekolah, pemerintah, pemuda, dan masyarakat bergerak bersama, lingkungan yang bersih dan nyaman akan lebih mudah diwujudkan,” kata Wakil Wali Kota Wawan Harmawan.
Kebiasaan sehari-hari
Pemerintah Kota Yogyakarta berharap semangat yang dibangun melalui Gerakan Reresik Sekolah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang terus dipraktikkan oleh pelajar dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, semangat menjaga kebersihan tetap hidup setelah kegiatan tersebut berakhir dan berkembang menjadi budaya yang diterapkan setiap hari, baik di sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar.
Upaya ini sejalan dengan pentingnya budaya menjaga kebersihan sebagai salah satu faktor dalam mempertahankan identitas Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan, Kota Budaya, sekaligus Kota Kreatif.
Identitas tersebut tidak hanya ditentukan oleh kualitas pendidikan dan kekayaan budaya, tetapi juga tercermin dari perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan, ketertiban, serta kelestarian lingkungan.
Predikat tersebut akan lebih mudah dipertahankan apabila seluruh masyarakat memiliki kesadaran dan kebiasaan menjaga kebersihan, ketertiban, serta kelestarian lingkungan. Sebab, lingkungan yang bersih dan tertata akan memberikan kenyamanan bagi warga maupun wisatawan.
Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Yogyakarta menilai pembentukan budaya hidup bersih perlu dimulai dari lingkungan sekolah. Sekolah merupakan ruang yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada peserta didik sekaligus membentuk kebiasaan yang akan mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.
Dari ruang-ruang sekolah itulah, semangat menjaga kebersihan diharapkan meluas ke ruang publik dan lingkungan tempat tinggal. Gerakan Reresik Sekolah pun tidak hanya memperkuat semangat Jogja Berhati Nyaman dan mendukung Gerakan Indonesia ASRI, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif pelajar dan pemuda agar kepedulian terhadap kebersihan lingkungan tumbuh menjadi budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Penguatan Gerakan Indonesia ASRI melalui Reresik Sekolah di Yogyakarta
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026