Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menyatakan bahwa adanya upaya pengembangan Kawasan Industri Kakao dapat memperkuat proses hilirisasi komoditas kakao di daerahnya.
"Pemprov Lampung terus memperkuat strategi hilirisasi sektor pertanian dengan berbagai upaya, salah satunya melalui pengembangan Kawasan Industri Kakao, yang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah, sekaligus memperluas kesejahteraan petani," ujar Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam keterangannya di Bandarlampung, Rabu.
Ia mengatakan selama ini sebagian besar hasil kakao masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku mentah, sehingga nilai tambah yang diperoleh petani belum optimal.
"Hilirisasi harus mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, terutama petani, melalui peningkatan harga jual hasil panen, penciptaan lapangan kerja, hingga tumbuhnya industri pengolahan di daerah," katanya.
Dia menjelaskan pemerintah daerah telah menaruh perhatian juga terhadap peningkatan nilai ekonomi kakao yang dihasilkan petani, melalui pembangunan industri pengolahan yang mampu menyerap produksi lokal secara berkelanjutan.
"Pengembangan industri ini sejalan dengan arah pembangunan Provinsi Lampung, yang tengah mendorong transformasi ekonomi dari berbasis komoditas mentah menuju produk bernilai tambah," ucap dia.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Lampung jumlah produksi kakao di provinsi itu ada sebanyak 49.605 ton, dengan luas tanam 77.125 hektare dan nilai ekonomi Rp4,36 triliun.
Sementara itu Managing Director PT Buhler Indonesia Philip de Mayer mengatakan bahwa Provinsi Lampung memiliki modal alam yang kuat untuk menjadi pusat industri kakao premium dunia. Dengan kakao asal Lampung yang memiliki karakter cita rasa atau flavour profile yang lebih kuat dan khas dibandingkan sejumlah daerah penghasil kakao lainnya di Indonesia.
"Keunggulan tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan produk kakao premium yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar internasional. Namun demikian, tantangan terbesar Lampung bukan terletak pada kualitas bahan baku, melainkan masih terbatasnya kapasitas pengolahan pascapanen," ucap Philip de Mayer.
Menurut dia, selama ini, sebagian besar nilai ekonomi kakao dinikmati di luar daerah, karena proses hilirisasi dilakukan di wilayah lain. Karena itu dengan pembangunan fasilitas pengolahan berteknologi tinggi, Lampung memiliki peluang besar tidak hanya menjadi daerah penghasil biji kakao melainkan sebagai produsen produk kakao bernilai tambah yang mampu memasok pasar global.
"Nantinya kami tidak hanya menyediakan mesin produksi, tetapi juga menghadirkan transfer teknologi, riset dan pengembangan, peningkatan kualitas produk, hingga pelatihan sumber daya manusia," ujarnya.
Ia mengatakan, kehadiran kawasan industri kakao akan dilakukan secara berkelanjutan dilengkapi pusat riset, pengembangan resep, uji coba produk, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja. Sehingga industri yang dibangun mampu menghasilkan produk dengan standar internasional.
Ia menjelaskan bahwa proyek yang akan dikembangkan di Lampung berpotensi menjadi fasilitas pengolahan kakao organik single origin pertama di Indonesia.
"Dengan mengangkat identitas single origin Lampung, produk kakao dari Provinsi Lampung diyakini mampu membangun citra premium, sekaligus memperkuat posisi Lampung dalam peta industri kakao internasional," ujar dia.
Diketahui kawasan industri yang akan dibangun di Kabupaten Lampung Selatan tidak hanya terdiri atas fasilitas pengolahan kakao berkapasitas dua ton per jam, tetapi juga dilengkapi pusat pembibitan, pusat pelatihan petani, miniplant untuk riset dan pembelajaran, gudang logistik, hingga kawasan yang disiapkan bagi industri hilir seperti makanan, kosmetik, dan farmasi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengembangan Kawasan Industri Kakao perkuat hilirisasi kakao Lampung
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.