Elephants

Pengangguran Terbuka Usia Muda Capai 17,37 Persen, Akses Kerja dan Pendidikan Jadi Tantangan

September 22, 2026

Selasa, 22 September 2026 - 23:45 WIB

VIVA –Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026, tingkat pengangguran terbuka usia muda (15–24 tahun) tercatat sebesar 17,37 persen, jauh di atas tingkat pengangguran nasional yang sebesar 4,65 persen. Sementara sekitar 19,44 persen anak muda Indonesia berstatus NEET (Not in Employment, Education, and Training). 

Baca Juga

Di Jakarta, sekalipun tingkat kemiskinan resmi tergolong rendah di angka 4,03 persen namun rasio gini, atau ketimpangan pengeluaran penduduknya. Tercatat 0,435 dan merupakan salah satu yang tertinggi secara nasional serta mencerminkan kesenjangan akses ekonomi yang masih signifikan antara kelompok masyarakat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, kaum muda prasejahtera yang berasal dari komunitas rentan menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses terhadap pendidikan, kesempatan kerja, hingga peluang untuk mengembangkan potensi diri. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga memperkuat berbagai persoalan sosial yang terjadi di lingkungan tempat mereka tinggal.

Baca Juga

Melihat hal itu, Yayasan Bulir Padi meluncurkan Program Kewirausahaan Sosial YBP bermitra dengan Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FBIS Atma Jaya). Program ini digagas dalam upaya menanggapi tantangan ketenagakerjaan anak muda di Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari komunitas prasejahtera. 

Program ini mengedepankan penerapan prinsip Green Economy dan Circular Economy dalam perancangan usaha peserta, yaitu memanfaatkan sumber daya lokal secara bertanggung jawab, mengurangi limbah, memperpanjang siklus penggunaan material, serta menciptakan nilai tambah melalui inovasi yang ramah lingkungan. Pendekatan ini dirancang untuk menghasilkan model usaha yang tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat.

Baca Juga

"Kewirausahaan sosial merupakan salah satu strategi paling efektif untuk membuka peluang ekonomi sekaligus menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan bagi anak muda binaan kami. Melalui pendekatan social entrepreneurship, anak bina dan alumni kami dibekali kemampuan membangun usaha yang tidak semata berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya," ujar Ketua Yayasan Bulir Padi, Tia Sutresna, Selasa 22 September 2026.

Program ini menggunakan pendekatan Community-Based Social Entrepreneurship di mana setiap kelompok dibentuk berdasarkan komunitas asal peserta sehingga ide usaha yang dikembangkan berangkat dari kebutuhan masyarakat, potensi lokal, sumber daya wilayah, peluang ekonomi, isu lingkungan. Di samping itu, sebagai Yayasan yang menjunjung tinggi nilai pengembangan karakter bagi anak binanya, program ini merupakan salah satu manifestasi dari rasa kewajiban serta kesadaran atas kewarganegaraan yang mana diharapkan akan melahirkan anak muda yang berempati dan berguna bagi masyarakat.

Halaman Selanjutnya

Dalam kemitraan ini FBIS Atma Jaya berperan dalam menyusun materi pelatihan, menyediakan dosen dan praktisi sebagai pemateri, memfasilitasi diskusi interaktif, serta bertindak sebagai evaluator dalam sesi pitching dan pemberian umpan balik terhadap proposal usaha peserta.