Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memperkuat hilirisasi komoditas jagung melalui penyediaan fasilitas pengeringan hasil panen guna meningkatkan kualitas produk dan nilai jual yang diterima petani.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di Bandarlampung, Selasa, mengatakan petani perlu didukung agar tidak langsung menjual seluruh hasil panen jagung dalam kondisi basah karena proses pengeringan dapat memberikan nilai tambah terhadap komoditas tersebut.
"Jagung yang dihasilkan di masing-masing kecamatan harus diupayakan untuk dikeringkan, jangan dijual dalam kondisi basah," katanya.
Menurut dia, peningkatan produktivitas pertanian perlu berjalan beriringan dengan hilirisasi agar peningkatan produksi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada petani.
"Salah satu yang menjadi perhatian adalah komoditas jagung. Jadi dengan hilirisasi, jagung hasil panen petani tidak seluruhnya dijual dalam kondisi basah, melainkan dikeringkan terlebih dahulu sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi," ujarnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung telah menyiapkan mesin pengering atau dryer berkapasitas 20 ton guna membantu penanganan jagung pascapanen.
Jagung yang telah melalui proses pengeringan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pakan ternak sehingga rantai nilai komoditas tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut di daerah.
Menurut Rahmat, pengembangan hilirisasi juga dapat diintegrasikan dengan usaha peternakan ayam di perdesaan sehingga kegiatan ekonomi tidak berhenti pada produksi jagung, tetapi berkembang hingga sektor pengolahan dan peternakan.
"Pengembangan tersebut tidak hanya berhenti pada produksi pakan, tetapi juga dapat dilanjutkan dengan pengembangan usaha peternakan ayam di desa-desa. Konsep ini merupakan bentuk hilirisasi pertanian sekaligus upaya menciptakan nilai tambah bagi petani," katanya.
Konsep pengembangan nilai tambah tersebut, lanjut dia, juga dapat diterapkan terhadap komoditas unggulan Lampung lainnya, antara lain padi, kelapa, dan singkong.
Ia mengatakan penguatan nilai tambah menjadi penting karena pergerakan harga komoditas pertanian berpengaruh langsung terhadap pendapatan petani dan aktivitas perekonomian masyarakat.
"Ketika harga jagung anjlok, masyarakat ikut merasakan tekanan ekonomi. Sebaliknya, harga yang baik akan memberikan manfaat bagi petani dan masyarakat secara luas," ujarnya.
Selain memperkuat penanganan pascapanen, Pemprov Lampung juga berupaya meningkatkan produktivitas jagung. Produktivitas sejumlah lahan jagung di Lampung Selatan, menurut dia, saat ini berkisar enam hingga delapan ton per hektare dan masih berpeluang ditingkatkan hingga lebih dari 10 ton per hektare.
Salah satu upaya yang dilakukan ialah penggunaan pupuk hayati cair (PHC) yang telah diuji coba di sejumlah lokasi dan direncanakan dapat diberikan secara gratis kepada petani.
"Dengan penggunaan pupuk hayati cair dari Pemerintah Provinsi Lampung, produktivitas petani dapat meningkat. Program tersebut telah diuji coba di sejumlah lokasi," kata Rahmat.
Berdasarkan data Pemprov Lampung, produksi jagung Lampung pada 2026 mencapai 1,25 juta ton dengan luas tanam 194.487 hektare dan nilai ekonomi sekitar Rp7,58 triliun.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.