Kota Bandung (ANTARA) - Pemerintah Kota Bandung mengembangkan sektor pariwisata berbasis potensi lokal melalui delapan Kawasan Wisata Kreatif (KWK) yang mengintegrasikan potensi wisata, ekonomi kreatif, seni budaya, sejarah, hingga produk unggulan masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa menyebut delapan KWK tersebut yakni KWK Cigadung, KWK Braga, KWK Rajut Binong, KWK Terpadu Gedebage, KWK Literasi Cinambo, KWK Kawasan Tekstil Cigondewah, KWK Pasirkunci, serta KWK Cibaduyut.
“Pengembangan pariwisata tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab satu perangkat daerah, karena membutuhkan dukungan dari berbagai sektor,” kata Adi di Bandung, Minggu.
Menurut dia, pengembangan kawasan wisata berkaitan erat dengan berbagai aspek pendukung, mulai dari infrastruktur, penerangan jalan, pengelolaan ruang publik hingga kelancaran lalu lintas.
Baca juga: Wisatawan ke Bandung selama semester I 2026 capai 12 juta
Baca juga: Pengelola kawasan wisata di Bandung wajib terapkan nol sampah
Ia mengatakan kondisi jalan menuju kawasan wisata perlu diperhatikan agar tetap terpelihara, penerangan jalan memadai, ruang publik tertata, serta persoalan kemacetan dapat diminimalkan melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah.
“Kalau jalan menuju kawasan wisata bagus, lampu penerangan jalannya juga bagus dan terang, kemudian kemacetan bisa dihindari, itu semuanya membutuhkan kolaborasi,” katanya.
Adi menjelaskan delapan KWK dikembangkan dengan mengangkat karakter dan potensi masyarakat di masing-masing kawasan, sehingga pariwisata tidak hanya bertumpu pada daya tarik destinasi.
Adapun KWK Rajut Binong dikenal sebagai sentra industri kreatif dan produk rajut lokal Binong Jati. KWK Terpadu Gedebage mengembangkan potensi kawasan secara terpadu, sedangkan KWK Literasi Cinambo mengangkat aktivitas dan potensi literasi masyarakat.
Potensi ekonomi kreatif juga terdapat di KWK Kawasan Tekstil Cigondewah yang dikenal dengan aktivitas perdagangan dan produk tekstil. KWK Pasirkunci di Ujungberung memiliki panorama alam di kaki Gunung Manglayang serta potensi budaya lokal, termasuk kaulinan baheula.
Sementara KWK Cibaduyut memiliki kekuatan pada produk tekstil dan industri kreatif yang telah berkembang di tengah masyarakat.
Adi menambahkan pengembangan seluruh KWK juga tidak dapat dipisahkan dari kekayaan budaya dan produk unggulan yang tumbuh di masing-masing kawasan.
“Rata-rata kalau saya perhatikan, di KWK ini ada produk unggulan seperti batik. Kemudian di dalamnya juga ada budaya yang berkembang. Di Gedebage juga seperti itu, di Cigondewah juga seperti itu,” ujarnya.
Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.