Majalengka (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau (GAK).
Bupati Majalengka Eman Suherman di Majalengka, Selasa (8/9), mengatakan penguatan kesiapan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah melindungi masyarakat sekaligus mengantisipasi kemungkinan meningkatnya paparan abu vulkanik.
"Kita siapkan seluruh fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan. Kelompok rentan harus menjadi perhatian," katanya.
Kesiapan tersebut, kata dia, dituangkan dalam Surat Edaran Nomor 100.3.4.2/660/BPBD/2026 tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Kabupaten Majalengka terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“Melalui surat edaran yang ditandatangani pada 7 September 2026 itu, Dinas Kesehatan diminta memastikan kesiapan puskesmas, rumah sakit dan pos kesehatan di wilayah Kabupaten Majalengka,” katanya.
Ia menuturkan, kesiapan tersebut mencakup tenaga kesehatan, ambulans, oksigen, obat-obatan, masker atau respirator serta alat pelindung diri untuk mendukung penanganan apabila terjadi gangguan kesehatan.
Selain fasilitas dan peralatan, pemerintah daerah meminta dilakukan pemantauan terhadap gangguan pernapasan, asma, penyakit paru obstruktif kronis, iritasi mata, gangguan kulit dan masalah kesehatan lain yang berpotensi muncul.
Eman mengatakan, perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok yang lebih rentan terhadap paparan abu vulkanik, seperti bayi dan anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas, pekerja luar ruangan serta masyarakat dengan penyakit kronis.
“Di luar sektor kesehatan, kami meminta Dinas Pendidikan menyesuaikan aktivitas pembelajaran apabila kondisi sebaran abu vulkanik dan kualitas udara berpotensi mengganggu kesehatan peserta didik maupun tenaga pendidik,” katanya.
Ia mengemukakan untuk pihak sekolah dapat mempertimbangkan pembelajaran dari rumah apabila intensitas sebaran abu meningkat, dengan tetap mengacu pada perkembangan kondisi dan arahan instansi yang berwenang.
"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tetapi jangan lengah. Yang paling penting adalah mengikuti informasi resmi pemerintah dan mengambil langkah perlindungan apabila kondisi sebaran abu vulkanik meningkat," ujarnya.
Eman juga meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dan pelindung mata, serta membasahi abu sebelum membersihkannya agar tidak kembali beterbangan.
“Kami menekankan koordinasi lintas sektor dengan meminta setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu kesehatan, keselamatan, pelayanan publik, dan aktivitas masyarakat segera dilaporkan melalui BPBD untuk ditindaklanjuti,” ucap dia.
Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.