Elephants

Pemkab Kotim pertimbangan opsi pemasangan pipa bawah air atasi krisis air bersih

September 18, 2026

Pemkab Kotim pertimbangan opsi pemasangan pipa bawah air atasi krisis air bersih

Jumat, 18 September 2026 19:32 WIB

Image Print

Bupati Kotim Halikinnor saat memimpin penyaluran air bersih ke Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kamis (18/9/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan air bersih di wilayah selatan, salah satunya dengan membangun jaringan pipa bawah air untuk menyalurkan air bersih.

“Ke depan ini kita sudah merencanakan (penyaluran air bersih) untuk daerah selatan, termasuk Pulau Hanaut, menggunakan pipa bawah air. Kalau membangun instalasi tersendiri, kesulitannya sumber bahan bakunya,” kata Bupati Kotim Halikinnor di Sampit, Jumat.

Ia menjelaskan, rencana tersebut merupakan upaya untuk mengatasi masalah krisis air bersih di wilayah selatan Kotim karena kekeringan di musim kemarau dan adanya intrusi air laut yang membuat air sungai dan sumur menjadi payau sehingga tidak layak konsumsi.

Dalam hal ini, terutama yang menjadi atensi adalah Kecamatan Pulau Hanaut yang terpisah Sungai Mentaya dari wilayah induk kabupaten tersebut dan pembangunan infrastruktur di kecamatan tersebut masih sangat terbatas.

Disamping itu, pembangunan jaringan pipa bawah air diperlukan karena persoalan air bersih di wilayah pesisir bukan sekadar keterbatasan infrastruktur distribusi, tetapi juga dipengaruhi kondisi sumber air baku yang terdampak intrusi air laut.

Saat musim kemarau, air laut masuk ke sungai dan menyebabkan air baku yang selama ini digunakan untuk kebutuhan PDAM menjadi asin. Kondisi itu membuat pengolahan secara konvensional tidak lagi cukup untuk menghasilkan air yang layak konsumsi.

“Jadi permasalahannya ini juga ada pada sumber air bakunya. Contohnya, di Sungai Sampit itu sekarang sudah mulai asin, sehingga berpengaruh pada produksi PDAM setempat. Kalau hanya menggunakan tawas atau PAC tidak akan bisa,” ujarnya.

Selain itu, Halikinnor mengungkapkan bahwa pemerintah daerah juga berencana mengadakan teknologi khusus untuk mengolah air laut menjadi air bersih dan layak konsumsi. Teknologi tersebut dinilai menjadi alternatif karena wilayah selatan memiliki keterbatasan sumber air tawar.

“Sudah saya tanyakan dengan Direktur PDAM, ada teknologi khusus yang walaupun air laut bisa diolah menjadi air bersih dan layak konsumsi. Itu akan kita upayakan, karena menyangkut hajat hidup masyarakat,” bebernya.

Baca juga: Karhutla belum reda, Dompet Dhuafa gelar doa bersama memohon hujan

Ia menegaskan kondisi efisiensi anggaran tidak akan menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat. Pemerintah daerah akan memperhitungkan pengadaan teknologi tersebut dan selanjutnya menghibahkannya kepada PDAM untuk dioperasikan.

Dengan teknologi itu, sumber air yang selama ini terdampak intrusi air laut tetap dapat dimanfaatkan setelah melalui proses pengolahan yang sesuai.

“Kita tidak mungkin mencari sumber air lainnya. Otomatis sumber air yang ada itulah yang kita manfaatkan, hanya saja teknologinya yang kita tingkatkan,” lanjut Halikinnor.

Selain teknologi pengolahan air laut, Pemkab Kotim akan melanjutkan pembangunan jaringan pipa PDAM secara bertahap.

Jaringan tersebut ditargetkan dapat menjangkau wilayah hingga Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, meskipun pembangunannya membutuhkan waktu dan anggaran besar.

“Kita melanjutkan jaringan pipa induk. Saya ingin sampai Ujung Pandaran. Memang tidak dalam satu tahun karena membutuhkan dana cukup besar, ratusan miliar, sehingga mungkin beberapa tahun nanti kita anggarkan,” jelasnya.

Halikinnor menyebutkan pemerintah daerah juga meminta agar fasilitas PDAM yang sudah tersedia di sejumlah wilayah dimaksimalkan. Di antaranya fasilitas di Kecamatan Parenggean, Cempaga, serta Simpang Sebabi di Kecamatan Telawang.

Untuk wilayah selatan, ia menyebut unit PDAM Sungai Lepeh dan Samuda juga perlu difungsikan secara optimal. Nantinya pembagian pelayanan dapat disesuaikan dengan wilayah masing-masing agar kapasitas yang tersedia dapat dimanfaatkan maksimal.

Halikinnor berharap pembangunan infrastruktur jaringan dan pemanfaatan teknologi pengolahan air tersebut dapat memberikan kepastian pelayanan air bersih bagi masyarakat dalam jangka panjang.

“Harapan kita ke depan tidak ada lagi kesulitan masalah air bersih. Khususnya pada musim kemarau, tidak ada lagi warga kita yang mengeluhkan tentang air bersih, khususnya dari daerah selatan,” demikian Halikinnor.

Baca juga: Legislator Kotim desak penerapan BDR untuk selamatkan generasi bangsa

Baca juga: Polres Kotim musnahkan 947 gram sabu

Baca juga: DPKP Kotim temukan dua merek beras fortifikasi bermasalah beredar di Sampit

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.