Kabupaten Bogor (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memetakan potensi wilayah yang dapat dikembangkan menjadi sentra produksi bawang putih.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika di Cibinong, Kamis, mengatakan pemetaan diperlukan karena budidaya bawang putih membutuhkan karakteristik wilayah tertentu, terutama kawasan dengan ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
"Bawang putih itu di Kabupaten Bogor tidak masalah, kecuali bawang putih mempunyai karakter tersendiri kaitan dengan lokasi yang harus di ketinggian kurang lebih 800 mdpl. Betul-betul di area pegunungan. Kalau bawang merah bisa di mana saja," kata Ajat.
Menurut dia, Pemkab Bogor bersama BRIN akan mengkaji sejumlah aspek sebelum menentukan wilayah pengembangan, mulai dari kondisi iklim dan cuaca, kesesuaian tanah, hingga lokasi yang mendukung budidaya bawang putih.
Kajian tersebut juga akan memetakan status kepemilikan lahan potensial, baik yang merupakan aset pemerintah daerah, lahan PTPN, maupun milik masyarakat.
"Kita ingin produksi bawang merah dan bawang putih di Kabupaten Bogor. Harapannya dari sisi produksi, pembibitan dan lainnya muncul analisa iklim, analisa cuaca, analisa lokasi tanah di mana yang cocok," ujarnya.
Ajat mengungkapkan berdasarkan informasi awal terdapat sekitar 10 kelompok tani dengan luasan lahan sekitar 10 hektare yang berkaitan dengan budidaya bawang di Kabupaten Bogor.
Data awal tersebut, kata dia, akan menjadi salah satu pijakan untuk menyusun pola pengembangan bawang secara lebih sistematis sehingga produksinya tidak dilakukan secara sporadis.
Pemkab Bogor juga mempelajari pengembangan komoditas bawang dari Kabupaten Majalengka yang telah memiliki pengalaman dalam budidaya hingga pengelolaan produksinya.
"Setelah melihat kondisi tadi, tentunya kita ingin tahu praktiknya dari Majalengka. Kita ingin berbagi dan mengetahui cerita suksesnya seperti apa," kata Ajat.
Ia menyebut pengembangan produksi bawang memiliki potensi pasar yang besar karena Kabupaten Bogor memiliki sekitar 6,1 juta penduduk berdasarkan data tunggal ekonomi nasional/Regsosek.
Menurut Ajat, besarnya jumlah penduduk tersebut membuat kebutuhan bawang merah maupun bawang putih tinggi sehingga produksi lokal berpeluang memperkuat ketersediaan pangan daerah.
Pemkab Bogor juga membuka peluang kerja sama dengan Kabupaten Majalengka setelah hasil pemetaan dan kajian menunjukkan lokasi serta skema pengembangan yang dapat diterapkan.
Ajat menegaskan setiap kebijakan pengembangan komoditas tersebut harus didasarkan pada hasil riset agar program yang dijalankan memiliki landasan ilmiah dan dapat diukur.
"Kita berbasis ilmiah, berbasis keilmuan. Pemerintah daerah Insya Allah akan aman. Kalau berbasis intuisi biasanya tidak aman. Ini langkah awal kita bagaimana melakukan loncatan-loncatan," kata Ajat.
Pewarta: M Fikri Setiawan
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.