Tanjungpandan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, bersiaga mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menggelar apel siaga di tengah maraknya kejadian karhutla di wilayah tersebut.
"Kita berkomitmen tetap siaga dalam mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan sebagai tanggung jawab kita bersama," kata Bupati Belitung Djoni Alamsyah Hidayat usai memimpin Apel Siaga Karhutla Kabupaten Belitung di Halaman Gedung Nasional, Selasa.
Menurut dia, langkah tersebut merupakan antisipasi mencegah ataupun penanganan cepat kejadian karhutla, menjaga kawasan hutan tetap lestari serta menjaga masyarakat dalam kondisi sehat dari ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang disebabkan dari polusi udara akibat kebakaran hutan di Kabupaten Belitung.
"Kita terus tingkatkan partisipasi sesuai dengan porsi, peran, dan kapasitas masing-masing," katanya.
Ia mengajak seluruh pihak di daerah itu untuk bersatu dan saling bahu-membahu dalam mengendalikan ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Bupati Belitung juga mengapresiasi tinggi dedikasi seluruh aparat dan relawan yang selama ini berada di garis terdepan penanganan karhutla.
"Secara pribadi dan atas nama Pemerintah Kabupaten Belitung, saya ingin menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para petugas, baik BPBD, pemadam kebakaran, TNI/Polri, Manggala Agni, Satpol PP, pemerintah kecamatan dan desa, serta para relawan yang telah bekerja keras di lapangan," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Djoni Alamsyah memaparkan 10 pedoman penting dalam menghadapi ancaman karhutla di Kabupaten Belitung.
Pertama, ia meminta seluruh pihak mengutamakan langkah pencegahan melalui edukasi, sosialisasi, serta pengawasan secara terus-menerus, terutama di daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Kedua, penguatan deteksi dini perlu ditingkatkan agar setiap informasi mengenai keberadaan asap maupun titik api langsung ditindaklanjuti tanpa menunggu kondisi membesar. Ketiga, setiap pergerakan personel di lapangan harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Ia menegaskan sektor pencegahan pada aspek perilaku masyarakat juga menjadi sorotan utama.
Ia melarang keras praktik pembakaran lahan secara sembarangan karena berisiko memicu karhutla.
"Saya mengingatkan masyarakat dan seluruh pihak untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar yang dapat menimbulkan risiko kebakaran," katanya.
Selanjutnya, kata dia, pentingnya melibatkan masyarakat lokal sebagai pengawas di lapangan. Masyarakat merupakan mata dan telinga pemerintah yang efektif dalam mengawasi lingkungan.
Langkah keenam adalah kesiapan seluruh personel dan peralatan, serta sarana prasarana penanganan yang harus selalu berada dalam kondisi siap pakai.
Ia juga menyoroti keselamatan para petugas pemadam kebakaran.
Djoni secara khusus berpesan agar seluruh petugas di lapangan bertindak secara profesional dan memprioritaskan keselamatan diri saat menjalankan tugas menangani karhutla.
Pedoman kedelapan, adalah upaya perlindungan kesehatan masyarakat dari bahaya paparan kabut asap.
"Poin kesembilan menekankan pentingnya penguatan pelaporan serta komunikasi publik agar informasi kejadian karhutla disampaikan secara cepat, akurat, dan transparan. Sementara poin kesepuluh mewajibkan kesiapsiagaan langkah evakuasi pada setiap insiden yang membahayakan," ujarnya.
Kepala BPBD Belitung Zainal Harison mengatakan jumlah kasus Karhutla di Belitung hingga September sebanyak 305 kasus dengan lahan terdampak seluas 4422,03 hektare.
Pewarta: Kasmono/Apriliansyah
Editor : Feny Aprianti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.