Pemkab Bantul sebut surplus padi capai 100 ribu ton tahun ini
Senin, 3 Agustus 2026 18:23 WIB
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul Joko Waliyo menghadiri kegiatan pertanian di Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (2/8/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso
Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menyebutkan surplus produksi padi bakal mencapai 100 ribu ton pada tahun 2026.
Kepala DKPP Bantul Joko Waliyo di Bantul, Senin, mengatakan jumlah tersebut didasarkan pada capaian tahun 2025 yang mampu mencatat surplus sekitar 70 ribu ton dengan luas tanam padi sekitar 34 ribu hektare.
"Nah target luas tanam padi tahun 2026 kan 35 ribu hektare, harapannya bisa surplus 100 ribu ton beras," katanya.
Menurut Joko, luas tanam padi di Bantul mulai mencetak rekor pada 2025 dengan mencapai sekitar 32 ribu hektare, yang merupakan angka tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Selama ini, luas tanam padi di Bantul paling tinggi 32 ribu hektare," ujarnya.
Ia optimistis target tersebut dapat tercapai mengingat realisasi luas tanam hingga semester I 2026 dinilai cukup tinggi.
"Di pertengahan tahun kemarin di semester I sudah cukup tinggi walaupun saya lupa angkanya, tapi harapan kami di akhir tahun tercapai," katanya.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, Joko mengimbau petani memperpendek jeda tanam setelah panen sehingga intensitas tanam dapat meningkat.
"Jarak yang biasanya setelah panen itu tanam padinya sebulan kemudian, dapat diperpendek jadi 15 sampai 20 hari," ujarnya.
Di sisi lain, Joko melihat adanya tren penurunan konsumsi beras masyarakat Bantul yang diperkirakan dipengaruhi perubahan pola konsumsi, termasuk beralih ke sumber karbohidrat alternatif seperti umbi-umbian.
"Dulu konsumsi beras 84 kg per kapita per tahun, tapi sekarang 62,54 kg per kapita per tahun," katanya.
Menurut dia, umbi-umbian dan sumber karbohidrat alternatif seperti sorgum mulai menjadi pilihan sebagian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
"Mungkin faktornya juga ada yang mengurangi karena diabetes, ada juga yang mulai beralih ke umbi-umbian," ujarnya.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026