Elephants

Pembiayaan emas BSI tumbuh 80,52 persen capai Rp30,48 triliun per Juni

August 21, 2026
kombinasi antara yield yang baik dengan kualitas yang bisa kita jaga pada pembiayaan berbasis emas, ini menjadi salah satu keunggulan dari BSI

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mengungkapkan bahwa pembiayaan pada segmen bisnis emas (gold business) mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhir Juni 2026, yakni sebesar 80,52 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp30,48 triliun.

Perkembangan tersebut terdiri dari gadai emas yang sebesar Rp13,48 triliun (tumbuh 72,96 persen yoy) serta cicil emas Rp17 triliun (tumbuh 87,01 persen yoy).

Direktur Risk Management BSI Grandhis Helmi Harumansyah dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, menyampaikan bahwa rasio NPF gold business terjaga dengan baik sebesar 0,11 persen dengan imbal hasil (yield) sebesar 12,45 persen per Juni 2026.

“Dapat kami sampaikan bahwa kombinasi antara yield yang baik dengan kualitas yang bisa kita jaga pada pembiayaan berbasis emas, ini menjadi salah satu keunggulan dari BSI dibandingkan dengan kompetitor-kompetitor lain yang berada di industri yang sama,” kata Grandhis.

Secara keseluruhan, total pembiayaan BSI hingga akhir kuartal II 2026 mencapai Rp340 triliun atau tumbuh 15,98 persen (yoy), dengan pembiayaan segmen consumer, gold dan card tumbuh 16,70 persen (yoy) mencapai Rp189,28 triliun.

Grandhis menyampaikan bahwa segmen consumer, gold dan card merupakan penopang dari pembiayaan BSI dengan porsi sebesar 55,65 persen dari total pembiayaan.

Baca juga: BSI kantongi laba Rp4,16 T hingga kuartal II 2026, tumbuh 11,08 persen

Baca juga: Airlangga minta 20 persen emas "bawah bantal" masuk ekosistem bulion

Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan bahwa produk emas terus menunjukkan progres yang sangat baik yang ditandai dengan peningkatan jumlah nasabah terkait produk ini.

Lebih rinci, nasabah tabungan emas menyentuh lebih dari 1,2 juta orang, gadai emas lebih dari 200 ribu orang, dan cicil emas telah mencapai 600 ribu orang.

Adapun total nasabah BSI per akhir Juni 2026 mencapai 24,3 juta nasabah, bertambah 1,1 juta sepanjang semester I 2026.

“Jadi tentu ini hal yang paling penting buat kita di Bank Syariah Indonesia bahwa kehadiran kami memang benar-benar diminati oleh masyarakat yang dibuktikan dengan jumlah nasabah yang terus tumbuh dan berkembang setiap kuartalnya,” kata Ade Cahyo.

Perseroan juga mencatat kinerja positif dari sisi fee based income yang mencapai Rp4,06 triliun atau tumbuh sekitar 38,15 persen (yoy).

Capaian fee based income perseroan utamanya ditopang oleh gold business yang mencatatkan fee based income sebesar Rp1,3 triliun atau tumbuh 92,45 persen (yoy).

“Pertumbuhan fee based income BSI yang sangat agresif membuat pertama kalinya BSI bisa memiliki rasio fee based income mencapai 22,54 persen,” kata Ade Cahyo.

Ia mengatakan bahwa performa fee based income perseroan menjadi sangat penting di tengah situasi likuiditas yang ketat yang berpotensi menekan margin perbankan.

“Sehingga kami beruntung dengan nasabah yang banyak, produk-produk yang unik khas syariah maupun produk emas, BSI bisa mendapatkan sumber revenue yang non-margin atau non-bunga kalau di konvensional, yang berasal daripada fee-based income,” kata Ade Cahyo.

Baca juga: Kemnaker-BSI kerja sama untuk perkuat ekosistem ketenagakerjaan

Baca juga: BSI perkenalkan kartu pembiayaan Hasanah KKI Card berbasis GPN

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.