Bagikan:
JAKARTA - Ketua DPR Puan Maharani menyoroti isu perundungan atau bullying di balik kasus peledakan bom rakitan oleh seorang siswa di Kota Padang, Sumatera Barat.
Pelaku diketahui melakukan aksinya karena kesal setelah menjadi korban bullying atau perundungan teman-temannya.
“Tentunya peristiwa peledakan bom rakitan di sekolah di Padang sangat kita sesalkan. Namun dalam kasus ini, perlu dilihat akar persoalan mengapa anak yang dimaksud nekat melakukan perbuatan tersebut,” ujar Puan, Kamis, 16 Juli.
Puan pun meminta sekolah dan instansi-instansi terkait untuk membantu pemulihan mental korban. "Apa yang dilakukan korban memang tidak bisa dibenarkan. Tapi seringkali persoalan psikologis membawa dampak sehingga pemulihan mental korban harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Menurut Puan, peristiwa ledakan bom rakitan di lingkungan MAN 3 Padang menjadi peringatan serius karakter persoalan remaja Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat mendasar.
Puan menyebut, tindakan R dengan dugaan perundungan yang berkepanjangan serta kemudahan memperoleh informasi mengenai perakitan bahan peledak melalui internet menunjukkan berbagai persoalan yang selama ini dipandang sebagai kenakalan remaja telah berkembang menjadi perilaku berisiko tinggi (high-risk behavior) yang dapat mengancam keselamatan banyak orang.
“Perubahan tersebut harus menjadi alarm nasional bahwa sistem perlindungan anak Indonesia perlu segera beradaptasi dengan tantangan baru di era digital,” ungkap Puan.
Mantan Menko PMK ini mengingatkan pentingnya lingkungan pendidikan memastikan anak memperoleh perlindungan yang layak. Meski pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, Puan menegaskan pentingnya satuan pendidikan memastikan keamanan dan kenyamanan anak selama belajar.
“Iklim pendidikan juga harus mendapat perhatian di mana satuan pendidikan harus bisa memastikan anak mendapatkan ruang sekolah aman dan lingkungan pendidikan yang sehat. Termasuk memastikan anak terbebas dari perundungan. Sementara orangtua juga perlu melakukan pengawasan dan memperkuat ketahanan keluarga di rumah,” kata Puan.
Kemudian untuk pemerintah, Puan mengatakan penanganan kenakalan remaja harus diselesaikan secara komprehensif melalui berbagai pendekatan.
f“Karena persoalan kenakalan remaja tidak cukup ditangani hanya melalui pendekatan disiplin sekolah atau penegakan hukum setelah suatu peristiwa terjadi. Negara perlu mengubah paradigma kebijakan dari penanganan kasus menjadi pencegahan berbasis deteksi dini,” kata Puan.
Seperti diketahui, kasus peledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang yang terjadi pada Selasa, 14 Juli menggegerkan publik. Pelaku merupakan pelajar berinisial R (17) yang merupakan siswa sekolah itu.
R membawa 3 bom rakitannya sendiri, namun hanya 1 yang meledak di depan salah satu kelas saat kegiatan belajar mengajar. Beruntung tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Polisi mengatakan R merupakan korban perundungan yang dilakukan teman-temannya sehingga mengalami masalah psikologis.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+