Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:05 WIB
VIVA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis, tetapi juga menciptakan peluang kerja baru dengan bayaran yang sangat tinggi. Menariknya, pekerja dari generasi muda justru terlihat cukup kuat dalam memanfaatkan peluang tersebut.
Baca Juga
Temuan terbaru LinkedIn menunjukkan, Gen Z dan milenial mulai mengisi sejumlah posisi yang paling dibutuhkan dalam industri AI. Hal ini menjadi menarik, karena pasar kerja secara umum justru masih cukup menantang bagi pekerja muda, terutama mereka yang baru menyelesaikan pendidikan dan mencari pekerjaan pertama.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam studi terbarunya, LinkedIn mengidentifikasi 12 pekerjaan AI yang mengalami pertumbuhan paling cepat. Analisis tersebut menggunakan data dari platform LinkedIn, termasuk informasi mengenai usia, jenis kelamin, pendidikan, dan latar belakang pekerja yang direkrut.
Baca Juga
Kory Kantenga, Head of Economics, Americas di LinkedIn, mengatakan, kondisi pasar kerja bagi Gen Z memang tidak mudah. Namun, sektor AI memberikan gambaran yang berbeda. Pekerja muda justru terlihat mendapatkan keuntungan dari meningkatnya permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja yang memiliki keterampilan di bidang tersebut.
“Melihat mereka memanfaatkan pasar kerja AI dengan cara yang begitu kuat merupakan sesuatu yang mengejutkan,” kata Kantenga, sebagaimana dikutip dari CNBC, Rabu, 19 Agustus 2026.
Baca Juga
Gen Z bahkan mencakup lebih dari dua pertiga pekerja yang direkrut untuk dua posisi individu kontributor yang sedang banyak dicari, yaitu forward deployed engineer dan AI engineer. Posisi forward deployed engineer memiliki gaji median tahunan US$199.000 atau sekitar Rp3,54 miliar. Sementara itu, AI engineer menawarkan gaji median US$166.000 atau sekitar Rp2,95 miliar per tahun.
Gaji pekerjaan AI bisa tembus Rp4,2 miliar
Bukan hanya Gen Z yang mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan industri AI. Kelompok milenial juga cukup dominan, khususnya pada posisi dengan tanggung jawab kepemimpinan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sekitar 60 persen pekerja baru yang direkrut untuk posisi head of AI merupakan milenial. Jabatan tersebut menawarkan gaji median US$236.000 per tahun atau sekitar Rp4,20 miliar.
Besarnya angka tersebut menunjukkan betapa tingginya nilai tenaga kerja dengan keahlian AI bagi perusahaan. Sebagai pembanding, gaji median tahunan pekerja berusia 25 hingga 34 tahun pada kuartal kedua 2026 mencapai US$60.320 atau sekitar Rp1,07 miliar.
Halaman Selanjutnya
Untuk kelompok usia 35 hingga 44 tahun, gaji median mencapai US$74.672 atau sekitar Rp1,33 miliar. Sementara itu, berdasarkan analisis LinkedIn terhadap data gaji dalam lowongan pekerjaan, gaji median pekerjaan AI secara keseluruhan mencapai US$177.000 atau sekitar Rp3,15 miliar per tahun.