Temuan itu menunjukkan fungsi kredit digital yang lebih luas. Ketika pendapatan rumah tangga atau omzet usaha terganggu, kebutuhan tidak serta-merta berhenti. Pembiayaan dapat menjadi jembatan antara kebutuhan yang muncul saat ini dan pendapatan yang baru diterima kemudian.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI Paksi Walandouw mengatakan fungsi tersebut menjadi penting untuk melihat kredit digital tidak hanya dari sisi pertumbuhan industri.
“Yang kita inginkan adalah pembiayaan, baik Kredivo itu ketika ekonomi baik biar bisa membantu UMKM dan ekonomi, tapi ketika ekonomi buruk dia juga bisa menjadi buffer yang baik untuk masyarakat," ujar Paksi dalam acara peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Baca Juga: Tidak Hanya Sediakan Fasilitas Networking, Bank Saqu Siapkan Kredit untuk Solopreneur Mulai dari Rp30 Juta
Baca Juga: Kualitas Kredit Solid, KRI Ganjar Peringkat Double A untuk Surat Utang Indah Kiat
Kredit Digital Tak Hanya Dibutuhkan Saat Ekonomi Tumbuh
Dalam kondisi ekonomi yang tumbuh, kredit umumnya dilihat sebagai sumber pembiayaan untuk memperbesar aktivitas ekonomi. Masyarakat dapat menggunakannya untuk membeli barang, sementara pelaku usaha dapat memanfaatkannya sebagai modal kerja atau ekspansi.
Fungsi tersebut berubah ketika perekonomian menghadapi tekanan.
Ketika pendapatan menurun, omzet usaha melemah, atau kebutuhan mendesak muncul secara tiba-tiba, masyarakat tetap membutuhkan makanan, layanan kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga. Pelaku UMKM juga tetap harus membayar biaya operasional meskipun pemasukan tidak selalu stabil.
Dalam situasi seperti itu, akses pembiayaan dapat berfungsi sebagai buffer atau penyangga.
Artinya, kredit menjadi jembatan sementara agar kebutuhan atau kegiatan ekonomi tidak langsung terhenti hanya karena terjadi ketidaksesuaian waktu antara pemasukan dan pengeluaran.
Studi LD FEB UI dan Kredivo menunjukkan bahwa fungsi tersebut bukan hanya kemungkinan teoritis. Pengalaman pengguna selama pandemi memperlihatkan bahwa pembiayaan digital tetap digunakan ketika aktivitas ekonomi menghadapi gangguan besar.
Pengalaman Covid Menunjukkan Fungsi Paylater Saat Krisis
Pandemi Covid-19 menjadi contoh paling jelas ketika fungsi kredit sebagai penyangga diuji.
Mobilitas masyarakat terbatas, aktivitas bisnis terganggu, dan sebagian rumah tangga maupun pelaku usaha menghadapi ketidakpastian pendapatan. Meski demikian, kebutuhan finansial tetap muncul.
Dalam studi tersebut, 92% pengguna menyatakan menggunakan Kredivo selama masa Covid-19. Sebanyak 85% pengguna menilai pembiayaan tersebut berguna selama masa krisis.
Angka itu penting karena memperlihatkan bahwa permintaan terhadap pembiayaan tidak hanya muncul ketika masyarakat memiliki optimisme ekonomi.
Justru ketika kondisi memburuk, akses terhadap likuiditas dapat menjadi semakin relevan.
Bagi rumah tangga, pembiayaan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Bagi pelaku usaha, pembiayaan dapat membantu menjaga aktivitas ketika penerimaan dan pengeluaran tidak lagi berjalan dalam ritme normal.
Dengan demikian, kredit digital dapat memiliki dua fungsi yang berbeda. Pada masa ekspansi, kredit berperan sebagai accelerator. Ketika terjadi tekanan, kredit dapat berperan sebagai buffer.
Bagaimana Kredit Bisa Menjadi Penyangga Ekonomi?
Mekanismenya sebenarnya cukup sederhana.
Bayangkan sebuah usaha mikro mengalami penurunan omzet selama beberapa minggu. Biaya operasional seperti pembelian bahan baku atau kebutuhan usaha tetap berjalan, sementara pembayaran dari pelanggan belum seluruhnya masuk.
Jika pelaku usaha memiliki akses pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan membayar, kredit dapat digunakan untuk menjembatani kekurangan arus kas tersebut.
Alurnya menjadi:
pembiayaan → modal kerja → operasional tetap berjalan → transaksi berlangsung → omzet masuk → kewajiban dibayar.
Kredit dalam skenario tersebut bukan berarti menciptakan pendapatan baru secara otomatis. Fungsinya lebih sebagai jembatan agar gangguan sementara terhadap arus kas tidak langsung menghentikan kegiatan usaha.
Hal serupa dapat terjadi pada rumah tangga. Ketika terdapat kebutuhan mendesak sementara pendapatan belum tersedia, pembiayaan dapat membantu mengatasi ketidaksesuaian waktu tersebut.
Namun, fungsi sebagai buffer hanya masuk akal apabila jumlah pembiayaan masih berada dalam kemampuan membayar.
Lebih dari Separuh Kredit Digunakan untuk Kebutuhan Produktif
Fungsi penyangga juga berkaitan dengan bagaimana kredit digunakan.
Studi LD FEB UI bersama Kredivo mencatat sekitar 54,3% kredit pada 2025 digunakan untuk kebutuhan produktif. Kategorinya mencakup modal usaha, pendidikan, renovasi rumah, hingga kesehatan. Temuan sekitar 54% penggunaan produktif ini juga diberitakan dalam laporan terbaru mengenai studi tersebut.
Penggunaan untuk modal usaha bahkan meningkat sekitar 15 kali lipat dibandingkan periode awal pengukuran.
Data tersebut memberikan konteks penting. Kredit digital tidak seluruhnya berhenti pada pembelian barang konsumsi. Sebagian pembiayaan masuk ke kebutuhan yang dapat mempertahankan atau meningkatkan kapasitas ekonomi seseorang.
Bagi UMKM, modal usaha dapat berarti kemampuan membeli bahan baku, mempertahankan persediaan, atau membiayai kebutuhan operasional ketika arus kas sedang tertekan.
Karakter penggunaan tersebut membuat fungsi kredit sebagai penyangga menjadi lebih terlihat.
UMKM Mikro Punya Peran Besar
Dampak pembiayaan juga terlihat dari karakter pelaku usaha yang menggunakannya.
Sebanyak 96,9% peminjam modal usaha dalam studi tersebut merupakan usaha mikro. Artinya, kelompok usaha dengan skala paling kecil justru menjadi bagian terbesar dari pengguna pembiayaan untuk kebutuhan bisnis.
Sekitar 40,6% pelaku UMKM yang meminjam untuk modal usaha memperoleh akses kredit usaha formal pertamanya melalui Kredivo.
Bagi pelaku usaha mikro, akses semacam ini memiliki arti lebih besar daripada sekadar memperoleh dana.
Usaha kecil sering kali memiliki keterbatasan aset, pencatatan keuangan, dan hubungan dengan lembaga keuangan formal. Ketika akses pembiayaan formal terbuka, pelaku usaha memiliki peluang untuk membangun rekam jejak finansial sekaligus memperoleh sumber modal yang sebelumnya sulit dijangkau.
Studi tersebut juga mencatat 34% peminjam modal usaha mengalami kenaikan omzet sekitar 10–40%.
Angka ini tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa kredit secara otomatis menyebabkan omzet meningkat. Kinerja usaha dipengaruhi banyak faktor, mulai dari permintaan, harga, strategi penjualan, hingga kondisi ekonomi. Namun, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara akses pembiayaan dengan kemampuan sebagian pelaku usaha meningkatkan aktivitas bisnis.
Kredit Pertama Bisa Menjadi Pintu Masuk ke Sistem Keuangan Formal
Fungsi penyangga kredit digital juga tidak berhenti pada transaksi pertama.
Studi tersebut mencatat akses kredit pertama melalui Kredivo meningkat sekitar 10 kali lipat sejak 2019. Pada 2025, sekitar satu dari enam pengguna aktif merupakan orang yang pertama kali mengakses kredit.
Komposisinya juga menunjukkan kelompok pengguna yang relatif luas. Sebanyak 48% pengguna kredit pertama merupakan perempuan, sedangkan 57% berusia di bawah 30 tahun.
Bagi pengguna yang sebelumnya belum memiliki akses kredit formal, transaksi tersebut dapat menjadi awal terbentuknya rekam jejak keuangan.
Paksi menjelaskan:
“Ketika dia masuk kredit, berarti dia punya namanya digital footprint. Nah ini berarti dia mulai masuk pelan-pelan membangun reputasinya di financial.”
Digital footprint tersebut dapat menjadi bagian dari reputasi finansial seseorang. Dalam studi yang sama, 23% pengguna menyatakan akses terhadap Kredivo membuat mereka lebih mudah memperoleh kredit formal lainnya.
Artinya, fungsi kredit digital sebagai buffer tidak hanya terkait dengan kemampuan memperoleh dana ketika kebutuhan muncul. Akses pertama juga dapat menjadi pintu menuju sistem keuangan formal yang lebih luas.
Namun, Kredit Bukan Solusi Otomatis Saat Krisis
Di sinilah sisi kritis dari fungsi kredit sebagai penyangga perlu diperhatikan.
Kredit tetap merupakan kewajiban yang harus dibayar. Ketika ekonomi memburuk dan pendapatan seseorang turun, kemampuan membayar utang juga dapat ikut tertekan.
Karena itu, menyebut kredit sebagai buffer bukan berarti mendorong masyarakat menambah utang setiap kali menghadapi kesulitan finansial.
Justru sebaliknya, manfaat kredit sebagai penyangga sangat bergantung pada kemampuan pengguna menghitung kapasitas pembayaran.
Studi LD FEB UI mencatat rata-rata Debt-to-Income Ratio (DTI) pengguna berada di kisaran 10–19%. Secara sederhana, DTI menunjukkan seberapa besar bagian pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kewajiban utang.
Angka tersebut menjadi salah satu konteks untuk melihat kemampuan pembayaran pengguna dalam studi. Namun, kondisi setiap individu tetap berbeda sehingga rasio utang tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keamanan finansial.
Pengguna tetap perlu mempertimbangkan pendapatan, pengeluaran rutin, stabilitas pekerjaan atau usaha, serta tujuan mengambil kredit.
Dengan kata lain, buffer yang sehat bukanlah utang sebesar-besarnya, melainkan akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan membayar.
Ketika Ekonomi Melemah, Akses Bisa Sama Pentingnya dengan Besaran Kredit
Perspektif tersebut membuat pembahasan kredit digital bergeser dari sekadar pertanyaan tentang berapa besar limit yang tersedia.
Dalam situasi ekonomi penuh ketidakpastian, akses terhadap pembiayaan formal juga dapat menjadi aset finansial.
Seseorang yang sebelumnya tidak memiliki akses kredit formal mungkin kesulitan mencari sumber dana ketika menghadapi kebutuhan mendesak. Sebaliknya, seseorang yang sudah memiliki rekam jejak pembayaran dapat memiliki pilihan pembiayaan yang lebih luas.
Studi tersebut mencatat 58,7% pengguna yang aktif dan bertransaksi pada 2023 memperoleh peningkatan limit berdasarkan riwayat pembayaran yang disiplin.
Temuan ini memperlihatkan bahwa perilaku pembayaran menjadi bagian penting dalam hubungan antara pengguna dan penyedia kredit.
Kredit sebagai buffer akhirnya bukan hanya persoalan menyediakan dana. Ada ekosistem yang ikut menentukan apakah pembiayaan tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan, mulai dari underwriting, kemampuan membayar, literasi keuangan, hingga rekam jejak kredit.
Dari Penyangga Rumah Tangga ke Aktivitas Ekonomi yang Lebih Luas
Dampak kredit juga tidak berhenti pada pengguna.
Ketika kredit digunakan untuk membeli barang atau jasa, dana tersebut masuk ke merchant. Merchant kemudian membeli barang dari pemasok, membayar tenaga kerja, serta melakukan transaksi lain untuk menjalankan bisnis.
Rantai aktivitas tersebut dapat menghasilkan efek ekonomi yang lebih luas.
Dalam studi LD FEB UI dan Kredivo, kontribusi ekonomi Kredivo pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar Rp33 triliun melalui perhitungan menggunakan model input-output.
Angka tersebut bukan berarti Kredivo secara langsung menyetor Rp33 triliun ke PDB. Angka tersebut merupakan estimasi dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh aktivitas pembiayaan dan transaksi dalam rantai perekonomian.
Sektor yang terdampak antara lain perdagangan dan ritel, perdagangan mobil dan sepeda motor, listrik dan jasa, elektronik, komunikasi, serta berbagai peralatan.
Di sinilah fungsi buffer memiliki dimensi yang lebih luas.
Ketika pembiayaan membantu mempertahankan transaksi pengguna dan aktivitas UMKM, efeknya dapat menjalar ke merchant, pemasok, pekerja, hingga sektor lain yang terhubung.
Kredit Digital sebagai Buffer, Bukan Sekadar Utang
Pada akhirnya, temuan studi LD FEB UI dan Kredivo memperlihatkan bahwa fungsi kredit digital tidak sesederhana hubungan antara orang yang meminjam dan pihak yang memberikan pembiayaan.
Ketika ekonomi tumbuh, kredit dapat membantu mempercepat aktivitas ekonomi melalui konsumsi, modal usaha, dan kebutuhan produktif lainnya.
Ketika ekonomi menghadapi tekanan, fungsi tersebut dapat berubah menjadi penyangga. Kredit dapat membantu sebagian masyarakat memenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditunda, sementara UMKM dapat menggunakannya untuk menjaga arus kas dan operasional.
Pengalaman selama Covid menjadi ilustrasi paling jelas. Sebanyak 92% pengguna menggunakan Kredivo pada periode tersebut dan 85% menilai pembiayaannya berguna.
Namun, fungsi sebagai buffer tetap memiliki batas. Kredit hanya dapat menjadi bantalan jika kewajibannya masih berada dalam kemampuan membayar.
Karena itu, ukuran keberhasilan kredit digital bukan semata-mata seberapa besar nilai pembiayaan yang disalurkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah untuk apa kredit digunakan, siapa yang memperoleh akses, apakah pembiayaan tersebut membantu menjaga aktivitas ekonomi, dan apakah pengguna mampu mengembalikannya secara sehat.
Dengan perspektif tersebut, kredit digital dapat dipahami dalam dua wajah: sebagai akselerator ketika ekonomi tumbuh dan sebagai buffer ketika ekonomi mengalami tekanan.
Baca Juga: Studi Kredivo dan UI: Kredit Digital Bukan Lagi Sekadar PayLater, Jadi Pintu Masuk Kredit Formal bagi Generasi Muda dan UMKM
Baca Juga: Klaim Asuransi Kredit Tembus Rp9,28 Triliun, Hampir Setara Premi
FAQ
1. Apakah kredit digital bisa menjadi penyangga saat krisis?
Bisa, terutama ketika pembiayaan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak atau menjaga arus kas sementara pendapatan terganggu. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada kemampuan pengguna membayar kembali kredit.
2. Bagaimana kredit digital membantu UMKM saat ekonomi melemah?
Kredit dapat digunakan sebagai modal kerja untuk membeli bahan baku, mempertahankan operasional, atau menjembatani ketidaksesuaian antara pengeluaran dan pemasukan usaha.
3. Apa yang dimaksud kredit sebagai buffer?
Buffer berarti penyangga. Dalam konteks kredit, pembiayaan dapat menjadi jembatan sementara ketika kebutuhan finansial muncul sebelum pendapatan atau penerimaan usaha tersedia.
4. Apakah kredit digital aman digunakan saat kondisi ekonomi sulit?
Keamanannya bergantung pada tujuan penggunaan, biaya pembiayaan, jumlah utang, dan kemampuan membayar. Mengambil kredit ketika pendapatan sudah tidak mencukupi justru dapat meningkatkan risiko masalah keuangan.
5. Mengapa kredit produktif penting saat krisis?
Kredit produktif dapat membantu mempertahankan kapasitas ekonomi, misalnya melalui modal usaha, pendidikan, kesehatan, atau kebutuhan yang mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi.
6. Apakah kredit digital otomatis meningkatkan omzet UMKM?
Tidak. Kinerja omzet dipengaruhi banyak faktor. Studi yang dibahas menemukan 34% peminjam modal usaha mengalami kenaikan omzet 10–40%, tetapi temuan tersebut tidak berarti seluruh kenaikan omzet disebabkan oleh kredit.