Elephants

Pasar Mobil Indonesia Tumbuh 20%, Tapi 15 Merek Ini Malah Lesu

September 16, 2026

Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar mobil Indonesia mulai menunjukkan pemulihan sepanjang 2026. Namun, pertumbuhan tersebut belum dirasakan seluruh pabrikan. Di tengah penjualan nasional yang meningkat, sejumlah merek justru mencatatkan penurunan penjualan dibandingkan tahun lalu.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil secara wholesales sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 599.491 unit. Angka ini tumbuh 20,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 499.315 unit.

Kinerja retail juga bergerak positif. Penjualan dari diler ke konsumen mencapai 594.984 unit dalam delapan bulan pertama 2026, naik 13,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 522.160 unit.

Artinya, secara umum pasar otomotif nasional sedang berada dalam tren pertumbuhan. Bahkan pada Agustus 2026 saja, penjualan retail mencapai 83.422 unit, naik 7,7% dibandingkan Juli. Wholesales juga mencapai 81.756 unit atau tumbuh 0,8% secara bulanan.

Namun, jika dibedah berdasarkan merek, gambarnya menjadi berbeda.

Ada sejumlah pabrikan yang justru masih mengalami kontraksi penjualan. Beberapa di antaranya bahkan mencatat penurunan hingga lebih dari 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Honda menjadi salah satu merek besar yang mencatat penurunan cukup dalam. Sepanjang Januari-Agustus 2026, wholesales Honda turun 37,5% secara tahunan, sedangkan retail sales terkoreksi 36%.

Penurunan juga dialami Hyundai. Distribusi dari pabrik ke diler turun 11,1%, sementara penjualan retail susut 15,2%.

Kondisi serupa terjadi pada Chery. Merek asal China tersebut mencatat penurunan wholesales hingga 39,7% dan retail 36,9%.

Padahal, secara keseluruhan merek China sedang menjadi salah satu motor pertumbuhan pasar. Pada Agustus saja, BYD mencatat wholesales 7.870 unit dan retail 6.861 unit, menempatkannya di posisi ketiga pasar nasional untuk kedua kanal tersebut. Jaecoo juga membukukan 3.300 unit pada masing-masing kanal.

Baca Juga: Dulu Dilarang, Kini Trump Persilakan China Bikin Mobil di AS dengan Syarat

Baca Juga: Opsen Pajak Bikin Harga Mobil Makin Mahal, Penjualan di Jateng Sempat Anjlok 30%

Baca Juga: 3 Bulan Berturut-turut Naik, Penjualan Mobil Listrik Mulai Tinggalkan Mobil Bensin?

Dengan demikian, pertumbuhan merek China tidak terjadi secara merata. Ada pemain yang mampu memperbesar volumenya, sementara sebagian lainnya justru mengalami kontraksi.

Denza juga mencatat penurunan cukup tajam. Wholesales merek premium elektrifikasi tersebut turun 54,2%, sedangkan retail sales merosot 52,3%.

Di segmen premium, Lexus mengalami penurunan 18,9% pada wholesales dan 18,8% pada retail. Mercedes-Benz Passenger Car juga terkoreksi masing-masing 19,9% dan 31,1%.

Nissan dan Neta Alami Penurunan Paling Dalam

Beberapa merek mencatat kontraksi yang jauh lebih besar.

Nissan menjadi salah satu yang mengalami penurunan terdalam. Wholesales-nya anjlok 71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada kanal retail, penurunannya mencapai 60,4%.

Neta bahkan mencatat penurunan wholesales 75,1%. Sementara retail sales-nya turun 18,2%.

Data penjualan bulanan juga memperlihatkan Neta belum mencatat wholesales pada Agustus 2026. Selain Neta, Lepas dan Peugeot juga tercatat tidak membukukan wholesales pada bulan tersebut.

Merek lain yang mencatat penurunan pada kedua kanal antara lain Citroen, MINI, Scania, Volkswagen, Subaru, dan Volvo.

Jika dirangkum, berikut merek yang penjualannya turun secara wholesales sekaligus retail sepanjang Januari-Agustus 2026:

Selain daftar tersebut, terdapat merek yang wholesales-nya masih tumbuh tetapi penjualan retail justru turun. Tiga di antaranya adalah Wuling dengan penurunan retail 7,8%, Mercedes-Benz Commercial Vehicle 8,3%, dan Ford 5,8%.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pasar mobil nasional belum berlangsung merata.

Di satu sisi, total penjualan sudah kembali tumbuh dua digit. Di sisi lain, persaingan antarmerek semakin ketat karena konsumen memiliki pilihan yang lebih beragam, terutama dengan agresifnya pemain baru dan merek China.

Perubahan peta persaingan itu juga terlihat dari daftar model terlaris Agustus. BYD Atto 1 bahkan mencatat wholesales 5.560 unit dan berada di posisi kedua, hanya di bawah Daihatsu Gran Max. Jaecoo J5 juga masuk enam besar dengan 3.214 unit.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan pasar nasional belum otomatis berarti semua merek ikut menikmati pertumbuhan. Sebagian pabrikan justru masih harus menghadapi tekanan penjualan ketika pasar secara keseluruhan mulai bergerak naik.