Esha Tri Wahyuni
| 3 September 2026, 16:06 WIB

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi - AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni
AKURAT.CO Jumlah investor pasar modal Indonesia kini telah mencapai 30 juta. Pertumbuhan tersebut ikut mengubah struktur pasar modal sekaligus tantangan yang harus dihadapi regulator.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pertumbuhan jumlah investor membuat pasar modal Indonesia tidak lagi berada pada kondisi yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah investor domestik menjadi salah satu faktor yang membuat karakter pasar modal berubah. Karena itu, OJK kini tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah investor, tetapi juga memastikan investor ritel memiliki pemahaman yang memadai mengenai pasar modal.
"Sekarang dengan 30 jutanya memang PR kita jadi berbeda. Memang kalau kita melihat saat ini dengan berbagai transformasi yang kita lakukan, baik itu terkait transparansi, kemudian peningkatan likuiditas, kemudian enforcement, itu saat ini kita melihat market kita sudah mulai membaik," kata Friderica dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: OJK Dorong UMKM Tak Cuma Andalkan Bank, Bidik Pendanaan Pasar Modal
Friderica menjelaskan kondisi pasar modal Indonesia saat ini berbeda dibandingkan periode ketika jumlah investor domestik masih jauh lebih sedikit.
Saat itu, pasar modal dinilai lebih rentan terhadap perubahan arus modal asing. Ketika investor asing keluar dari pasar, pergerakan pasar dapat menghadapi tekanan yang lebih besar.
Kini, basis investor domestik yang semakin luas menjadi salah satu perubahan penting dalam struktur pasar modal Indonesia.
"Dengan berbagai inisiatif yang kita lakukan, investor domestik kita mulai bertumbuh," ujarnya.
Namun, bertambahnya jumlah investor tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan di pasar modal. OJK melihat peningkatan basis investor perlu diikuti dengan penguatan kualitas dan pemahaman masyarakat terhadap investasi.
Friderica mengatakan investor ritel perlu mendapatkan pendampingan agar tidak hanya masuk ke pasar modal, tetapi juga mampu memahami instrumen investasi yang dipilih.
"Investor ritel ini memang perlu kita dampingi supaya mereka juga teredukasi, mereka masuk ke market, tahu memilih saham-saham yang baik, dan sebagainya. Ini pekerjaan kita semua," katanya.
Di tengah perubahan struktur investor tersebut, OJK juga melihat perkembangan pasar saham mulai menunjukkan perbaikan.
Friderica mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai mengalami pemulihan setelah melalui dinamika pasar sejak awal tahun.
"Kita lihat IHSG kita sekarang sudah mulai rebound," ujarnya.
Menurut Friderica, pergerakan pasar modal saat ini tidak dapat hanya dilihat dari posisi indeks dibandingkan kondisi sebelumnya.
Baca Juga: Kejar Ekonomi Tumbuh 6 Persen, OJK Dorong Reformasi Pasar Modal
Berbagai perubahan yang dilakukan regulator juga menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas pasar.
"Walaupun kita melihat saat ini kalau melihat dari awal tahun, kita tidak usah berharap bisa kembali seperti sebelumnya karena banyak sekali perbaikan yang kita lakukan," katanya.
OJK sebelumnya telah melakukan berbagai transformasi di pasar modal, antara lain melalui peningkatan transparansi, penguatan likuiditas, serta penegakan aturan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya regulator memperbaiki kualitas pasar ketika jumlah investor domestik terus bertambah.
Dengan basis investor yang semakin besar, kebutuhan terhadap informasi yang transparan dan penegakan aturan menjadi semakin penting.
Investor ritel juga membutuhkan informasi dan pemahaman yang memadai agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada tren pasar.
Friderica menegaskan peningkatan jumlah investor harus berjalan bersama dengan proses edukasi.
Pertumbuhan investor, menurutnya, bukan hanya soal mencatat semakin banyak masyarakat yang masuk ke pasar modal. Tantangan berikutnya adalah memastikan investor memahami risiko, mengenali instrumen investasi, serta mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
"Investor ritel ini memang perlu kita dampingi supaya mereka juga teredukasi," kata Friderica.
Dengan jumlah investor yang telah mencapai 30 juta, OJK kini menghadapi tantangan pasar modal yang berbeda. Penguatan basis investor domestik perlu berjalan beriringan dengan peningkatan transparansi, likuiditas, penegakan aturan, dan edukasi investor.
Perubahan tersebut menjadi penting untuk menjaga agar pertumbuhan jumlah investor tidak hanya memperluas partisipasi masyarakat di pasar modal, tetapi juga meningkatkan kualitas ekosistem investasi di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






