Kuningan (ANTARA) - Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon membuka akses keuangan inklusif bagi masyarakat di Desa Wisata Jagara Kuningan, Jawa Barat, untuk mendukung pengembangan potensi pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta perikanan.
Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib di Kuningan, Selasa, mengatakan Jagara dipilih sebagai salah satu desa ekosistem keuangan inklusif (EKI) karena memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, tetapi akses masyarakat terhadap layanan keuangan masih perlu diperluas.
“Potensi wisata, UMKM, dan perikanan di Jagara cukup besar, sehingga kami ingin memastikan masyarakat mendapatkan akses keuangan yang sesuai dengan kebutuhan usahanya,” katanya.
Menurut dia, sektor perikanan menjadi salah satu sasaran karena terdapat sekitar 230 warga yang menjalankan usaha budidaya ikan, namun baru sekitar 23 pelaku usaha yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Agus mengatakan OJK mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai lembaga jasa keuangan, seperti bank umum, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Pegadaian, Permodalan Nasional Madani (PNM), serta lembaga keuangan mikro untuk membuka pilihan akses pembiayaan.
Selain pembiayaan, OJK menyiapkan layanan Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) dengan mendorong keberadaan agen perbankan di Desa Jagara sehingga masyarakat tidak harus selalu datang ke kantor bank.
“Digitalisasi juga menjadi bagian dari program ini, termasuk penggunaan QRIS untuk transaksi UMKM dan kegiatan ekonomi yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes),” ujarnya.
Pihaknya pun menyiapkan perluasan literasi dan layanan keuangan bagi pelajar melalui pembukaan rekening Simpanan Pelajar (Simpel) di sekolah-sekolah, yang berada di tiga dusun di Desa Jagara.
Sementara itu, Direktur Utama BUMDes Mekarjaya Jagara Sopian mengatakan akses layanan keuangan mulai memberikan perubahan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk dalam transaksi usaha pariwisata yang kini telah menggunakan QRIS.
“Sekarang sekitar 70 persen masyarakat sudah menggunakan layanan perbankan dan keuangan digital. Untuk tiket wisata juga sudah bisa menggunakan QRIS, meskipun pembayaran tunai tetap kami layani,” katanya.
Sopian mengatakan BUMDes Mekarjaya Jagara juga mengelola dan mengoordinasikan sejumlah kegiatan wisata dengan melibatkan masyarakat, mulai dari usaha di kawasan Waduk Darma, Tepi Dago Jagara, Pasar Kreatif, hingga pengembangan Jagara Ecopark.
Menurut dia, pengembangan wisata tersebut telah memberikan dampak terhadap perekonomian desa, dengan 1.076 warga tercatat terlibat langsung dalam kegiatan usaha BUMDes yang berkaitan dengan pariwisata hingga Juni 2026.
“BUMDes ingin potensi wisata ini memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat dan sekaligus menambah pendapatan asli desa,” ujar dia.
Pihaknya telah berkontribusi terhadap pendapatan asli desa (PADes) yang meningkat dari Rp69 juta pada 2023 menjadi Rp128 juta di tahun 2024 dan Rp588 juta pada 2025.
Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.