Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim Iran pernah berupaya membunuh salah satu putranya. Namun, ia tidak memberikan rincian mengenai kapan dan di mana dugaan upaya tersebut terjadi maupun putranya yang menjadi target.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (25/8/2026), pernyataan Netanyahu disampaikan pada Senin, ketika koalisinya tertinggal dalam sejumlah jajak pendapat menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober. Kondisi itu terjadi setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Perang tersebut dimulai dengan serangan gabungan AS dan Israel ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beserta empat anggota keluarganya, termasuk putrinya, Boshra, dan cucu perempuannya yang berusia 14 bulan, Zahra.
Menurut The Jerusalem Post, Netanyahu menyampaikan klaim mengenai dugaan rencana Iran tersebut dalam wawancara melalui telepon dengan Channel 14, media Israel konservatif yang dikenal memberikan pemberitaan yang mendukung pemerintah.
“Ini adalah kasus yang luar biasa. Iran menargetkan salah satu putra saya. Iran mencoba membunuhnya, mencoba membunuh salah satu putra saya,” kata Netanyahu.
Dikaitkan dengan Pengamanan Gadi Eisenkot
Netanyahu menyampaikan klaim tersebut ketika menanggapi laporan bahwa salah satu badan keamanan Israel menolak memberikan pengawalan kepada Gadi Eisenkot, mantan kepala militer yang kini bersaing ketat dengan Netanyahu dalam perebutan posisi perdana menteri menjelang pemilu.
Netanyahu menyatakan dukungannya agar Eisenkot mendapatkan perlindungan sepanjang waktu. Menurutnya, pengamanan tersebut “bukan sebuah kemewahan”.
“Tanpa itu, (orang-orang Iran) akan berhasil,” kata Netanyahu.
Netanyahu memiliki dua putra dan seorang putri. Menurut The Jerusalem Post, kedua putranya serta istrinya mendapat perpanjangan perlindungan pribadi dari otoritas Israel pada Juli.
Putra sulung Netanyahu, Yair, kini berusia 35 tahun. Ia telah menghabiskan waktu cukup lama di Miami, Amerika Serikat, sejak awal 2024. Keberadaannya di sana memicu kontroversi di Israel terkait biaya yang harus ditanggung pembayar pajak untuk pengamanannya.