Elephants

NAZA, Dua Sutradara Israel Ungkap Cara IDF Melancarkan Pembunuhan Massal Sistematis di Gaza |Republika Online

September 11, 2026

REPUBLIKA.CO.ID, VENICE -- Sebuah film dokumenter yang mengekspos militer Israel di belakang pembunuhan massal secara sistematif di Gaza menerima 24 setengah menit aplaus berdiri atau standing ovation di Festival Flim Venice pada Kamis (10/9/2026). Lamanya audiens berdiri sambil bertepuk tangan untuk memberikan apresiasi kepada film berjudul Naza itu menjadi rekor baru di festival di Italia itu.

Menurut laporan Variety dilansir Middle East Eye, NAZA, yang disutradarai oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor, melampaui capaian tahun lalu yang diraih oleh film The Voice of Hind Rajab yang mendapatkan 22 menit standing ovation. The Voice of Hind Rajab juga film bertema konflik di Gaza dengan plot utama pembunuhan seorang bocah Palestina oleh tentara Israel pada Januari 2024.

Tak hanya aplaus, sebagian audiens yang menonton pemutaran NAZA juga mengbarkan bendera Palestina, sementara Abraham dan Szor, yang terlihat emosional, dipeluk oleh eksekutif produser, Jonathan Glazer.

Cerita NAZA berfokus pada mesin birokrasi yang mengizinkan pembunuhan massal menjadi rutinitas, sebuah sistem dari kalkulasi, prosedur, dan eufemisme yang bisa membuat kekejaman tampak sebagai suatu yang bersifat administratif. NAZA dibuat secara rahasia pada malam hari di atas atap-atap Tel Aviv dan menampilkan wawancara 24 tentara Israel, yang sebagian besar dari mereka adalah pejabat intelijen yang mengambil bagian dalam genosida di Gaza.

Menulis di majalah +972 sebelum pemutaran perdana NAZA di Festival Film Venice, Abraham dan Szor mengatakan bahwa film yang mereka buat bertujuan untuk mengekspos sebuah sistem ketimbang pelanggaran yang terisolasi, berfokus pada "perintah, kebijakan dan pola operasi".

Mereka mengatakan, pengakuan para tentara Israel mengantar mereka kepada kesimpulan bahwa pembunuhan massal warga sipil Palestina tidak semata hasil dari sebuah produk dari perang tapi "sebuah perencanaan, kalkulasi, dan aksi yang diniatkan".

Pesawat-pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara di daerah Asqoula, Al-Zaytoun, tenggara Kota Gaza, Kamis (14/8/2025).

Sang sutradara mengatakan mereka mendapatkan pengakuan dari para tentara yang melaksanakan pengintaian, mengasesmen bagaima warga sipil mungkin untuk dibunuh dalam sebuah rumah tertentu, dan menyetujui serangan. Mereka berdua juga mengatakan, pengakuan dari orang-orang pertama itu membuat peristiwa di Gaza sulit untuk dibantah.

Judul film merujuk pada sebuah akronim Ibrani yang artinya "kerusakan tambahan" yang digunakan dalam film untuk menggambarkan perkiraan dari korban sipil yang terbunuh dalam sebuah serangan. Abraham dan Szor mengatakan, bahwa istilah NAZA mengaburkan baik pengetahuan militer atas kematian sipil dan sifat alami dari kampanye serangan itu sendiri.

Merujuk pada sinopsis film, NAZA mendokumentasikan dalam detail "sistem dibalik pembunuhan massal terkalkulasi Israel terhadap warga sipil Palestina di Gaza".

Abraham dan Szor adalah dua dari empat sutradara di balik No Other Land, film yang meraih Oscar untuk kategori Ficer Dokumenter Terbaik pada 2025. NAZA diproduksi oleh The Guardian dan JW Films, dan satu-satunya film dokumentar yang berkompetisi di kategori Singa Emas di Festival Film Venice tahun ini.