Jakarta (ANTARA) - Museum Keris Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, menghadirkan pengalaman baru setelah revitalisasi, mulai dari koleksi keris bernilai sejarah tinggi, tayangan imersif, hingga demonstrasi untuk mengenal proses pembuatan keris.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon meresmikan Museum Keris Indonesia, yang sebelumnya bernama Museum Pusaka, pada Jumat. Menbud menyebut museum tersebut memiliki 6.021 koleksi berupa keris, tombak, pedang, dan sejumlah kecil keramik.
Edukator sekaligus kurator museum, Didik Sudaryanto, mengatakan revitalisasi mengubah tata pamer yang kini berfokus pada koleksi keris.
“Tata pamernya berubah, sebelumnya menyimpan pusaka seluruh Nusantara, ada pedang, tombak, dan lain-lain, sekarang 99 persen keris di sini, dan jumlahnya bertambah, total sekitar 6.000 dari sebelumnya 4.000,” kata Didik.
Baca juga: Terinspirasi Louvre, Menbud bidik museum jadi penggerak ekonomi budaya

Pembaruan juga mencakup vitrin atau lemari pajang koleksi yang kini menggunakan material logam agar lebih awet dan juga modern, tak terkesan seperti museum kuno dari kayu.
Museum juga turut menghadirkan tayangan imersif tentang keris melalui layar videotron untuk memberikan pengalaman edukasi yang lebih menarik dan interaktif dengan pengunjung.
“Misal ada tayangan video dan kerisnya, ketika keris itu ditarik oleh pengunjung akan ada interaksi yang muncul,” Didik menjelaskan.
Baca juga: Menbud resmikan Museum Keris Indonesia usai revitalisasi

Adapun koleksi museum mencakup keris dari berbagai tradisi dan periode. Didik menyebut terdapat koleksi keris awal yang diperkirakan berasal dari rentang abad ke-8 hingga ke-11, serta keris dari tradisi Sunda, Pajajaran, periode Mataram Islam, hingga koleksi kontemporer.
Selain melihat koleksi, pengunjung juga dapat mengenal perawatan keris melalui layanan “jamasan” atau pembersihan keris dan pusaka lainnya.
Didik mengatakan layanan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat, meskipun pelaksanaannya tersedia pada waktu-waktu tertentu. Museum juga menyediakan jasa perbaikan warangka atau sarung keris. Sementara itu, tiket masuk museum tidak dipungut biaya.
Baca juga: Fadli Zon tegaskan keris tetap relevan di zaman modern

Hal menarik lainnya adalah “besalen”, yakni tempat penempaan atau pembuatan keris. Di sini pengunjung dapat menyaksikan secara langsung demonstrasi proses penempaan keris di halaman museum. Didik mengungkap aktivitas ini tengah direncanakan untuk tersedia setiap hari.
Menbud Fadli juga berharap fasilitas tersebut dapat mendukung kegiatan edukasi dan pengenalan keterampilan tradisional perkerisan kepada masyarakat.
Baca juga: Pemkot Surakarta bumikan keris Indonesia melalui kirab pusaka

Ia menyampaikan harapan agar museum ke depan menyediakan layanan sertifikasi keris berbayar bagi masyarakat yang memiliki koleksi pribadi.
“Kita juga harapkan di Museum Keris ini, orang yang mempunyai keris bisa mendapatkan sertifikasi,” kata Fadli.
Menurut Fadli, revitalisasi museum tidak cukup hanya melalui pembenahan fisik, tetapi perlu diikuti penguatan tata kelola, kurasi, riset, dan digitalisasi agar museum berkembang sebagai pusat edukasi dan pelestarian budaya.
Melalui pembaruan fasilitas dan pengembangan kegiatan edukasi, Museum Keris Indonesia diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung, khususnya generasi muda, untuk mengenal sejarah dan kekayaan budaya Indonesia.
Baca juga: Museum Nasional: Pengembalian keris Diponegoro bermakna bagi Indonesia
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.