Ade Irma Suryani | Beautynesia
Senin, 17 Aug 2026 17:30 WIB
Mitos tentang menopause menurut para ahli/Foto: Freepik.com/magnific
Ada begitu banyak mitos atau keyakinan yang berkembang di masyarakat tentang menopause. Alhasil, hal ini sering kali membuat sebagian besar perempuan menjadi takut atau cenderung memiliki pandangan negatif tentang menopause.
Untuk membantu meluruskan kesalahpahaman mengenai menopause, para ahli menjelaskan beberapa mitos yang paling umum tentang perimenopause dan menopause. Melansir dari laman EatingWell, berikut informasi selengkapnya di bawah ini. Simak!
1. Menopause Terjadi pada Usia yang Sama untuk Semua Perempuan

Ilustrasi memegang jam weker/Foto: Freepik.com/stokking
Sangat penting untuk memahami perbedaan antara menopause dan transisi menopause. Menopause merupakan tahap ketika seorang perempuan tidak lagi mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Sementara transisi menopause, yang juga dikenal sebagai perimenopause, adalah periode sebelum menopause yang berlangsung secara bertahap, dan dapat dimulai pada usia yang berbeda-beda.
Meskipun rata-rata usia menopause di Amerika Serikat adalah 52 tahun, namun tidak ada usia pasti yang berlaku bagi semua perempuan. Setiap perempuan dapat mengalami transisi menopause pada waktu yang berbeda.
"Transisi menopause sangat bervariasi dari orang ke orang. Banyak perempuan mulai mengalami gejala perimenopause pada usia 40-an," jelas Sweta Patel, DO, FACOG, dokter kandungan bersertifikat.
2. Tidak Bisa Hamil Selama Perimenopause

Ilustrasi hamil/Foto: Freepik.com/valeria_aksakova
Seiring bertambahnya usia, kesuburan memang menurun. Namun, kehamilan masih mungkin terjadi selama perimenopause.
"Selama seorang perempuan masih mengalami menstruasi, meskipun siklusnya tidak teratur, ovulasi tetap dapat terjadi, sehingga kehamilan masih mungkin terjadi," jelas Patel.
Oleh sebab itu, kontrasepsi tetap diperlukan selama perimenopause jika tidak ingin hamil. Metode kontrasepsi yang mengandalkan perhitungan waktu atau siklus menstruasi juga menjadi kurang dapat diandalkan, karena siklus selama perimenopause cenderung tidak menentu, tambah Patel.
3. Tes Darah Akan Memberitahu Apakah Sedang Mengalami Perimenopause atau Menopause

Ilustrasi memegang sampel darah/Foto: Freepik.com/magnific
Bagi kebanyakan perempuan, tes darah tidak diperlukan untuk mendiagnosis perimenopause atau menopause. Perubahan siklus menstruasi dan munculnya gejala tertentu sudah dapat menjadi tanda yang cukup jelas, terutama pada mereka yang sebelumnya memiliki siklus menstruasi teratur dan tidak menggunakan terapi hormon, IUD hormonal, atau metode lain yang dapat memengaruhi atau menutupi siklus alami.
Nanette Santoro, MD, FACOG, ketua dewan redaksi buku tentang menopause yang diterbitkan oleh American College of Obstetricians and Gynecologists, menjelaskan bahwa menstruasi yang mulai tidak teratur dapat menjadi tanda bahwa seseorang telah memasuki masa transisi menuju menopause.
Namun, tes darah mungkin diperlukan dalam kondisi tertentu. Misalnya, pemeriksaan dapat membantu jika seseorang sudah mengalami menstruasi tidak teratur sejak usia muda tanpa gejala khas menopause, atau jika dokter mencurigai adanya kondisi medis lain yang dapat menyebabkan perubahan pada siklus menstruasi.
4. Menopause Menyebabkan Kenaikan Berat Badan

Ilustrasi berdiri di timbangan/Foto: Freepik.com/jcomp
Menopause sering dianggap sebagai penyebab utama kenaikan berat badan. Terutama ketika kebiasaan yang dulu berhasil menjaga berat badan di usia 30-an tidak lagi memberikan hasil yang sama pada usia 40-an dan 50-an. Perubahan ini dapat membuat seseorang merasa tubuhnya tiba-tiba sulit dikendalikan, kata Jenny Chamblain, MD. Namun, hubungan antara menopause dan kenaikan berat badan sebenarnya lebih kompleks.
Perubahan hormon selama transisi menopause dapat memengaruhi distribusi lemak tubuh, sehingga lemak lebih banyak menumpuk di area perut atau yang sering disebut sebagai "perut menopause". Di sisi lain, proses penuaan juga menyebabkan massa otot berkurang secara bertahap, yang dapat memengaruhi metabolisme. Karena itu, menopause sendiri belum tentu menjadi penyebab utama kenaikan berat badan.
5. Suplemen Ajaib Akan Menyembuhkan Gejala Menopause

Ilustrasi suplemen/Foto: Freepik.com/wayhomestudio
Banyak suplemen dipasarkan khusus untuk perempuan paruh baya, namun tidak ada suplemen yang terbukti dapat menyembuhkan gejala menopause. Menurut Santoro, perempuan paruh baya sering menjadi sasaran pemasaran produk semacam ini. Padahal, suplemen tidak melalui standar pengujian yang sama seperti obat yang disetujui FDA dalam hal keamanan, efektivitas, dan pembuktian klaim manfaatnya.
Elizabeth Ward, MS, RDN, juga menjelaskan, bahwa beberapa produk sebenarnya hanya mengalami apa yang disebut "menowashing". Istilah ini merujuk pada suplemen yang pada dasarnya merupakan produk biasa, tetapi dikemas ulang dan dipasarkan khusus untuk perempuan menopause atau paruh baya. Produk tersebut bahkan sering dijual dengan harga yang lebih mahal.
Demikianlah beberapa mitos seputar menopause menurut para ahli. Semoga informasi di atas dapat bermanfaat.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
Pilihan Redaksi
- 7 Buah yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi saat Perut Kosong
- 3 Minuman Terbaik di Pagi Hari yang Bikin Kulit Sehat
- 5 Makanan Kaya Probiotik yang Mendukung Kesehatan Usus
(ria/ria)
Komentar
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.