REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banjir boleh jadi telah surut. Namun, bagi keluarga-keluarga terdampak di Guo, Kecamatan Kuranji, dan Lubuk Minturun, Kota Padang, berakhirnya hujan tidak serta-merta mengakhiri kesulitan. Setelah air datang, warga masih harus memikirkan makanan, pakaian, air bersih, dan keamanan rumah sebelum dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Kedai di depan rumah Itra Yoni baru dua pekan berdiri kembali ketika banjir menerjang pada Sabtu (10/10/2026). Perempuan berusia 40 tahun itu sebelumnya telah memperbaiki rumah dan tempat usahanya yang rusak akibat banjir pada akhir 2025. Kini, kedainya kembali hanyut, sementara etalase yang baru dibeli ikut rusak.
Bagi Itra, bencana kali ini bukan sekadar membuat rumahnya berantakan. Biaya perbaikan sebelumnya telah menguras keuangan keluarga, sedangkan usaha kecil yang menjadi sumber penghidupan belum sempat benar-benar pulih.
“Alhamdulillah, saya dan keluarga selamat. Untuk makan sehari-hari masih bisa diusahakan, tetapi memperbaiki rumah dan membeli barang yang rusak tidak mudah,” kata Itra.
Kesaksian itu memperlihatkan bahwa selamat dari banjir baru merupakan awal dari perjuangan berikutnya. Rumah harus diperbaiki, peralatan diganti, dan penghidupan dirintis kembali ketika kemampuan ekonomi keluarga masih terbatas.
Jejak banjir juga terlihat di sejumlah permukiman Kota Padang. Material lumpur, bebatuan, dan batang kayu berserakan di sekitar rumah warga, meninggalkan pekerjaan berat bagi keluarga dan petugas yang berupaya memulihkan lingkungan.
Dua Jam yang Terasa Panjang
Di Lubuk Minturun, Liza Febria mengalami saat-saat menegangkan ketika banjir datang. Ia mengaku terjebak sekitar dua jam sebelum akhirnya diselamatkan tim yang datang ke lokasi.
“Ibu terjebak dua jam sampai ada tim sekitar yang menyelamatkan kami untuk bisa keluar dari banjir,” ujarnya.
Liza juga menuturkan bahwa sirene peringatan yang diharapkan memberikan tanda bahaya tidak berbunyi ketika air datang. Pengalaman tersebut menjadi keluhan warga yang memerlukan perhatian pihak terkait, meskipun penyebab tidak berbunyinya sirene belum dapat disimpulkan tanpa pemeriksaan teknis.
Setelah berhasil menyelamatkan diri, warga masih harus menghadapi lumpur dan material yang tertinggal di rumah. Keselamatan dari arus banjir menjadi kelegaan, tetapi pekerjaan pemulihan segera menanti.
Banjir bandang melanda sejumlah wilayah Padang pada Sabtu (10/10). Menurut PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat, hujan lebat sejak sekitar pukul 16.00 WIB turut merusak infrastruktur kelistrikan.
Bagi warga Guo dan Lubuk Minturun, keadaan darurat itu menghadirkan dua kebutuhan sekaligus: bertahan dengan persediaan sehari-hari yang terbatas dan memulihkan fasilitas dasar agar aktivitas rumah tangga dapat berjalan kembali.
Makanan untuk Hari yang Belum Normal
Salah satu respons awal datang melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sumatera Barat. Dalam keterangan tertanggal 11 Oktober, PLN menyebut telah menyalurkan 150 porsi makanan siap saji kepada warga terdampak di Guo, Kuranji.
“Ketika banjir datang dan membuat masyarakat harus menghadapi berbagai keterbatasan, tentu ada banyak hal yang menjadi kekhawatiran, mulai dari kondisi rumah hingga kebutuhan keluarga sehari-hari. Karena itu, kami ingin hadir dan membantu masyarakat. Bantuan makanan siap saji ini merupakan langkah awal yang kami harapkan dapat sedikit meringankan beban warga,” ujar General Manager PLN UID Sumatera Barat Ririn Rachmawardini.
sumber : Antara