Elephants

Merajut asa anak spesial di Kota Arang Sawahlunto

September 17, 2026

Sawahlunto (ANTARA) - Udara sejuk di kawasan pegunungan Kota Sawahlunto, Sumatera Barat mengalir tipis seiring mengikis terik matahari yang perlahan pulang ke peraduannya.

Foto udara kawasan di sekitar Punacak Cemara yang menjadi lokasi budidaya lebah kelulut oleh Kelompok Difabel ABK Mandiri di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (10/9/2026). ANTARA/Fandi Yogari (ANTARA/FANDI YOGARI/FANDI YOGARI)

Di antara rimbun vegetasi hijau, terdengar dengung halus ribuan lebah galo-galo (Trigona sp). Bersama dengan para, sejumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) perlahan namun pasti mendekati sejumlah kotak-kotak kayu yang berisi sarang lebah kelulut atau yang dikenal masyarakat sekitar dengan lebah galo-galo.

Tanpa rasa canggung maupun takut, jemari jemari mereka dengan cermat membuka setiap kantung propolis hitam yang menutupi bagian atas sarang lebah itu untuk memanen cairan manis keemasan.

Seorang anggota kelompok Difabel ABK Mandiri tersenyum saat membuka penutup sarang lebah kelulut yang dibudidayakan di Kawasan Bukit Cemara, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (10/9/2026). ANTARA/Fandi Yogari (ANTARA/FANDI YOGARI/FANDI YOGARI)

Bagi belasan anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Disabilitas ABK Mandiri, aktivitas memanen lebah tanpa sengat (stingless) ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa.

Di situlah ruang komunikasi, rasa kebersamaan, dan rasa saling menguatkan antar sesama penyandang disabilitas tumbuh dan semakin berkembang.

Khairan Alfira Mandha (18), remaja dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), menjadi salah satu anggota kelompok yang berpusat di Desa Saringan, Kecamatan Beringin ini.

Khairan Alfira Mandha bersama orang tuanya memanen madu lebah kelulut yang dibudidayakan di Kawasan Bukit Cemara, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (10/9/2026). ANTARA/Fandi Yogari (ANTARA/FANDI YOGARI/FANDI YOGARI)

Meski diagnosis ADHD membuatnya sulit berkonsentrasi dan hiperaktif, Khairan justru menemukan ketenangan saat berinteraksi dengan lebah.

Kendati proses panen sempat terkendala karena mesin penyedot yang digunakannya kehabisan baterai, tetapi senyum polos tetap memancar dari wajahnya.

Karena pada aktivitas itu, dirinya dan belasan anak spesial tidak lagi diposisikan sebagai sosok yang memerlukan belas kasihan, melainkan penangkar muda yang aktif menjemput kemandirian.

Sejumlah orang tua mendampingi para anak yang tergabung dalam kelompok Difabel ABK Mandiri memanen madu lebah kelulut yang dibudidayakan di Kawasan Bukit Cemara, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (10/9/2026). ANTARA/Fandi Yogari (ANTARA/FANDI YOGARI/FANDI YOGARI)

Gerakan ini diinisiasi pada 2024 ini, berawal dari keprihatinan Delvia Syandra atas minimnya ruang inklusif bagi anak-anak penyandang disabilitas di Kota Arang tersebut.

Keinginan dirinya untuk menyiapkan sebuah wadah bersama, agar anak-anak penyandang disabilitas di Kota Sawahlunto yang kemudian membuat ia merangkul para orang tua lainnya untuk membentuk wadah bersama.

Kini, kelompok tersebut mendampingi 13 anak dengan berbagai kondisi, seperti autisme, down syndrome, ADHD, disleksia, hingga tunagrahita.

Butuh waktu dan kesabaran ekstra selama satu tahun hingga anak-anak memahami alur kerja budidaya secara mandiri.

Sejumlah lebah kelulut (Trigona sp) keluar dari sarang saat anak-anak dari kelompok Difabel ABK Mandiri memanen madu hasil budidaya di Kawasan Bukit Cemara, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (10/9/2026). ANTARA/Fandi Yogari (ANTARA/FANDI YOGARI/FANDI YOGARI)

Fokus utamanya bukan sekadar ekonomi, melainkan membentuk kemandirian jangka panjang agar mereka siap melangkah saat orang tua kelak tiada.

Keberlanjutan program ini didukung penuh oleh PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin (UPO) Sawahlunto dengan memberikan sejumlah koloni tambahan, agar para anak-anak penyandang disabilitas tersebut dapat terus berkembang dalam budidaya.

Ketua Kelompok Difabel ABK Mandiri, Delvia Syandra (kiri) memberikan pemahaman kepada anak penyandang disabilitas terkait manfaat dari lebah kelulut di Kawasan Bukit Cemara, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Kamis (10/9/2026). ANTARA/Fandi Yogari (ANTARA/FANDI YOGARI/FANDI YOGARI)

Dimana, PTBA menilai kegiatan ini menjadi wadah yang positif untuk didukung secara berkelanjutan karena selain budidaya lebah galo-galo memiliki nilai ekonomi kompetitif, kegiatan ini juga aman dan memiliki risiko yang rendah.

Tidak hanya memberikan bantuan koloni dan memperluas titik budi daya ke berbagai kecamatan, tetapi PTBA juga menjamin rantai pasok dan pemasaran hasil panen.

Melalui sinergi ini, tanah Ombilin yang dahulu dikenal dengan batu baranya, kini memancarkan kilau manis keemasan dari kemandirian anak-anak disabilitas.