Sawahlunto (ANTARA) - Udara sejuk di kawasan pegunungan Kota Sawahlunto, Sumatera Barat mengalir tipis seiring mengikis terik matahari yang perlahan pulang ke peraduannya.

Di antara rimbun vegetasi hijau, terdengar dengung halus ribuan lebah galo-galo (Trigona sp). Bersama dengan para, sejumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) perlahan namun pasti mendekati sejumlah kotak-kotak kayu yang berisi sarang lebah kelulut atau yang dikenal masyarakat sekitar dengan lebah galo-galo.
Tanpa rasa canggung maupun takut, jemari jemari mereka dengan cermat membuka setiap kantung propolis hitam yang menutupi bagian atas sarang lebah itu untuk memanen cairan manis keemasan.

Bagi belasan anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Disabilitas ABK Mandiri, aktivitas memanen lebah tanpa sengat (stingless) ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa.
Di situlah ruang komunikasi, rasa kebersamaan, dan rasa saling menguatkan antar sesama penyandang disabilitas tumbuh dan semakin berkembang.
Khairan Alfira Mandha (18), remaja dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), menjadi salah satu anggota kelompok yang berpusat di Desa Saringan, Kecamatan Beringin ini.

Meski diagnosis ADHD membuatnya sulit berkonsentrasi dan hiperaktif, Khairan justru menemukan ketenangan saat berinteraksi dengan lebah.
Kendati proses panen sempat terkendala karena mesin penyedot yang digunakannya kehabisan baterai, tetapi senyum polos tetap memancar dari wajahnya.
Karena pada aktivitas itu, dirinya dan belasan anak spesial tidak lagi diposisikan sebagai sosok yang memerlukan belas kasihan, melainkan penangkar muda yang aktif menjemput kemandirian.

Gerakan ini diinisiasi pada 2024 ini, berawal dari keprihatinan Delvia Syandra atas minimnya ruang inklusif bagi anak-anak penyandang disabilitas di Kota Arang tersebut.
Keinginan dirinya untuk menyiapkan sebuah wadah bersama, agar anak-anak penyandang disabilitas di Kota Sawahlunto yang kemudian membuat ia merangkul para orang tua lainnya untuk membentuk wadah bersama.
Kini, kelompok tersebut mendampingi 13 anak dengan berbagai kondisi, seperti autisme, down syndrome, ADHD, disleksia, hingga tunagrahita.
Butuh waktu dan kesabaran ekstra selama satu tahun hingga anak-anak memahami alur kerja budidaya secara mandiri.

Fokus utamanya bukan sekadar ekonomi, melainkan membentuk kemandirian jangka panjang agar mereka siap melangkah saat orang tua kelak tiada.
Keberlanjutan program ini didukung penuh oleh PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin (UPO) Sawahlunto dengan memberikan sejumlah koloni tambahan, agar para anak-anak penyandang disabilitas tersebut dapat terus berkembang dalam budidaya.

Dimana, PTBA menilai kegiatan ini menjadi wadah yang positif untuk didukung secara berkelanjutan karena selain budidaya lebah galo-galo memiliki nilai ekonomi kompetitif, kegiatan ini juga aman dan memiliki risiko yang rendah.
Tidak hanya memberikan bantuan koloni dan memperluas titik budi daya ke berbagai kecamatan, tetapi PTBA juga menjamin rantai pasok dan pemasaran hasil panen.
Melalui sinergi ini, tanah Ombilin yang dahulu dikenal dengan batu baranya, kini memancarkan kilau manis keemasan dari kemandirian anak-anak disabilitas.