Menteri PPN: Pengembangan singkong di Indonesia miliki prospek besar
Rabu, 5 Agustus 2026 12:20 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy (paling depan, keempat dari kiri) saat meresmikan National Cassava Center di Universitas Lampung, Lampung, Jumat (24/7/2026). ANTARA/HO- (Bappenas)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menyatakan pengembangan singkong di Indonesia memiliki prospek besar.
“Pengembangan singkong memiliki prospek yang besar karena ubi kayu merupakan salah satu komoditas pangan strategis Indonesia,” ucapnya dalam agenda peresmian National Cassava Center di Universitas Lampung, dari keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Dia optimistis Indonesia berpotensi besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan komoditas singkong.
Dengan target produktivitas mencapai 60 ton per hektare, singkong diharapkan menjadi bahan baku strategis yang mampu memperkuat daya saing nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Menurut Rachmat Pambudy, kenaikan harga singkong dari sekitar Rp600–700 per kilogram pada tahun lalu menjadi sekitar Rp2.200 per kilogram saat ini membuka peluang yang semakin besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
"Ini adalah waktu kita untuk memakmurkan petani (singkong) kita," kata Kepala Bappenas.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti besarnya kontribusi Provinsi Lampung terhadap produksi singkong nasional.
Dia menyampaikan ada lebih dari 70 persen produksi singkong nasional berasal dari Lampung. Delapan dari 15 kabupaten di provinsi tersebut menjadi sentra penghasil singkong yang didukung oleh berkembangnya industri tapioka.
“Singkong sudah menjadi tanaman rakyat di Lampung,” ujar Gubernur Rahmat Mirzani.
Seiring kunjungan Menteri PPN untuk meresmikan National Cassava Center, dia mengharapkan keberadaan pusat riset ini mendukung pencapaian ketahanan pangan nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
National Cassava Center Universitas Lampung sendiri dikembangkan sebagai salah satu Center of Excellence untuk memperkuat riset ubi kayu, mengembangkan rantai nilai dari hulu hingga hilir, serta mendorong kolaborasi antara dunia riset, industri, dan pemerintah.
Ke depan, pusat riset ini juga akan menyusun roadmap pengembangan ubi kayu nasional yang berorientasi pasar dan berbasis inovasi.
Rektor Universitas Lampung Lusmeilia Afriani menegaskan komitmen National Cassava Center untuk memastikan hasil riset dan inovasi dapat dirasakan langsung oleh petani melalui berbagai program pendampingan.
"Kami juga punya mobil petani keliling untuk membantu seluruh petani di Provinsi Lampung. Kami ingin memastikan bahwa petani menjadi penerima manfaat utama dari seluruh inovasi yang dikembangkan," ujar Rektor Lusmeilia Afriani.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, industri, dan petani, National Cassava Center diharapkan mampu memperkuat posisi Lampung sebagai pusat pengembangan singkong nasional sekaligus mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan singkong berdaya saing di tingkat internasional.
"Mari kita ciptakan National Cassava Center menjadi International Cassava Center di Universitas Lampung," ucap dia.
Pewarta : M Baqir Idrus Alatas
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026