Menteri PPN ingin "green job" jadi ujung tombak lapangan kerja
Rabu, 2 September 2026 15:35 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy (kanan) saat memberikan dokumen terkait pekerjaan hijau kepada Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu (2/9/2026). ANTARA/ (Muhammad Baqir Idrus Alatas)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menginginkan green job (pekerjaan hijau) menjadi ujung tombak lapangan kerja di masa depan.
“Mengapa saya ingin green job menjadi ujung tombak daripada lapangan kerja di kemudian hari? Kalau kita masih menggunakan kriteria lama dengan lapangan kerja yang tidak hijau, bumi akan makin panas,” ucapnya dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, bumi yang panas akan dampak rentetan terhadap alam. Mulai dari kebakaran hutan, mencairnya es di Kutub Utara dan Kutub Selatan, air muka laut akan naik, hingga pantai dan pulau di pesisir tenggelam.
Karena itu, Kepala Bappenas menegaskan bahwa pekerjaan hijau bukan hanya membuka lapangan kerja baru, melainkan juga menyelamatkan dunia.
Salah satu langkah yang akan dilakukan Bappenas ialah meredefinisi green job sesuai kepentingan Indonesia dan dunia dengan memperhatikan kondisi lingkungan hidup di Tanah Air.
“Green job tidak hanya melahirkan tenaga kerja baru, tapi tenaga kerja yang lebih ramah lingkungan dan tenaga kerja yang seharusnya mendapat reward yang lebih tinggi daripada yang didapat tenaga kerja yang lain,” ujarnya.
“Kalau green job tidak segera kita kembangkan, bukan hanya Indonesia yang susah, tapi dunia juga akan susah,” ungkap Menteri PPN.
Dalam kesempatan tersebut, Rachmat Pambudy juga mengkritisi Economic Complexity Index yang dinilai belum memperhatikan kondisi lingkungan dan green job, sehingga diharapkan dapat menjadi indikator baru indeks mengenai pekerjaan hijau Indonesia.
“Jangan kita didikte negara lain, jangan kita terdikte klasifikasi organisasi lain, sehingga kita seolah-olah buruk,” kata dia.
Pewarta : M Baqir Idrus Alatas
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026