Elephants

Menghidupkan kembali tanah mati Pengabuan

September 21, 2026

Menghidupkan kembali "tanah mati" Pengabuan

Senin, 21 September 2026 10:00 WIB

Image Print

Warga panen raya padi di Desa Pengabuan, PALI, bersama Tim dari PT Pertamina EP Adera Field di PALI, Kamis (17/9/2026). ANTARA/M Imam Pramana

Palembang (ANTARA) - Di tengah deru mesin pengeboran minyak dan eksplorasi energi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, terselip sebuah narasi keberhasilan pembangunan ekonomi kerakyatan.

Desa Pengabuan. yang selama puluhan tahun dicap sebagai lahan mati dan tercemar, bertransformasi menjadi lumbung pangan mandiri yang produktif melalui inovasi pertanian terintegrasi.

Keberhasilan ini merupakan buah manis dari sinergi antara kearifan lokal, ketekunan kelompok tani, serta dukungan penuh PT Pertamina EP Adera Field lewat program Pertanian Mandiri Desa Tangguh.

Sejarah kelam pertanian di Desa Pengabuan bermula sejak 1980-an. Saat itu, warga setempat meyakini hamparan tanah seluas belasan hektar edi wilayah tersebut sudah tidak dapat memproduksi padi akibat tercemar oleh aktivitas operasional Pertamina EP Adera. Kepercayaan ini membuat lahan tersebut dibiarkan terbengkalai selama puluhan tahun.

Namun, pada tahun 2014 muncul harapan ketika sejumlah warga mulai mengolah lahan itu. Bermodal nekat tanpa teori pertanian yang jelas, sejumlah orang itu mencoba kembali menanam padi di lahan tersebut.

Kenyataan berkata lain. Banjir yang melanda kawasan itu menghanyutkan sebagian tanaman padi ke tepi jalan raya. Di sana beberapa batang padi yang hanyat itu justru tumbuh subur dan bulir-bulirnya berisi.

Melihat potensi tersebut, setahun kemudian Pertamina merespons aspirasi warga dengan menerjunkan ahli teknologi pertanian guna mendampingi para petani. Hasil uji coba dan kajian ilmiah akhirnya mematahkan mitos warga.

Ternyata, kendala utama pertanian di sana bukanlah pencemaran limbah industri, melainkan karakteristik tanah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan tanpa adanya sistem irigasi teknis yang mapan.

Tahun berikutnya, kerja keras tersebut membuahkan hasil berupa panen raya pertama. Sarbeni, dari Kelompok Tani Barokah, menjadi pahlawan. Dialah sosok pertama yang melakukan uji coba produksi pangan tersebut.

Sarbeni mengatakan, program pendampingan telah memberikan ilmu pengetahuan bagi warga dalam mengatasi berbagai hambatan krusial, mulai dari serangan hama tikus, burung, belalang hingga tata kelola air lahan tadah hujan.

"Saat pertama kali memulai mencoba menanam, kami hanya berharap apa ditanam dapat tumbuh dan berbuah," kata Sarbeni saat diwawancarai di area persawahan Desa Pengabuan.

Menurut dia, ikhtiar tersebut mendapatkan sesuatu anugerah dari Tuhan, sehingga secercah harapan tumbuh lewat bantuan Pertamina.

Kepala Desa Pengabuan Supriyanto yang dijumpai di lokasi persawahan, mengucapkan terimakasih kepada Pertamina Adera EP atas peranannya dalam asa membangun Indonesia melalui warga desa.

Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional I Iwan Ridwan Faizal mengatakan bahwa program pelatihan dan pemberdayaan ini merupakan wujud nyata komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi hulu migas.

"Program ini dirancang untuk memastikan bahwa kehadiran industri energi memberikan multiplier effect yang nyata. Melalui program pendampingan, kami mendorong kemandirian desa melalui penguatan pertanian padi dan hortikultura, pemberdayaan kelompok masyarakat, serta pemanfaatan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai tambah," kata Iwan Ridwan Faizal.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten PALI Ujang Sayib. Ia mengapresiasi langkah nyata Pertamina EP Adera dalam memberdayakan kelompok tani di Desa Pengabuan.

"Pemerintah Kabupaten PALI memberikan apresiasi tinggi atas langkah Pertamina EP Adera dalam memberdayakan masyarakat kelompok pertanian di Desa Pengabuan. Pihaknya akan terus meningkatkan kerja sama dengan kegiatan-kegiatan yang menyangkut pemberdayaan kepada warga masyarakat," kata Ujang Sayib.

Kejayaan padi srai

Daya tarik utama dari lumbung pangan ini adalah budidaya varietas padi lokal unggulan bernama "padi srai" yang telah dibudidayakan masyarakat sejak 1991. Dinamai begitu karena bentuk pertumbuhannya yang menyerupai tanaman serai dengan jumlah anakan yang sangat banyak. Beras dari varietas ini memiliki kualitas unggul dengan harga jual mencapai Rp20.000 per kilogram.

Komitmen pendampingan ini terbukti mendongkrak performa sektor pertanian secara drastis berdasarkan data kinerja periode PALI 2024 hingga 20 September 2026.

Lahan yang dikelola oleh puluhan kelompok tani meningkat dari 18 hektare pada tahun 2024 menjadi 22 hektare setahun kemudian. Luas lahan pertanian seperti itu diproyeksikan mencapai total 27 hektare pada akhir tahun 2026. Angka ini mencatatkan pertumbuhan total luasan lahan produktif sebesar 50 persen.

Tidak hanya dari sisi luasan, intensifnya pendampingan teknologi budidaya dan tata kelola air lahan tadah hujan turut mengerek tingkat produktivitas rata-rata per hektare secara signifikan.

Produktivitas padi yang pada tahun 2024 berada di angka 4,0 ton per hektare, meningkat menjadi 5,1 ton per hektare pada tahun 2025, dan ditargetkan menyentuh level 6,2 ton per hektare pada tahun 2026 atau meningkat sebesar 55 persen.

Akumulasi dari perluasan lahan dan kenaikan produktivitas tersebut bermuara pada lonjakan total produksi gabah kering per tahun. Pada tahun 2024, total produksi gabah tercatat sebesar 72 ton. Jumlah ini melonjak tajam menjadi 112 ton pada tahun 2025, dan diproyeksikan menembus angka 167 ton per tahun pada target 2026 .

Sejalan dengan peningkatan produksi gabah dan melalui rasio konversi standar sebesar 70 persen, pasokan setara beras yang dihasilkan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat turut mengalami eskalasi tajam.

Volume setara beras melonjak dari 50 ton pada tahun 2024, naik menjadi 78 ton pada tahun 2025, hingga ditargetkan mencapai 117 ton pada tahun 2026, yang mencatatkan pertumbuhan pasokan pangan sebesar 134 persen.

Capaian transformatif ini menegaskan efektivitas kolaborasi multipihak antara korporasi, pemerintah daerah, dan semangat swadaya kelompok tani dalam mengubah lahan yang sebelumnya berstatus non-produktif menjadi salah satu pilar lumbung pangan utama di Kabupaten PALI.

Dengan sinergi yang kuat antara sektor energi, pemerintah daerah, dan semangat swadaya masyarakat, Desa Pengabuan kini kokoh berdiri sebagai mercusuar ketahanan pangan di jantung Pulau Sumatra, membuktikan bahwa energi industri dan kedaulatan agraris dapat berjalan beriringan untuk menyejahterakan rakyat..

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menghidupkan kembali "tanah mati" Pengabuan

Pewarta: M Imam Pramana
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026