Elephants

Mengapa Setiap Perubahan Selalu Memiliki Musuh? |Republika Online

August 4, 2026

Ilustrasi perubahan.

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Setiap peradaban maju selalu meninggalkan jejak yang hampir sama. Ia tidak dibangun dalam keadaan tenang, melainkan lahir dari keberanian memperbaiki sesuatu yang sudah lama dianggap biasa.

Tidak ada pembaruan yang benar-benar penting tanpa keberanian mengusik kenyamanan lama. Karena itu, sejarah kemajuan bangsa-bangsa sesungguhnya bukan hanya sejarah tentang lahirnya gagasan-gagasan besar, tetapi juga sejarah tentang perlawanan terhadap gagasan-gagasan tersebut.

Inilah hukum yang berulang dalam perjalanan umat manusia. Setiap ikhtiar memperbaiki keadaan hampir selalu memicu perlawanan mereka yang merasa terusik.

Semakin mendasar pembenahan yang dilakukan, semakin besar pula kepentingan yang bersentuhan dengannya.

Khalifah Umar bin Khattab memahami kenyataan itu ketika membangun administrasi pemerintahan yang jauh lebih tertata dibanding tradisi kesukuan Arab sebelumnya.

Restorasi Meiji membawa Jepang keluar dari feodalisme menuju negara industri, tetapi juga memunculkan perlawanan dari mereka yang merasa kehilangan dunia lamanya.

Berabad-abad kemudian, perusahaan-perusahaan besar yang berhasil bertahan menghadapi disrupsi digital pun mengalami ujian serupa.

Hambatan terbesar mereka bukan kendala inovasi teknologi, melainkan budaya organisasi yang telah terlalu lama merasa nyaman dengan keberhasilan masa lalu.

Zaman berubah, institusi berubah, teknologi berubah, tetapi watak resistensi manusia hampir tidak pernah berubah.

Karena itu, keliru apabila pembaruan hanya dipahami sebagai pekerjaan administratif. Regulasi dapat disusun dalam hitungan bulan. Struktur organisasi dapat diubah melalui keputusan pimpinan. Teknologi dapat dibeli dengan anggaran yang besar.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.