Elephants

Mencari Allah dari Ranjang Emas dan Istana? Pertanyaan yang Mengubah Raja Menjadi Sufi |Republika Online

September 1, 2026

Sufi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ibrahim bin Adham pernah memiliki segala kemewahan yang diimpikan manusia, ia memiliki tahta, kekuasaan, dan istana megah. Namun, sebuah pertanyaan tajam tentang bagaimana mungkin seseorang mencari Allah dengan berpakaian sutra dan tidur di ranjang emas dalam kemewahan istana mengguncang hatinya. Pertanyaan itu menjadi awal perjalanan spiritual sang raja hingga ia meninggalkan kemewahan dunia dan memilih jalan sufi.

Dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-13 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, Ibrahim bin Adham adalah raja Balkh dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas. Ke mana pun ia pergi, 40 pedang emas dan 40 tongkat kebesaran emas diusung di depan dan di belakangnya.

Pada suatu malam, ketika ia tertidur di kamar istananya, langit-langit kamar berderik-derik seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Ibrahim terbangun dan berseru, “Siapakah itu?!”

“Seorang sahabat, untaku hilang dan aku sedang mencarinya di atas atap ini,” kata seseorang di atas atap.

“Bodoh. Engkau mencari unta di atas atap?” tanya Ibrahim.

Orang di atas atap itu berkata kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai manusia yang lalai, apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutra dan tidur di atas ranjang emas?”

Mendengar kata-kata itu, membuat Ibrahim bergetar hatinya, menjadi sangat gelisah dan tidak bisa melanjutkan tidurnya.

Ketika hari telah siang, Ibrahim kembali ke ruang pertemuan dan duduk di atas singgasananya sambil terus berpikir, bingung, dan sangat gundah. Para menteri telah berdiri di tempat masing-masing dan hamba-hamba telah berbaris sesuai dengan tingkatan mereka. Kemudian dimulailah pertemuan terbuka.

Dalam pertemuan yang dipimpin raja Ibrahim bin Adham, tiba-tiba seorang lelaki berwajah menakutkan masuk ke dalam ruangan pertemuan itu. Wajahnya sedemikian menyeramkan sehingga tidak seorang pun di antara para menteri maupun hamba istana berani menanyakan namanya. Semua lidah menjadi kelu. Dengan tenang lelaki itu melangkah ke depan singgasana yang diduduki Ibrahim.

Ibrahim segera bertanya, “Apa yang engkau inginkan?”

Lelaki yang menakutkan itu menjawab, “Aku baru saja sampai di persinggahan ini.”