Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan pelaku pasar mulai mengakumulasi sejumlah saham tambang yang dinilai memiliki valuasi menarik. Pergerakan tersebut terjadi ketika tekanan harga komoditas dalam beberapa bulan terakhir mulai mereda.
Baca Juga: Garuda Indonesia Pangkas Nilai Nominal Saham GMF, Apa Dampaknya bagi Maskapai Pelat Merah?
"Secara umum, saham-saham tambang pelat merah mulai menunjukkan indikasi rebound, meskipun penguatannya masih bersifat selektif dan belum sepenuhnya membentuk tren naik yang kuat," kata Nafan.
Pergerakan sejumlah saham tambang BUMN dalam sebulan terakhir menunjukkan penguatan. Berdasarkan penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026), saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 10,42% dalam sebulan ke level Rp2.860 per saham.
Penguatan lebih tinggi dicatatkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang naik 18,93% ke level Rp4.900 per saham.
Sementara itu, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 2,62% ke level Rp2.350 per saham. Adapun saham PT Timah Tbk (TINS) naik 8,87% menjadi Rp3.560 per saham dalam periode yang sama.
Menurut Nafan, laporan keuangan kuartal II-2026 menjadi salah satu katalis penting yang akan menentukan arah pergerakan saham sektor tambang dalam waktu dekat.
Investor akan melihat apakah perbaikan harga sejumlah komoditas pada sebagian periode kuartal II mampu diterjemahkan menjadi peningkatan margin dan profitabilitas emiten.
"Emiten yang memiliki efisiensi operasional lebih baik serta diversifikasi bisnis yang kuat berpotensi memperoleh respons pasar yang lebih positif. Kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi juga dapat menjadi pemicu penguatan harga saham dalam jangka pendek," ujarnya.
Proyeksi Kinerja Emiten Tambang
Potensi perbaikan kinerja sektor tambang juga tercermin dalam riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS). Dalam riset tersebut, pendapatan emiten sektor pertambangan logam pada kuartal II-2026 diproyeksikan mencapai USD4,5 miliar.
Angka tersebut diperkirakan tumbuh 12% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qoq) dan 38% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Meski demikian, BRIDS menilai pertumbuhan pendapatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan volume produksi secara luas. Kenaikan pendapatan lebih banyak ditopang oleh faktor harga jual, timing penjualan, pergerakan persediaan, serta bauran produk.
Dari sisi laba, momentum pertumbuhan sektor pertambangan logam pada kuartal II-2026 juga diperkirakan masih terkonsentrasi pada sejumlah emiten.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat ke 6.250, Simak Menu Saham Hari Ini
Salah satunya adalah INCO yang diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba sebesar 44% secara kuartalan.
Untuk prospek semester II-2026, BRIDS memilih sejumlah saham tambang yang dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan.
"Namun, untuk prospek semester II-2026, preferensi kami beralih ke ANTM, TINS, AMMN, INCO, NCKL, MBMA, dan BRMS," tulis BRIDS dalam risetnya.
Proyeksi tersebut menjadi perhatian investor karena sejumlah emiten tambang yang berada dalam ekosistem MIND ID telah mencatat pertumbuhan kinerja yang cukup solid pada kuartal I-2026.
ANTM, misalnya, membukukan laba periode berjalan sebesar Rp3,66 triliun pada kuartal I-2026. Capaian itu tumbuh 58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,32 triliun.
INCO juga mencatatkan peningkatan laba bersih 100% menjadi US$43,6 juta atau sekitar Rp752 miliar. Pada kuartal I-2025, laba bersih perusahaan tercatat sebesar US$21,8 juta.
Sementara itu, TINS membukukan laba usaha sebesar Rp1,88 triliun pada kuartal I-2026. Nilai tersebut meningkat signifikan dibandingkan laba usaha pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp150 miliar.
PTBA turut mencatatkan pertumbuhan kinerja. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp801,79 miliar, melonjak 105% dibandingkan Rp391,47 miliar pada kuartal I-2025.
Kinerja kuartal I tersebut menjadi salah satu basis yang akan dicermati investor dalam menilai apakah pertumbuhan emiten tambang dapat berlanjut hingga semester II.
Selain laporan keuangan, perhatian investor juga mulai bergeser ke kinerja operasional dan perkembangan proyek hilirisasi yang tengah dikerjakan emiten-emiten tambang.
Nafan mengatakan investor akan mencermati perkembangan proyek hilirisasi mineral, belanja modal, hingga prospek permintaan komoditas seperti nikel dan batu bara.
"Apabila realisasi kinerja mampu melampaui ekspektasi pasar, peluang penguatan harga saham masih terbuka," kata Nafan.
Bagi emiten dalam ekosistem MIND ID, agenda hilirisasi menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi prospek bisnis dalam jangka menengah dan panjang. Pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memperkuat rantai pasok industri di dalam negeri.
Salah satu proyek yang telah diresmikan adalah fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.
Proyek tersebut dikembangkan MIND ID bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) dan ANTM, dengan PTBA berperan sebagai pemasok energi.
Fasilitas terintegrasi itu terdiri atas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II berkapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun serta smelter aluminium baru dengan kapasitas produksi 600.000 metrik ton aluminium per tahun.
Di sektor nikel, INCO juga tengah mengakselerasi pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah.
Proyek tersebut memasuki salah satu fase penting setelah komponen utama autoclave, yang menjadi bagian sentral dalam proses pengolahan bijih nikel limonit, tiba di lokasi proyek.
Pabrik HPAL Sambalagi dibangun dalam tiga jalur produksi, yakni Line A, B, dan C. Proyek tersebut ditargetkan mencapai first mechanical completion pada akhir 2026.
Perkembangan proyek hilirisasi tersebut menjadi bagian dari faktor fundamental yang akan diperhatikan investor selain kinerja keuangan jangka pendek.
Dengan demikian, prospek saham tambang pelat merah pada semester II-2026 tidak hanya akan ditentukan oleh angka laba yang tercatat pada laporan keuangan semester I.
Kemampuan emiten menjaga efisiensi, mempertahankan volume dan margin, mengelola belanja modal, serta menjalankan proyek hilirisasi juga akan menjadi faktor yang menentukan seberapa kuat ruang penguatan saham ke depan.