Achmad Aris, CNBC Indonesia
16 October 2026 12:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Program konsolidasi atau streamlining asuransi BUMN di bawah kendali BPI Danantara diharapkan tidak hanya menghasilkan efisiensi tapi juga mampu menjaga kinerja bisnis asuransi dari entitas baru. Pasalnya, tanpa desain yang tepat, streamlining melalui merger berisiko melahirkan perusahaan yang besar tapi berpotensi kehilangan sumber premi, keunggulan distribusi, dan spesialisasi bisnis.
Pengalaman India, China, dan Eropa menunjukkan bahwa keberhasilan restrukturisasi tidak ditentukan oleh jumlah perusahaan yang tersisa, tetapi ditentukan oleh kualtias perusahaan yang dibentuk.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengungkapkan program konsolidasi asuransi BUMN menargetkan peleburan 15 entitas perusahaan asuransi menjadi 3 entitas utama yaitu asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit.
Konsolidasi ini diharapkan memperkuat kapasitas perusahaan, meningkatkan efisiensi, serta membangun ekosistem asuransi BUMN yang lebih terintegrasi. Namun perlu dicatat bahwa menyederhanakan struktur organisasi tidak selalu identik dengan penyehatan kinerja bisnis.
Menggabungkan sejumlah perusahaan memang dapat memperbesar kapasitas aset, ekuitas, dan penanggungan risiko. Akan tetapi, bila penggabungan tersebut tidak disertai dengan perbaikan underwriting, strategi distribusi dan pengelolaan portofolio, perusahaan hasil konsolidasi belum tentu lebih menguntungkan.
Danantara seharusnya tidak hanya menentukan perusahaan mana yang akan digabung, tetapi juga menentukan bagaimana entitas bisnis asuransi pelat merah hasil konsolidasi mampu bersaing dan berkembang dalam jangka panjang.
Berdasarkan riset studi kasus yang dilakukan CNBC Indonesia Research, program restrukturisasi perusahaan asuransi pernah dilakukan oleh beberapa negara di antaranya India, China, dan Polandia dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Studi Kasus
Di India, rencana merger dihentikan dan beralih fokus pada penguatan modal, solvabilitas, dan pertumbuhan yang menguntungkan. Pada 2018, pemerintah India mengumumkan rencana merger 3 perusahaan asuransi umum milik negara yaitu National Insurance Company, United India Insurance, dan Oriental Insurance. Namun selang 2 tahun, pemerintah menghentikan proses merger dan memprioritaskan pemulihan solvabilitas serta pertumbuhan yang menguntungkan.
Pelajaran dari pengalaman India adalah merger tidak otomatis menyelesaikan persoalan mendasar apabila kesehatan keuangan dan profitabilitas masing-masing perusahaan belum memadai.
Kasus di China sebaliknya, restrukturisasi justru diarahkan pada reorganisasi pemisahan dari struktur holding menjadi sejumlah entitas dengan spesialisasi bisnis. Pada awal 1990-an, PICC merupakan pemain utama industri asuransi China dengan penguasaan market share hingga 90%. Pada 1996, PICC direorganisasi menjadi 3 entitas di bawah struktur holding baru yaitu PICC Life Insurance, PICC Properti Insurance, dan PICC Reinsurance. Lalu pada 1999, struktur holding PICC dibubarkan dan perusahaan-perusahaan hasil pemisahan menjadi entitas sendiri yang sepenuhnya dimiliki oleh negara.
Belajar dari China, spesialisasi lini bisnis dan captive market diharapkan memberikan otonomi lebih besar kepada perusahaan-perusahaan anggota holding untuk fokus dalam memperbesar penetrasi bisnisnya. Selain itu, pemisahan juga dipandang membuka peluang untuk memperoleh modal melalui pasar modal.
Sementara itu di Polandia, proses merger dari anak usaha ke holding dengan tetap menonjolkan karakter dan keunggulan pasar dari entitas yang dimerger. Artinya, proses konsolidasi yang dilakukan tanpa menghilangkan identitas komersial dari entitas yang dilebur.
Perusahaan asuransi terbesar yang mayoritas sahamnya dipegang oleh Kementerian Keuangan Polandia, PZU, akan dimerger dengan anak perusahaannya yaitu LINK4 yang telah diakuisisi sejak 2014. Rencana merger yang ditargetkan rampung pada kuartal I/2027 ini bertujuan untuk menyederhanakan struktur & efisiensi operasional.
Namun demikian, meski akan digabung secara hukum, merek LINK4 tidak akan dihapus. LINK4 akan tetap beroperasi sebagai brand terpisah karena reputasinya yang sangat kuat dan positif di mata konsumen.
Dari tiga pengalaman model restrukturisasi yang dilakukan di India, China, dan Polandia tersebut, memberikan gambaran tentang bagaimana skema konsolidasi yang seharusnya dilakukan berdasarkan kondisi atau problematika yang ada. Misalnya, bagi entitas yang sakit maka harus disehatkan dulu dan bagi entitas yang punya kekuatan captive dan spesialisasi bisa tetap dipertahankan.
Hubungan Komersial dengan Ekosistem BUMN
Faktor penting lain yang perlu dicermati adalah rencana konsolidasi asuransi BUMN bakal berdampak pada hubungan komersial dengan ekosistem BUMN tertentu. Pemisahan entitas asuransi dari ekosistem induknya patut menjadi perhatian karena berisiko menghilangkan captive bisnis yang selama ini menjadi kontributor utama pendapatan premi.
Misalnya pada ekosistem Pertamina. Ketika Tugu Insurance, Pertalife, dan Tugure tidak lagi menjadi anak usaha dari Pertamina, apakah Pertamina masih akan tetap memberikan risiko bisnisnya di-cover oleh mantan anak usahanya. Persoalan yang sama juga berisiko terjadi pada ekosistem PLN, Jasa Raharja, dan Bank BRI.
Oleh karena itu, dalam proses streamlining ini Danantara harus bisa memastikan hubungan komersial dengan ekosistem BUMN tidak terpengaruh pasca konsolidasi. Pasalnya, hilangnya sumber premi dari ekosistem BUMN bisa mempengaruhi performa dari entitas baru hasil konsolidasi.
Lebih lanjut, konsolidasi harus dirancang untuk menyelesaikan masalah bisnis yang nyata, bukan sekadar mencapai target jumlah entitas. Bagi Danantara, keberhasilan streamlining seharusnya tecermin pada perusahaan yang lebih sehat secara finansial, lebih disiplin dalam underwriting, lebih efisien dalam operasional, dan lebih mampu menjangkau nasabah. Keunggulan distribusi dan spesialisasi yang terbukti bernilai juga perlu dijaga tanpa menghilangkan persaingan dalam pengadaan asuransi.
Dengan demikian tujuan akhirnya bukan sekadar mengubah 15 entitas perusahaan menjadi 3 entitas tetapi lebih besar dari itu yaitu membangun perusahaan asuransi BUMN yang memiliki solvabilitas sehat, kapasitas lebih kuat, sumber bisnis lebih beragam, dan kemampuan tumbuh secara berkelanjutan.
(ach/ach)