Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:15 WIB
Jakarta, VIVA – Pindah kerja selama bertahun-tahun menjadi salah satu cara yang cukup efektif bagi pekerja untuk meningkatkan pendapatan. Namun, keuntungan finansial dari berpindah perusahaan kini mulai menyusut, terutama di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang semakin sulit bagi pencari kerja.
Baca Juga
Fenomena ini juga terjadi di Amerika Serikat (AS). Data Bank of America Institute menunjukkan, pekerja yang berganti perusahaan pada 2022 rata-rata mengalami kenaikan pendapatan setelah pajak hampir 18 persen dalam setahun. Sementara pekerja yang bertahan di perusahaan yang sama hanya mencatat kenaikan sekitar 7 persen.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, kondisi tersebut berubah pada awal 2026. Pada kuartal I 2026, pertumbuhan pendapatan pekerja yang berpindah perusahaan hanya sekitar 8 persen, sedangkan pekerja yang bertahan memperoleh kenaikan sekitar 5 persen. Selisih pertumbuhan pendapatan antara kedua kelompok itu menjadi yang terkecil dalam tujuh tahun.
Baca Juga
Penurunan keuntungan dari pindah kerja terjadi ketika tingkat pengunduran diri pekerja juga berada di level rendah. Data Bureau of Labor Statistics menunjukkan hanya 1,9 persen pekerja nonpertanian yang mengundurkan diri pada Agustus. Angka tersebut membuat tingkat pengunduran diri berada di sekitar level terendah sejak 2020.
Kondisi pasar tenaga kerja saat ini disebut sebagai pasar "low-hire, low-fire", ketika perusahaan cenderung berhati-hati merekrut karyawan baru sekaligus tidak banyak melakukan pemutusan hubungan kerja. Ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan menahan penambahan tenaga kerja sehingga posisi pemberi kerja menjadi lebih kuat.
Baca Juga
Dalam kondisi tersebut, perusahaan dinilai memiliki lebih sedikit alasan untuk menawarkan kenaikan gaji tinggi demi menarik pekerja baru. Sebaliknya, pekerja yang khawatir sulit mendapatkan pekerjaan baru memilih bertahan di posisi mereka, sebuah fenomena yang disebut "job-hugging".
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Situasi tersebut berbeda dengan periode Great Resignation pada 2021 dan 2022. Saat itu, puluhan juta pekerja di AS meninggalkan pekerjaan mereka untuk mencari gaji lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik.
Peluang mendapatkan pengalaman dari berpindah perusahaan juga menjadi semakin penting karena penelitian terbaru National Bureau of Economic Research menunjukkan pengalaman lintas perusahaan semakin dibutuhkan untuk mencapai posisi puncak. CEO yang baru ditunjuk saat ini rata-rata memiliki sekitar 10 tahun lebih banyak pengalaman di luar perusahaan yang kemudian mereka pimpin dibandingkan CEO pada 2000.
Halaman Selanjutnya
Penelitian tersebut mengaitkan perubahan itu dengan meningkatnya kebutuhan terhadap "generalist human capital", yakni pengalaman dan kemampuan yang lebih beragam. Pengalaman lintas perusahaan sebelumnya menjadi salah satu cara pekerja muda membangun kemampuan tersebut.