Elephants

Maskapai Penerbangan Berbiaya Murah di ASEAN Terjepit Biaya Bahan Bakar

August 26, 2026

Jakarta -

Maskapai penerbangan berbiaya rendah (LCC) di Asia Tenggara terjepit akibat lonjakan harga bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah. Meski dampak konflik mulai mereda, mereka masih menghadapi paruh kedua 2026 yang penuh tantangan.

Kondisi tersebut tercermin dari kinerja kuartalan sejumlah maskapai berbiaya rendah, termasuk AirAsia Malaysia, Scoot yang merupakan anak usaha Singapore Airlines, serta Cebu Pacific dari Filipina.

Upaya maskapai untuk menutup kenaikan biaya bahan bakar melalui kenaikan tarif belum memberikan hasil maksimal. AirAsia dan Cebu Pacific mencatat kerugian bersih, sedangkan kerugian operasional Scoot hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tekanan ini memperlihatkan tantangan utama model bisnis LCC. Bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya terbesar, sementara penumpang LCC sangat sensitif terhadap harga. Akibatnya, ruang bagi maskapai untuk menaikkan tarif menjadi lebih terbatas karena kenaikan harga tiket berisiko menekan permintaan.

Tekanan semakin besar akibat pelemahan mata uang regional terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia, baht Thailand, rupiah Indonesia, dan peso Filipina yang melemah membuat biaya bahan bakar serta sewa pesawat-yang umumnya menggunakan dolar AS-menjadi lebih mahal.

"Kuartal kedua merupakan kondisi operasional paling menantang yang dihadapi Cebu Pacific pascapandemi," kata CEO Cebu Pacific Mike Szucs dalam paparan kinerja perusahaan seperti dilansir Reuters, Rabu (26/8/2026).

Biaya bahan bakar Cebu Pacific meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Dampaknya semakin besar akibat pelemahan peso sekitar 8%.

Untuk mengantisipasi kenaikan biaya, Cebu Pacific telah melakukan lindung nilai sekitar 30% kebutuhan bahan bakar pada kuartal ketiga dengan harga di bawah US$120 per barel.

Maskapai LCC Lebih Rentan dibanding Full Service

Menurut Nathan Gee, kepala riset transportasi Asia-Pasifik di BofA Global Research, maskapai layanan penuh relatif lebih terlindungi karena masih mendapatkan permintaan kuat dari penumpang premium pascapandemi. Sebaliknya, maskapai LCC dinilai lebih rentan karena menawarkan produk yang lebih sederhana dan memiliki program loyalitas yang lebih kecil.

AirAsia bahkan bersiap menghadapi kuartal ketiga yang diperkirakan menjadi salah satu periode terlemah untuk perjalanan regional.

Maskapai tersebut berencana memangkas kapasitas kursi sekitar 20%-25% secara tahunan pada kuartal ketiga. AirAsia juga akan mengembalikan 25 pesawat tua kepada perusahaan leasing sepanjang 2026 serta menghentikan sementara rute Sydney-Kuala Lumpur mulai Oktober sebagai bagian dari penyesuaian jaringan penerbangan.

CEO AirAsia Bo Lingam mengatakan langkah tersebut merupakan pendekatan taktis untuk melindungi laba perusahaan. Harga bahan bakar jet rata-rata mencapai US$183 per barel pada kuartal kedua, sementara AirAsia juga mencatat kerugian nilai tukar bersih sekitar USD 82 juta.

Meski demikian, AirAsia memperkirakan kapasitas penerbangan dapat kembali ke level sebelum konflik pada kuartal keempat. Pemesanan penerbangan di muka juga disebut masih sejalan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, Scoot masih menambah kapasitas karena permintaan penerbangan dinilai tetap kuat. Namun, biaya per unit penumpang melonjak 21,7% dalam tiga bulan hingga Juni. Kondisi tersebut membuat kerugian operasional Scoot meningkat menjadi 32 juta dolar Singapura, dari 17 juta dolar Singapura pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan biaya tersebut membuat break-even load factor Scoot mencapai 100%. Artinya, maskapai harus mengisi seluruh kursi yang tersedia untuk menutup biaya operasional penumpang. Padahal, tingkat keterisian aktual Scoot berada di 90,6%.

Kepala Komersial Scoot Calvin Chan mengatakan kenaikan tarif yang dilakukan maskapai belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan harga bahan bakar. Konflik di Timur Tengah juga masih menjadi bayang-bayang terhadap prospek industri penerbangan.

Menurut Gee, penurunan harga bahan bakar memang akan membantu mengurangi tekanan biaya. Namun, kondisi tersebut juga dapat mendorong maskapai mengembalikan kapasitas penerbangan dan kembali bersaing lebih agresif melalui tarif murah.

Rute intra-Asia dinilai sangat rentan terhadap kondisi tersebut karena pasokan pesawat berbadan sempit pulih lebih cepat dibandingkan pesawat berbadan lebar.

Tambahan kapasitas berpotensi bertemu dengan permintaan yang justru melemah.

Analis penerbangan independen Brendan Sobie menilai keterbatasan anggaran rumah tangga dapat membatasi perjalanan masyarakat kelas menengah Asia Tenggara hingga akhir tahun, termasuk pada periode musim puncak perjalanan.

"Prospek jangka pendek agak suram. Meskipun ada harapan perbaikan di kuartal keempat, masih terlalu dini untuk benar-benar menilainya," ujar Sobie.

(ddn/ddn)