Sabtu, 19 September 2026 - 08:20 WIB
VIVA –Kelompok Houthi di Yaman menyebut Arab Saudi melancarkan 26 serangan udara dalam kurun Waktu 24 jam ke wilayah yang dikuasai kelompok tersebut. Jumat waktu setempat, kelompok tersebut mengklaim serangan Arab Saudi ke wilayah yang telah mereka kuasai telah mencapai 300 kali dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Baca Juga
Berdasarkan laporan AFP yang dilkutip ulang Al Jazeera, serangan tersebut menyasar sejumlah posisi di berbagai wilayah yang berada di bawah kendali Houthi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengatakan pada Jumat bahwa pasukannya telah menewaskan 30 pemberontak Houthi dan melukai lebih dari 60 orang dalam bentrokan di Distrik al-Wazi’iyah, Provinsi Taiz. Wilayah tersebut merupakan salah satu dari beberapa medan pertempuran yang kembali memanas sepanjang pekan ini.
Baca Juga
Saling serang tersebut terjadi setelah pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan pejuang Houthi semakin meningkat.
Pada Jumat, puluhan ribu orang turun ke jalan di Sanaa untuk menunjukkan dukungan terhadap Houthi yang didukung Iran sekaligus memprotes Arab Saudi. Houthi terus memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup sebagian besar pesisir Laut Merah Yaman, termasuk Selat Bab al-Mandeb yang strategis.
Baca Juga
Sebelumnya pekan ini, meningkatnya serangan antara pemerintah Yaman dan pemberontak Houthi dilaporkan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk tiga anak-anak. Laporan tersebut berasal dari kedua pihak yang bertikai.
Arab Saudi mengatakan satu orang tewas di Provinsi Taif setelah sebuah drone Houthi berhasil dicegat. Sementara itu, media yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan adanya korban tewas akibat serangan Arab Saudi di Taiz dan Kota Abs.
Eskalasi konflik tersebut turut menarik perhatian Washington, meski Amerika Serikat disebut tidak menginginkan keterlibatan lebih jauh.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pejabat AS bertemu dengan perwakilan Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, ibu kota Oman, pada akhir pekan. Pertemuan itu dilakukan setelah Houthi memperluas wilayah kekuasaannya dengan cepat sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap aktivitas pelayaran melalui Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur penting bagi perdagangan global.
Houthi dilaporkan meyakinkan Washington bahwa kapal yang tidak memiliki kaitan dengan Arab Saudi tidak akan menjadi sasaran serangan.
Halaman Selanjutnya
Meski Riyadh mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Houthi secara langsung, Washington sejauh ini memilih untuk menahan diri. AS disebut khawatir keterlibatan tersebut akan membuka front baru ketika mereka masih menghadapi perang yang mahal dengan Iran.