Elephants

Mahasiswa UI rancang prototipe sistem pendingin ruangan hemat energi

September 15, 2026
Sistem ini kami rancang agar adaptif. Ketika suhu udara luar meningkat, kebutuhan sirkulasi juga meningkat. Pada kondisi dengan intensitas matahari lebih tinggi, panel surya dapat menghasilkan daya yang lebih besar untuk mendukung kerja ventilator

Depok (ANTARA) - Lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengembangkan ADEM (Adaptive Energy-efficient Microclimate System) yakni prototipe sistem pendingin ruangan yang memadukan kestabilan suhu tanah dan tenaga surya, sehingga mampu menghemat energi.

"Prinsip ADEM memanfaatkan perbedaan suhu antara udara permukaan dan suhu tanah. Dengan mendinginkan udara terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan, beban sistem pendingin aktif dapat dikurangi,” kata Ketua Tim UI Abdurrasyid Dzaki Amir di Depok, Selasa.

Inovasi ini dirancang sebagai alternatif pendinginan ruangan yang lebih hemat energi, terutama untuk bangunan di wilayah tropis seperti Indonesia yang membutuhkan pendinginan tinggi.

Tim yang diketuai Abdurrasyid Dzaki Amir ini menggabungkan mekanisme pertukaran panas dengan tanah, ventilasi bertenaga surya, serta sistem kontrol otomatis dalam satu sistem pendinginan.

ADEM bekerja dengan memanfaatkan suhu tanah yang relatif stabil pada kedalaman tertentu. Udara dari luar dialirkan melalui jaringan pipa PVC yang ditanam di bawah tanah dan disusun berkelok (serpentine).

Baca juga: Mahasiswa tawarkan solusi kebijakan atasi polusi udara lewat kompetisi

Lintasan yang lebih panjang memungkinkan pertukaran panas antara udara dan tanah berlangsung lebih optimal sebelum udara dialirkan ke dalam ruangan. Proses ini diharapkan dapat menurunkan beban kerja sistem pendingin aktif seperti AC.

Untuk menjaga sirkulasi udara, ADEM dilengkapi turbin ventilator yang digerakkan motor DC dan memperoleh daya dari panel surya. Sistem tersebut memungkinkan aliran udara tetap terjaga, termasuk ketika kondisi angin rendah.

Pada saat yang sama, sensor suhu pada bagian inlet dan outlet mengukur perubahan temperatur secara real-time dan mengirimkan data ke mikrokontroler ESP32 untuk mengatur kerja ventilator sesuai kondisi lingkungan.

“Sistem ini kami rancang agar adaptif. Ketika suhu udara luar meningkat, kebutuhan sirkulasi juga meningkat. Pada kondisi dengan intensitas matahari lebih tinggi, panel surya dapat menghasilkan daya yang lebih besar untuk mendukung kerja ventilator,” ujar Abdurrasyid.

Baca juga: Mahasiswa UI kembangkan inovasi penggunaan parfum praktis berbasis AI

Berbeda dari sistem pendingin ruangan konvensional yang menggunakan kompresi refrigeran dan membutuhkan daya listrik relatif besar, ADEM mengutamakan mekanisme pendinginan pasif melalui pertukaran panas dengan tanah.

Penggunaan energi surya pada sistem ventilasi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi kebutuhan energi dari sumber listrik konvensional.

Abdurrasyid mengembangkan ADEM bersama Satria Erlangga Munggaran, Michael Gianvittorio Siringoringo, Steven Anthony Suhartoyo, dan Muhammad Rayhan Pasha Nuruddin.

Kelima mahasiswa tersebut berasal dari Program Studi S1 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI. Pengembangan ADEM dilakukan dengan bimbingan Dosen Departemen Fisika FMIPA UISyahril Siregar S.Si, M.Sc, Ph.D .

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.