REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Prancis Emmanuel Macron memperlihatkan kemampuan persenjataan nuklir negaranya melalui peluncuran rudal balistik strategis M51.3 dari kapal selam bertenaga nuklir Le Vigilant di Samudra Atlantik, Selasa (6/10/2026). Demonstrasi militer yang disaksikan langsung Macron itu berlangsung ketika ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa kembali meningkat, terutama menyangkut perang Ukraina dan ancaman penggunaan senjata nuklir.
Macron menyebut keberhasilan peluncuran rudal tersebut sebagai bukti meningkatnya kekuatan pertahanan Prancis. Ia juga menyampaikan bahwa demonstrasi kemampuan militernya telah mengirimkan pesan yang jelas kepada pihak-pihak yang perlu menerimanya. Pernyataan itu segera memperoleh tanggapan keras dari Kremlin, yang menuduh negara-negara Eropa semakin menjadikan konfrontasi dengan Rusia sebagai dasar kebijakan pertahanan mereka.
Menurut laporan Reuters pada Selasa (6/10/2026), rudal M51.3 diluncurkan dari kapal selam Le Vigilant di lepas pantai Bretagne, Prancis barat. Rudal tersebut dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir, tetapi peluncuran kali ini dilakukan tanpa hulu ledak maupun muatan nuklir. Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis menegaskan pengujian berlangsung sesuai kewajiban internasional dan merupakan bagian dari pemeriksaan kesiapan operasional sistem persenjataan kapal selam.
Macron menyaksikan peluncuran dari fregat Auvergne yang beroperasi di perairan Atlantik. Dalam video yang dipublikasikan melalui media sosial, Presiden Prancis terlihat memantau pergerakan rudal dari geladak kapal perang tersebut. Kehadirannya memberikan dimensi politik yang kuat terhadap kegiatan militer yang sebenarnya telah direncanakan sebelumnya.
"Hari ini kita lebih kuat. Pesan telah disampaikan dengan jelas kepada pihak yang perlu menerimanya," ujar Macron sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (6/10/2026).
Pernyataan itu tidak secara langsung menyebut Rusia sebagai sasaran pesan Prancis. Namun, peluncuran berlangsung hanya beberapa hari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin kembali memperingatkan negara-negara Barat mengenai kemungkinan penggunaan seluruh persenjataan Rusia apabila wilayahnya diserang. Di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan Eropa, demonstrasi kemampuan nuklir Prancis segera dipandang dalam konteks ketegangan antara Moskow dan NATO.
Kremlin: Strategi Konfrontasi Jalan Buntu
Rusia merespons peluncuran rudal M51.3 sehari kemudian. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, Rabu (7/10/2026), mengatakan Moskow telah menerima pesan yang disampaikan Paris melalui demonstrasi kekuatan militernya. Namun, ia mengecam apa yang disebutnya sebagai meningkatnya militerisasi Eropa dan penggunaan ancaman Rusia untuk membenarkan perluasan kemampuan pertahanan.
Menurut Reuters, Peskov menilai negara-negara Eropa sedang membangun identitas keamanan dan pertahanannya berdasarkan sikap konfrontatif terhadap Federasi Rusia. Ia memperingatkan bahwa pendekatan demikian berisiko memperburuk hubungan antarnegara dan tidak menawarkan penyelesaian terhadap persoalan keamanan kawasan.
"Ini merupakan jalan buntu. Sebagaimana ditunjukkan sejarah, pendekatan semacam itu tidak menghasilkan sesuatu yang baik," kata Peskov sebagaimana dilaporkan Reuters, Rabu (7/10/2026).
Peskov menegaskan Rusia tetap dalam keadaan waspada menghadapi perkembangan keamanan Eropa. Meski demikian, ia menyatakan Moskow terbuka terhadap dialog dan menilai perselisihan antarnegara seharusnya diselesaikan melalui perundingan, bukan demonstrasi peluncuran rudal.
Kecaman Kremlin memperlihatkan perbedaan mendasar antara cara Paris dan Moskow menafsirkan peningkatan kemampuan militer Eropa. Pemerintah Prancis menggambarkan modernisasi persenjataan nuklir sebagai upaya mempertahankan kredibilitas penangkalan terhadap ancaman yang berkembang. Sebaliknya, Rusia menilai demonstrasi kekuatan tersebut sebagai bagian dari kebijakan negara-negara Eropa yang semakin diarahkan untuk menghadapi Moskow.
Perbedaan pandangan itu berlangsung ketika konflik Ukraina belum menemukan penyelesaian politik. Sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran pada Februari 2022, negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan, memperkuat kerja sama militer, dan mempercepat pembahasan mengenai kemampuan menghadapi ancaman yang berasal dari kawasan timur benua tersebut.
Rudal M51.3 dan Kekuatan Nuklir Prancis
M51.3 merupakan generasi ketiga dari keluarga rudal balistik strategis M51 yang dikembangkan untuk persenjataan kapal selam nuklir Prancis. Sistem tersebut dirancang untuk mempertahankan kemampuan serangan balasan nuklir dari laut, salah satu unsur utama doktrin penangkalan Prancis. Pengembangannya dilakukan oleh perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan ArianeGroup.
Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis menjelaskan bahwa M51.3 telah memasuki layanan operasional pada 24 Oktober 2025. Rudal tersebut memiliki peningkatan kemampuan jangkauan, akurasi, dan penetrasi terhadap sistem pertahanan antirudal dibandingkan versi sebelumnya. Senjata itu dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir generasi baru TNO-2 yang dikembangkan bagi komponen penangkalan nuklir berbasis laut.
Pengujian pada 6 Oktober 2026 menjadi peluncuran pertama M51.3 dari kapal selam dalam rangkaian pemeriksaan penerimaan operasional tersebut. Kegiatan yang diberi nama Operasi Smertrios itu sekaligus bertujuan memastikan Le Vigilant kembali mampu menggunakan sistem persenjataannya setelah menjalani periode perawatan dan perbaikan besar.
Direktorat Jenderal Persenjataan Prancis atau DGA menjelaskan bahwa rudal dipantau sepanjang penerbangannya oleh fasilitas pengujian militer, termasuk kapal pengukur Monge. Rudal kemudian mencapai kawasan jatuh yang telah ditentukan di Atlantik Utara, berjarak ratusan kilometer dari garis pantai. Pemerintah Prancis kembali menegaskan tidak ada muatan nuklir dalam peluncuran tersebut.
Paris tidak mengumumkan secara terbuka jangkauan maksimum M51.3. Namun, Reuters mencatat bahwa estimasi yang tersedia secara publik untuk keluarga rudal M51 umumnya mencapai sekitar 9.000 kilometer atau lebih. Pejabat Prancis menyatakan versi terbaru mempunyai kemampuan menjangkau sasaran lebih jauh dibandingkan pendahulunya.