Jakarta -
Industri hijab dan modest fashion di pasar digital saat ini dihadapkan pada tantangan berat berupa perang harga yang sengit di berbagai marketplace. Di tengah situasi tersebut, brand hijab Buttonscarves mengungkapkan strategi untuk menggaet pasar.
Linda Anggrea sebagai pendiri Buttonscarves mengungkapkan brandnya justru berhasil mencatatkan tren pertumbuhan positif dengan memilih strategi yang berfokus pada nilai produk dan kedekatan emosional dengan konsumen. Dia berusaha tidak ikut terjebak dalam kompetisi harga murah.
Linda menegaskan bahwa kunci utama untuk bertahan dari gempuran produk murah di marketplace adalah dengan mendengarkan pasar secara presisi. Langkah ini memangkas jarak antara produsen dan konsumen, sehingga produk yang dihasilkan selalu relevan dan memiliki daya saing tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buttonscarves merilis koleksi musim panas bertajuk Buttonscarves Tropical Paradise Takeover: Under The Sea di Land's End, Pantai Indah Kapuk (PIK2) selama satu bulan sampai 18 Agustus 2026. Foto: Gresnia/Wolipop.
"Jadi it's not anymore about what I want, but it's about what the customer wants. Jadi aku belajar kalau kita mendengarkan customer, itu jawabannya tuh udah ada di situ. Kita nggak perlu terlalu berdebat di ruang meeting, karena jawabannya tuh di luar ruang meeting," ungkap Linda Anggrea saat ditemui di acara Buttonscarves Tropical Paradise Takeover: Under The Sea, Land's End, PIK2, Tangerang belum lama ini.
Untuk memenangkan hati konsumen tanpa harus menurunkan harga, Buttonscarves membuka akses komunikasi langsung melalui pesan singkat digital atau direct message. Melalui jalur ini, ia dapat menangkap masukan spesifik secara real-time, mulai dari preferensi warna yang sedang diminati hingga detail potongan (cutting) pakaian yang diinginkan konsumen.
Kecepatan dalam merespons kebutuhan konsumen ini menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh kompetitor maupun brand global besar yang memiliki jalur birokrasi panjang.
Namun, Buttonscarves tidak bergerak secara spekulatif. Di tengah dinamisnya tren fashion, setiap masukan konsumen selalu divalidasi dan disandingkan kembali dengan data penjualan riil pada dasbor perusahaan.
Jika masukan dari komunitas pencinta Buttonscarves terbukti selaras dengan data produk terlaris (bestseller), manajemen akan langsung melipatgandakan produksi untuk produk tersebut. Strategi berbasis data ini terbukti ampuh meminimalisasi risiko produk tidak laku atau menumpuk di gudang.
Di pasar domestik, ekspansi gerai fisik terus diperkuat hingga mendekati angka 60 toko di seluruh Indonesia guna memberikan pengalaman belanja premium yang tidak bisa didapatkan di marketplace. Setelah memperluas gerai di Bandung dan membuka cabang baru di Malang, Buttonscarves bersiap melebarkan sayap ke Bekasi, Bogor, dan Kalimantan.
Sementara untuk pasar internasional seperti Malaysia, perusahaan memilih fokus memaksimalkan penetrasi digital melalui platform e-commerce dan TikTok yang sedang tumbuh pesat. Langkah ini diambil guna mengoptimalkan biaya operasional namun tetap menghasilkan pertumbuhan yang agresif.
Melalui kombinasi antara produk berbasis masukan konsumen, validasi data yang ketat, serta penguatan citra merek yang premium, Buttonscarves membuktikan bahwa industri hijab lokal mampu bertahan dan terus berkembang tanpa harus mengorbankan nilai produk dalam pusaran perang harga di marketplace.
(gaf/eny)