Selama ini, banyak wisatawan menempatkan perlindungan perjalanan sebagai pilihan terakhir setelah tiket, hotel, dan itinerary selesai disusun. Bahkan, tidak sedikit yang menganggapnya sebagai biaya tambahan yang bisa dihilangkan demi menghemat anggaran.
Cara berpikir tersebut sebenarnya cukup umum. Sebagian besar orang lebih mudah melihat manfaat yang bersifat langsung, seperti diskon tiket atau cashback, dibandingkan manfaat yang baru terasa ketika menghadapi risiko. Padahal, justru risiko yang tidak diperkirakan itulah yang dapat membuat biaya liburan membengkak.
Setelah masa liburan sekolah berakhir, berbagai maskapai kembali menggelar travel fair dengan menawarkan promo tiket pesawat, hotel, dan paket wisata. Momentum ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mulai menyusun rencana perjalanan berikutnya dengan biaya yang lebih terjangkau.
Namun, menurut Maria Susana, Head of Travel Management & Direct Retail PT Sompo Insurance Indonesia (Sompo Indonesia), berburu promo seharusnya tidak membuat konsumen mengabaikan aspek perlindungan selama perjalanan.
"Maraknya travel fair dari berbagai maskapai menjadi kesempatan menarik bagi masyarakat untuk merencanakan liburan dengan biaya yang lebih hemat. Berbagai promo tiket pesawat, hotel, hingga paket wisata sering ditawarkan dengan potongan harga yang menggiurkan. Namun, konsumen perlu tetap bijak dan tidak tergesa-gesa hanya karena tergoda label 'promo terbatas'," ujarnya melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Senin, 20 Juli 2026.
Maria menilai keputusan membeli tiket sebaiknya didasarkan pada perencanaan yang matang, bukan sekadar karena khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah.
"Sebelum bertransaksi, pastikan tujuan perjalanan, waktu keberangkatan, serta anggaran liburan sudah direncanakan dengan matang," katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan yang baik tidak berhenti pada pencarian tiket termurah, tetapi juga mencakup bagaimana mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu perjalanan.
Mengapa Liburan Hemat Tidak Cukup Hanya dengan Tiket Murah?
Selama beberapa tahun terakhir, cara masyarakat merencanakan liburan mengalami perubahan. Jika sebelumnya banyak orang mengandalkan biro perjalanan, kini semakin banyak wisatawan yang menyusun perjalanan secara mandiri melalui aplikasi pemesanan tiket dan hotel.
Perubahan ini memberikan keleluasaan dalam memilih maskapai, menentukan jadwal, hingga menyesuaikan anggaran. Di sisi lain, tanggung jawab untuk menghitung seluruh biaya dan risiko perjalanan juga berpindah kepada wisatawan.
Akibatnya, tidak sedikit orang yang hanya membandingkan harga tiket tanpa memperhitungkan biaya lain yang mungkin muncul setelah keberangkatan.
Sebagai ilustrasi, seseorang berhasil mendapatkan tiket promo pulang-pergi dengan harga Rp1 juta. Ia merasa telah menghemat hampir Rp700 ribu dibandingkan harga normal. Namun, beberapa hari sebelum keberangkatan, jadwal rapat di kantor berubah sehingga tiket harus dijadwalkan ulang dengan biaya tambahan. Saat tiba di tujuan, bagasi yang dibutuhkan untuk menghadiri acara juga terlambat datang sehingga ia harus membeli pakaian dan perlengkapan sementara.
Secara nominal, biaya yang muncul akibat situasi tersebut bisa saja lebih besar daripada penghematan yang diperoleh saat membeli tiket promo.
Ilustrasi ini menunjukkan bahwa konsep "liburan hemat" seharusnya tidak hanya diukur dari harga tiket yang berhasil diperoleh, tetapi dari kemampuan mengendalikan total biaya perjalanan apabila terjadi hal-hal di luar rencana.
Hemat Berarti Mengurangi Potensi Kerugian
Dalam pengelolaan keuangan pribadi, menghemat bukan hanya berarti mengeluarkan uang lebih sedikit, tetapi juga mengurangi potensi kerugian di masa mendatang.
Prinsip yang sama berlaku ketika merencanakan perjalanan.
Seseorang mungkin berhasil memperoleh tiket dengan harga paling murah. Namun, apabila satu kejadian tak terduga membuat pengeluaran membengkak hingga jutaan rupiah, maka penghematan di awal menjadi kurang berarti.
Inilah perspektif yang masih jarang dibahas ketika masyarakat berburu promo perjalanan. Fokus sering kali tertuju pada besarnya diskon, padahal pengelolaan risiko merupakan bagian yang tidak kalah penting dalam memastikan anggaran tetap terkendali.
Risiko Apa Saja yang Tetap Bisa Terjadi Saat Bepergian?
Ada anggapan bahwa perjalanan ke negara-negara ASEAN relatif aman karena jaraknya dekat dan waktu tempuhnya singkat. Persepsi ini membuat sebagian wisatawan merasa tidak perlu memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan perjalanan.
Padahal, risiko tidak ditentukan oleh seberapa jauh destinasi yang dikunjungi.
Maria Susana mengingatkan bahwa berbagai kendala tetap dapat terjadi kapan saja, bahkan ketika tujuan perjalanan berada di kawasan yang berdekatan dengan Indonesia.
"Banyak wisatawan yang sering menganggap enteng perjalanan ke sesama negara ASEAN karena jarak yang dekat. Padahal risiko seperti sakit mendadak, kecelakaan ringan, kehilangan dokumen perjalanan, hingga keterlambatan penerbangan tetap dapat terjadi kapan saja," jelasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa risiko perjalanan lebih berkaitan dengan situasi yang tidak dapat diprediksi daripada jarak tempuh.
Beberapa risiko yang paling umum dialami wisatawan antara lain:
keterlambatan atau pembatalan penerbangan;
kehilangan atau kerusakan bagasi;
kehilangan paspor atau dokumen perjalanan;
sakit mendadak selama liburan;
kecelakaan ringan yang memerlukan penanganan medis;
perubahan jadwal perjalanan akibat kondisi tertentu.
Masing-masing situasi tersebut mungkin tidak terjadi pada setiap perjalanan. Namun, ketika salah satunya muncul, dampaknya tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat menambah pengeluaran yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Risiko Kecil Bisa Berdampak Besar terhadap Anggaran
Banyak orang menganggap keterlambatan penerbangan sebagai gangguan kecil yang hanya menghabiskan waktu. Padahal, dalam kondisi tertentu, keterlambatan dapat memicu efek berantai.
Misalnya, wisatawan terlambat tiba di kota tujuan sehingga harus memesan transportasi alternatif dengan tarif lebih mahal. Jadwal check-in hotel pun bisa terganggu, bahkan agenda perjalanan yang telah disusun harus diubah. Jika perjalanan dilakukan untuk menghadiri acara penting atau pertemuan bisnis, dampaknya bisa lebih besar lagi.
Begitu pula ketika dokumen perjalanan hilang atau bagasi tidak tiba bersamaan dengan penumpang. Selain menguras waktu untuk mengurus administrasi, wisatawan sering kali harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama menunggu masalah tersebut terselesaikan.
Situasi seperti ini memperlihatkan bahwa biaya terbesar dalam sebuah perjalanan tidak selalu berasal dari harga tiket atau akomodasi, melainkan dari kejadian yang tidak masuk dalam rencana awal. Karena itu, memahami berbagai risiko perjalanan merupakan langkah penting agar liburan tidak hanya terasa hemat di awal, tetapi juga tetap terkendali hingga perjalanan selesai.
Baca Juga: 7 Cara Mengatur Keuangan Setelah Liburan agar Dompet Tetap Aman dan Tidak Boncos
Baca Juga: Cara Beli Tiket Promo Atlantis Ancol 2026 Beli 3 Gratis 2, Cek Syarat dan Harga Terbaru Di Sini!
Mengapa Banyak Wisatawan Baru Menyadari Pentingnya Perlindungan Setelah Terjadi Masalah?
Salah satu alasan mengapa perlindungan perjalanan masih sering diabaikan adalah karena manfaatnya tidak langsung terlihat. Berbeda dengan potongan harga tiket atau cashback yang bisa langsung dirasakan saat transaksi, perlindungan perjalanan baru terasa nilainya ketika wisatawan menghadapi situasi yang tidak diharapkan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak orang cenderung lebih fokus pada pengeluaran yang terlihat saat ini dibandingkan potensi biaya yang mungkin muncul di masa depan. Akibatnya, perlindungan perjalanan kerap diposisikan sebagai pengeluaran yang bisa dikurangi agar anggaran liburan tampak lebih hemat.
Padahal, cara berpikir tersebut justru dapat menimbulkan biaya yang jauh lebih besar ketika risiko benar-benar terjadi.
Maria Susana mengungkapkan bahwa masih banyak wisatawan yang belum menjadikan perlindungan perjalanan sebagai prioritas.
"Perlindungan perjalanan sering kali belum menjadi prioritas karena dianggap sebagai biaya tambahan yang tidak diperlukan. Tidak sedikit wisatawan yang baru menyadari pentingnya perlindungan setelah menghadapi kendala di luar negeri. Padahal, nilai premi asuransi perjalanan umumnya relatif kecil dibandingkan total biaya liburan yang telah dikeluarkan," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi dan kenyataan. Banyak wisatawan beranggapan bahwa menghilangkan biaya perlindungan berarti berhasil menghemat anggaran. Padahal, penghematan tersebut bisa saja tidak sebanding dengan potensi biaya yang muncul ketika menghadapi keadaan darurat.
Mengapa Persepsi Ini Masih Sering Terjadi?
Ada beberapa faktor yang membuat perlindungan perjalanan belum menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat saat merencanakan liburan.
Pertama, sebagian besar perjalanan memang berlangsung tanpa kendala. Pengalaman tersebut membuat banyak orang merasa risiko perjalanan sangat kecil.
Kedua, promosi perjalanan umumnya lebih menonjolkan harga tiket, hotel, atau paket wisata dibandingkan edukasi mengenai pengelolaan risiko. Akibatnya, perhatian calon wisatawan lebih banyak tersedot pada besarnya potongan harga.
Ketiga, masih ada anggapan bahwa perlindungan perjalanan hanya diperlukan ketika bepergian ke negara yang jauh atau memiliki risiko tinggi. Padahal, seperti disampaikan Maria, perjalanan ke negara-negara ASEAN pun tetap memiliki potensi menghadapi berbagai kendala.
Di sinilah pentingnya mengubah cara pandang terhadap perlindungan perjalanan. Fungsinya bukan untuk mengantisipasi kejadian yang pasti terjadi, melainkan untuk mengurangi dampak apabila risiko yang kecil sekalipun benar-benar muncul.
Bagaimana Memasukkan Perlindungan Perjalanan ke Dalam Anggaran Liburan?
Banyak orang menyusun anggaran liburan dengan urutan yang hampir sama. Mereka menentukan destinasi, mencari tiket termurah, memilih hotel, menghitung biaya makan, lalu menyisakan dana untuk kebutuhan lain.
Pendekatan tersebut sebenarnya dapat disempurnakan dengan menempatkan perlindungan perjalanan sebagai salah satu komponen sejak awal, bukan setelah seluruh anggaran hampir habis.
Cara ini membuat wisatawan memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai biaya perjalanan sekaligus mengurangi kemungkinan munculnya pengeluaran tak terduga yang dapat mengganggu kondisi keuangan.
Sebagai ilustrasi, seseorang memiliki anggaran liburan sebesar Rp10 juta. Daripada mengalokasikan seluruh dana untuk tiket dan akomodasi, ia dapat membagi anggaran ke dalam beberapa pos, seperti transportasi, penginapan, konsumsi, aktivitas wisata, dana darurat, dan perlindungan perjalanan.
Pendekatan tersebut bukan berarti membuat biaya liburan menjadi lebih mahal. Sebaliknya, pembagian anggaran yang lebih seimbang justru membantu mengelola risiko sehingga pengeluaran tetap terkendali apabila terjadi kendala selama perjalanan.
Maria pun menegaskan bahwa perlindungan perjalanan sebaiknya dipandang sebagai bagian dari persiapan, bukan sebagai biaya tambahan.
"Karena itu, asuransi perjalanan sebaiknya dipandang sebagai bagian dari persiapan perjalanan yang sama pentingnya dengan tiket, akomodasi, dan dokumen perjalanan. Dengan memasukkan perlindungan perjalanan ke dalam anggaran sejak awal, wisatawan dapat menikmati liburan ke berbagai destinasi dengan lebih tenang karena memiliki perlindungan terhadap berbagai risiko yang berpotensi mengganggu rencana perjalanan," jelasnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa konsep perencanaan perjalanan kini tidak lagi hanya berfokus pada efisiensi biaya, tetapi juga pada kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi kenyamanan maupun kondisi finansial wisatawan.
Perlindungan dan Keamanan Transaksi Sama Pentingnya
Selain mempersiapkan perlindungan perjalanan, wisatawan juga perlu memastikan seluruh transaksi dilakukan melalui kanal resmi.
Travel fair sering menghadirkan berbagai penawaran menarik yang bekerja sama dengan maskapai, agen perjalanan, perbankan, maupun penyedia layanan pembayaran digital. Kondisi ini memang memberikan banyak pilihan kepada konsumen, tetapi sekaligus menuntut mereka untuk lebih teliti dalam bertransaksi.
Maria mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan aspek keamanan saat membeli tiket atau paket perjalanan.
"Selain mempertimbangkan aspek finansial, wisatawan juga perlu memastikan keamanan setiap transaksi yang dilakukan. Lakukan pembelian hanya melalui penyelenggara travel fair, maskapai, agen perjalanan dan mitra resmi yang terpercaya untuk meminimalkan risiko penipuan atau kendala administratif di kemudian hari," katanya.
Ia juga menyarankan agar setiap dokumen transaksi disimpan dengan baik sebagai bentuk antisipasi apabila terjadi masalah.
"Simpan seluruh bukti transaksi dan lakukan pengecekan ulang terhadap detail pemesanan. Langkah ini dapat membantu untuk menghindari berbagai kendala yang berpotensi mengganggu kenyamanan perjalanan yang telah direncanakan," tambah Maria.
Langkah sederhana seperti memeriksa ulang nama penumpang, jadwal penerbangan, masa berlaku paspor, hingga bukti pembayaran sering kali luput dari perhatian. Padahal, kesalahan administratif sekecil apa pun dapat mengganggu perjalanan yang telah direncanakan jauh-jauh hari.
Liburan yang Benar-Benar Hemat Adalah Liburan yang Siap Menghadapi Risiko
Selama ini, ukuran keberhasilan berburu promo sering kali hanya dilihat dari seberapa murah tiket atau paket wisata yang berhasil diperoleh. Padahal, konsep tersebut mulai bergeser seiring semakin kompleksnya kebutuhan perjalanan dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Liburan yang benar-benar hemat bukan sekadar berhasil memangkas biaya di awal, melainkan mampu menjaga agar pengeluaran tetap terkendali hingga perjalanan selesai.
Inilah perbedaan antara menghemat biaya dan mengelola risiko.
Menghemat biaya berfokus pada pengeluaran saat membeli tiket atau hotel. Sementara itu, mengelola risiko berarti mempersiapkan diri agar kejadian tak terduga tidak berubah menjadi beban finansial yang jauh lebih besar.
Perubahan cara berpikir ini menjadi semakin relevan ketika masyarakat semakin mudah memperoleh tiket murah melalui berbagai platform digital. Tantangan wisatawan saat ini bukan lagi menemukan promo, melainkan menyusun perencanaan perjalanan yang menyeluruh.
Dengan kata lain, keberhasilan merencanakan liburan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berburu diskon, tetapi juga oleh kemampuan memperkirakan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi selama perjalanan.
Penutup
Travel fair memberikan peluang bagi masyarakat untuk menikmati liburan dengan biaya yang lebih terjangkau melalui berbagai promo tiket pesawat, hotel, maupun paket wisata. Namun, harga murah sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan ketika merencanakan perjalanan.
Perencanaan yang matang juga mencakup kesiapan menghadapi risiko yang mungkin muncul, mulai dari keterlambatan penerbangan, kehilangan bagasi, hingga kondisi darurat yang memerlukan penanganan segera. Dalam konteks inilah perlindungan perjalanan memiliki peran penting sebagai bagian dari strategi mengelola risiko, bukan sekadar biaya tambahan.
Dengan menghitung seluruh kebutuhan perjalanan sejak awal, memilih mitra resmi saat bertransaksi, serta memasukkan perlindungan perjalanan ke dalam anggaran, wisatawan dapat menikmati liburan dengan rasa tenang sekaligus menjaga kesehatan finansial.
Pada akhirnya, makna liburan hemat tidak lagi hanya tentang mendapatkan tiket dengan harga termurah. Liburan yang benar-benar hemat adalah perjalanan yang direncanakan secara menyeluruh, sehingga ketika menghadapi situasi yang tidak terduga, dampaknya tidak sampai mengganggu pengalaman berlibur maupun kondisi keuangan setelah kembali ke rumah.
Baca Juga: Liburan ke Jepang Kini Makin Mahal, Ini 6 Biaya yang Sering Terlupakan Wisatawan Indonesia
Baca Juga: 5 Air Terjun Tertinggi di Indonesia, Jadi Rekomendasi Wisata untuk Liburan
FAQ
Apa yang dimaksud perlindungan perjalanan?
Perlindungan perjalanan merupakan bentuk perlindungan terhadap berbagai risiko yang dapat terjadi sebelum maupun selama bepergian, seperti keterlambatan penerbangan, kehilangan bagasi, kehilangan dokumen perjalanan, hingga kondisi darurat tertentu yang dapat menimbulkan kerugian finansial.
Mengapa perlindungan perjalanan penting meski liburan ke negara ASEAN?
Risiko perjalanan tidak ditentukan oleh jarak destinasi. Perjalanan ke negara-negara ASEAN tetap berpotensi mengalami keterlambatan penerbangan, kehilangan paspor, bagasi bermasalah, atau kondisi kesehatan yang memerlukan penanganan sehingga perlindungan perjalanan tetap relevan.
Kapan sebaiknya membeli perlindungan perjalanan?
Perlindungan perjalanan sebaiknya dipertimbangkan sejak menyusun anggaran liburan. Dengan memasukkannya ke dalam perencanaan sejak awal, wisatawan dapat memperkirakan total biaya perjalanan secara lebih akurat dan tidak menganggapnya sebagai pengeluaran mendadak.
Apakah perlindungan perjalanan hanya diperlukan untuk perjalanan ke luar negeri?
Tidak selalu. Perjalanan domestik juga memiliki risiko, seperti keterlambatan penerbangan, pembatalan perjalanan, atau kehilangan bagasi. Kebutuhan perlindungan bergantung pada karakteristik perjalanan, bukan semata-mata lokasi tujuan.
Apa saja yang perlu dipersiapkan selain tiket dan hotel?
Selain tiket dan akomodasi, wisatawan sebaiknya menyiapkan dokumen perjalanan, anggaran konsumsi, transportasi lokal, dana darurat, perlindungan perjalanan, serta memastikan seluruh transaksi dilakukan melalui penyedia layanan resmi.
Bagaimana cara merencanakan liburan yang hemat sekaligus aman?
Mulailah dengan menentukan anggaran secara menyeluruh, membandingkan penawaran secara cermat, memahami syarat dan ketentuan promo, memilih mitra resmi saat bertransaksi, serta mempertimbangkan perlindungan perjalanan sebagai bagian dari persiapan agar risiko selama liburan dapat dikelola dengan lebih baik.