Sawahlunto (ANTARA) - Program LENTERA dari Universitas Negeri Padang (UNP) menghadirkan pendampingan psikososial bagi delapan anak usia 5–12 tahun penghuni Rumah Singgah Cahaya, Kota Padang, Sumatera Barat, selama menjalani proses pengobatan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNP Lailatur Rahmi, di Padang, Kamis, mengatakan pendampingan dirancang untuk memberi ruang bagi anak mengenali dan mengekspresikan emosi, membangun hubungan sosial, mengikuti aktivitas positif, serta menumbuhkan harapan.
"Pendampingan psikososial penting agar anak tetap memiliki ruang untuk mengenali dan mengekspresikan perasaan, berinteraksi dengan lingkungan, serta membangun harapan selama menjalani proses pengobatan," katanya.
Lailatur mengatakan pengembangan LENTERA berangkat dari diskusi tim dengan pihak Rumah Singgah Cahaya mengenai tantangan psikososial yang dihadapi anak selama menjalani pengobatan, antara lain kesulitan mengelola emosi, menarik diri, perilaku agresif, dan kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 31 Agustus 2025 tersebut menggunakan pendekatan Positive Psychology Intervention (PPI) dengan model PERMA, yakni Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, dan Accomplishment.
Dalam pelaksanaannya, peserta mengikuti kegiatan Kenali Perasaanku untuk mengenali dan mengekspresikan emosi melalui media cerita. Storytelling Cycle dan Cycle of Fighter digunakan sebagai ruang berbagi pengalaman dan membangun interaksi dengan teman sebaya.
Peserta juga mengikuti Misi Ceria melalui permainan ular tangga dengan sejumlah misi sederhana serta Tree of Hope dengan menuliskan harapan pada media berbentuk pohon.
Pendampingan turut diberikan kepada orang tua melalui kegiatan journaling untuk memberikan ruang dalam menuangkan pengalaman, pikiran, dan perasaan selama mendampingi anak menjalani pengobatan.
Pengurus Rumah Singgah Cahaya turut mendampingi kegiatan dan menyampaikan bahwa aktivitas tersebut membantu anak lebih aktif, antusias, serta memiliki kegiatan positif selama berada di rumah singgah.
Lailatur mengatakan evaluasi dilakukan melalui pengamatan keterlibatan peserta, refleksi pengalaman, dan post-test setelah kegiatan. Tim juga menggunakan pre-test dan post-test Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) versi Indonesia untuk melihat perubahan kondisi psikososial peserta.
Hasil evaluasi digunakan untuk menilai ketercapaian tujuan pendampingan pada aspek regulasi emosi, keterlibatan, hubungan sosial, makna, dan pencapaian.
Untuk menjaga keberlanjutan, tim menyiapkan buku pedoman, Training of Trainers bagi pengurus dan relawan, serta lembar monitoring agar pendampingan dapat dilanjutkan oleh pihak Rumah Singgah Cahaya.