PBB (ANTARA) - Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan lebih dari 6.500 warga Palestina harus mengungsi dari rumah mereka di Tepi Barat sejak 2023 akibat serangan-serangan pemukim Israel maupun tindakan pembatasan akses.
Seturut laporan yang dirilis Kamis (24/9), OCHA menyatakan peta terbaru memperlihatkan titik-titik komunitas Palestina yang terusir dari rumah mereka dan lokasi lebih dari 6.000 serangan pemukim Israel yang menimbulkan korban jiwa maupun rumah warga Palestina sejak 2023.
Menurut OCHA, 49 komunitas Palestina sudah sepenuhnya terusir dan 83 komunitas lainnya sebagian terusir. Sedikitnya 88.000 batang pohon dan bibit pohon, sumber mata pencaharian bagi banyak warga Palestina, serta lebih dari 3.100 kendaraan juga dirusak oleh para pemukim Israel.
"Warga Palestina di seluruh wilayah Palestina yang terjajah seharusnya mendapat perlindungan serta memperoleh akses terhadap rumah mereka, pohon-pohon zaitun mereka, tempat kerja mereka, sekolah-sekolah mereka, maupun berbagai kebutuhan mendasar lainnya secara aman dan terhormat," tulis OCHA.
"Para pelaku serangan seharusnya dimintai pertanggung jawaban," tulis OCHA lagi.
Secara terpisah, OCHA mengutip Dana Kependudukan PBB (UNFPA) yang melaporkan tingginya tingkat kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dan anak perempuan di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Insiden yang dilaporkan meningkat lebih dari 30 persen pada kuartal kedua tahun ini dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan perempuan dan anak perempuan menghadapi sejumlah masalah seperti penolakan akses terhadap sumber daya, peluang, dan layanan, serta mengalami kekerasan emosional, fisik, dan seksual, termasuk pernikahan paksa atau pernikahan dini.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.