Elephants

Label "Aman untuk Microwave" di Wadah Makanan Tak Selalu Berarti Aman

August 7, 2026

Jakarta -

Wadah makanan untuk dibawa pulang biasanya memiliki tanda 'aman untuk microwave' di bawahnya. Namun, apa arti sebenarnya tanda tersebut?

Ketika pesan makanan dari restoran lalu memintanya dibawa pulang, biasanya pihak restoran akan mengemasnya dalam wadah khusus. Bisa jadi thinwall plastik maupun wadah yang berbahan dasar kertas yang bisa didaur ulang.

Dalam beberapa wadah kerap tertera tanda 'Microwave - safe' atau artinya aman untuk microwave. Melihat tanda tersebut, mungkin banyak yang berasumsi bahwa tandanya tempat makan ini aman untuk dipanaskan dalam microwave.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, tidak sesederhana itu. Dilansir dari indianexpress.com (5/8), ahli gizi Sandhaya Pandev mengungkap jika arti label tersebut tidak seperti yang dipikirkan banyak orang. Tanda tersebut tidak menjamin wadah benar-benar aman dipanaskan dalam microwave.

Label 'aman untuk microwave' pada dasarnya menunjukkan bahwa wadah makanan dapat menahan suhu microwave tanpa wadah menjadi meleleh, berubah bentuk, atau melepaskan sejumlah besar bahan kimia dalam kondisi tertentu.

Namun hal tersebut tidak serta merta berarti wadah sepenuhnya bisa dipanaskan dalam durasi lama di microwave atau cocok untuk setiap jenis makanan.

Sandhaya menjelaskan jika keamanan wadah tergantung pada sejumlah faktor. Mulai dari jenis plastik atau bahan wadah tersebut, suhu yang bisa dicapai, kandungan lemak dan gula dalam makanan, dan berapa lama makanan tersebut dipanaskan.

Reusable plastic container on the counter of the storeTidak semua wadah kemasan makanan aman dipanaskan dalam microwave. Foto: iStock

Dengan kata lain, label 'aman untuk microwave' harus dilihat sebagai panduan penggunaan yang dimaksud, bukan sebagai jaminan kalau tidak akan ada zat yang akan berpindah dari wadah ke makanan.

Menurut Sandhaya, bukti menunjukkan beberapa plastik yang bersentuhan dengan makanan dapat melepaskan sejumlah kecil bahan kimia dalam plastik mikroskopis selama penggunaan normal maupun jika dipanaskan dalam microwave.

Namun risiko perpindahan tersebut cenderung lebih tinggi ketika suhu meningkat dan makanan yang dipanaskan mengandung lemak tinggi atau minyak.

Dari perspektif nutrisi dan kesehatan masyarakat, ahli ini menyarankan jika ingin meminimalkan perpindahan tersebut sebaiknya tidak memanaskan makanan dalam wadah plastik dalam jangka waktu lama, terutama untuk makanan mengandung banyak minyak atau memanaskan makanan dalam suhu sangat panas.

Selain itu, Sandhaya juga menyarankan agar pelanggan atau siapa pun memastikan kembali wadah kemasan yang disajikan di restoran. Pastikan memang benar-benar memiliki label 'aman untuk microwave' atau memiliki simbol jelas.

"Wadah yang terbuat dari polipropilena (PP) yang aman untuk microwave, diidentifikasi dengan kode daur ulang #5, umumnya merupakan salah satu pilihan plastik yang lebih baik untuk pemanasan ulang microwave," ujar Sandhaya.

Namun, lagi-lagi ia menegaskan jika nomor daur ulang tidak menjamin keamanan gelombang mikro dan harus disertai dengan label penunjuk yang aman untuk gelombang mikro. Jika wadah memang tidak memiliki label atau terlihat rusak, retak, bernoda atau menjadi rapuh dengan penggunaan berulang, sebaiknya jangan memanaskannya dalam microwave.

Beberapa wadah kemasan dibawa pulang (takeaway) juga sebaiknya dihindari. Misalnya styrofoam dan wadah plastik tipis. Pasalnya wadah ini bisa meleleh saat terkena panas dan melengkung pada suhu microwave.

Cara paling aman jika ingin memanaskan kembali makanan menurut Sandhaya yaitu dengan memindahkan makanan ke piring kaca atau keramik yang aman untuk microwave.

kesalahan yang kerap dilakukan saat menggunakan microwavePenting untuk memerhatikan proses pemanasan makanan dalam microwave. Foto: Getty Images/iStockphoto

Menurutnya, bahan keramik atau kaca stabil pada suhu tinggi dan tidak menimbulkan kekhawatiran tentang adanya perpindahan bahan kimia dari wadah ke makanan.

Lebih lanjut Sandhaya menjelaskan, "Menggunakan kaca atau keramik untuk memanaskan kembali adalah kebiasaan sederhana yang membantu mengurangi paparan yang tidak perlu terhadap kontaminan terkait kemasan sambil memastikan makanan dapat dipanaskan lebih merata."

Ahli gizi ini juga membagikan sejumlah tips untuk memanaskan kembali makanan sisa, sebagai berikut :

- Panaskan makanan sampai mencapai suhu internal sekitar 74 derajat Celcius.
- Di tengah waktu pemanasan, aduk makanan untuk mengurangi titik dingin.
- Hindari memanaskan makanan dalam microwave jika wadah sudah tergores.
- Jangan memanaskan makanan dalam wadah terbuat dari logam atau aluminium foil kecuali memang dikhususkan untuk microwave.

(aqr/adr)