Elephants

Laba BCA Tembus Rp29,5 Triliun, Kredit Pecahkan Rekor Rp1.036 Triliun: Ini Mesin Pertumbuhan Terbesar di Baliknya

July 28, 2026

Poin penting kinerja BCA semester I 2026:

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari kepercayaan nasabah serta strategi perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan prinsip kehati-hatian.

"BCA berterima kasih atas seluruh kepercayaan nasabah setia selama ini, sehingga kami dapat terus tumbuh dan memberikan pelayanan terbaik. Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor. Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan," ujar Hendra Lembong dalam konferensi pers paparan kinerja BCA Semester I-2026 yang diselenggarakan secara virtual, Selasa, 28 Juli 2026.

Mengapa Laba BCA Bisa Tembus Rp29,5 Triliun?

Besarnya laba BCA bukan semata-mata karena penyaluran kredit yang meningkat. Jika dicermati lebih dalam, terdapat beberapa mesin pertumbuhan yang saling mendukung sehingga menghasilkan kinerja yang solid.

Pertama, pertumbuhan kredit tetap berlangsung di berbagai segmen produktif. Kedua, mayoritas sumber pendanaan berasal dari dana murah atau Current Account Saving Account (CASA), sehingga biaya dana tetap efisien. Ketiga, kualitas kredit berhasil dijaga sehingga risiko kerugian akibat kredit bermasalah tetap rendah.

Dengan kombinasi tersebut, pertumbuhan bisnis tidak hanya menghasilkan pendapatan bunga yang lebih besar, tetapi juga menjaga profitabilitas perusahaan secara berkelanjutan.

Selain itu, pendapatan nonbunga juga menunjukkan peningkatan yang positif. Hingga Juni 2026, pendapatan nonbunga BCA mencapai Rp13,2 triliun, meningkat 11% yoy. Hal ini menunjukkan bahwa sumber pendapatan BCA semakin beragam dan tidak hanya bergantung pada penyaluran kredit.

Mengapa Kredit BCA yang Menembus Rp1.000 Triliun Menjadi Tonggak Penting?

Angka Rp1.036 triliun bukan sekadar rekor nominal. Pencapaian tersebut mencerminkan kapasitas intermediasi BCA yang semakin besar dalam menyalurkan dana masyarakat kembali ke sektor riil.

Yang menarik, pertumbuhan kredit tersebut lebih banyak ditopang oleh pembiayaan produktif dibanding konsumtif.

Per semester I 2026, kredit produktif mencapai Rp802 triliun, meningkat 11% yoy. Di dalamnya terdapat pembiayaan korporasi sebesar Rp513,4 triliun atau tumbuh 13,6% yoy, sementara kredit komersial dan UKM meningkat 6,6% yoy menjadi Rp288,5 triliun.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi BCA lebih banyak diarahkan untuk mendukung aktivitas dunia usaha, investasi, dan ekspansi bisnis dibanding hanya mendorong konsumsi masyarakat.

Dari perspektif ekonomi, pola pertumbuhan seperti ini memiliki efek berganda (multiplier effect) yang lebih besar karena pembiayaan produktif berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas produksi, hingga mendorong investasi baru.

Mengapa CASA Menjadi Mesin Laba BCA?

Di balik laba yang besar, terdapat satu indikator yang sering luput dari perhatian pembaca umum, yakni CASA.

CASA merupakan gabungan dana yang berasal dari giro dan tabungan. Berbeda dengan deposito yang biasanya menawarkan bunga lebih tinggi, giro dan tabungan memiliki biaya dana yang relatif lebih rendah bagi bank.

Semester I 2026, CASA BCA mencapai Rp1.082 triliun, tumbuh 10,2% yoy, dengan porsi sekitar 84,3% dari total DPK yang mencapai Rp1.284 triliun.

Dominasi dana murah ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif BCA.

Sebagai ilustrasi sederhana, bayangkan ada dua bank yang sama-sama menyalurkan kredit senilai Rp100 triliun. Bank pertama memperoleh sebagian besar dana dari deposito berbunga tinggi, sedangkan bank kedua didominasi tabungan dan giro. Meskipun jumlah kredit yang disalurkan sama, bank kedua akan memiliki biaya pendanaan yang lebih rendah sehingga ruang untuk menghasilkan laba menjadi lebih besar.

Inilah alasan mengapa tingginya CASA sering dianggap lebih penting daripada sekadar pertumbuhan DPK. Dana murah memberi fleksibilitas bagi bank untuk menjaga margin keuntungan sekaligus tetap kompetitif dalam menyalurkan kredit.

BCA juga menyebut Cost of Fund (CoF) perusahaan tetap terjaga secara konsisten, memperkuat efisiensi bisnis di tengah dinamika pasar.

Baca Juga: Perkuat Layanan BNPL, Indodana Finance Kantongi Pendanaan Rp1,5 Triliun dari Bank BCA

Baca Juga: Meski Ekonomi Diprediksi Melambat, Mirae Tetap Jagokan BBCA dan BRIS, Ini Alasannya

Apa Arti Rasio NPL dan LAR yang Tetap Rendah bagi Kinerja BCA?

Di tengah agresivitas penyaluran kredit, tantangan terbesar yang dihadapi bank bukan hanya bagaimana menyalurkan pembiayaan, tetapi juga memastikan kredit tersebut tetap berkualitas. Dalam konteks ini, BCA berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko.

Per semester I 2026, rasio Loan at Risk (LAR) BCA tercatat 4,9%, sedangkan Non Performing Loan (NPL) berada di level 1,9%. Kedua indikator tersebut menjadi ukuran penting dalam menilai kesehatan portofolio kredit suatu bank.

Secara sederhana, NPL menunjukkan porsi kredit yang mengalami masalah pembayaran, sementara LAR menggambarkan potensi kredit yang berisiko mengalami penurunan kualitas. Semakin rendah kedua rasio tersebut, semakin kecil pula risiko bank harus membentuk cadangan kerugian yang dapat menggerus laba.

Di sinilah letak salah satu kekuatan model bisnis BCA. Perseroan tidak hanya berhasil meningkatkan volume kredit, tetapi juga menjaga kualitas pinjaman tetap sehat. Hal ini menunjukkan bahwa strategi ekspansi yang dijalankan tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian.

Bagi investor, kondisi ini menjadi sinyal positif karena laba yang dihasilkan memiliki fondasi yang lebih berkelanjutan. Sebaliknya, jika pertumbuhan kredit diikuti lonjakan NPL, keuntungan bank berpotensi tertekan akibat meningkatnya biaya pencadangan.

Green Financing Tumbuh Dua Digit, Sinyal Perubahan Arah Pembiayaan

Di luar pertumbuhan kredit konvensional, BCA juga mencatat perkembangan signifikan pada pembiayaan berkelanjutan atau green financing. Hingga semester I 2026, nilai kredit hijau perseroan mencapai Rp123 triliun, meningkat 19% yoy.

Yang paling menonjol adalah pembiayaan untuk sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) yang melonjak 82% yoy menjadi Rp7,7 triliun. Sementara itu, kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 25% yoy hingga mencapai Rp4 triliun.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon mulai membuka peluang bisnis baru bagi industri perbankan. Jika beberapa tahun lalu pembiayaan hijau masih dipandang sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, kini sektor tersebut mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan kredit.

Fenomena ini juga mencerminkan perubahan kebutuhan dunia usaha. Semakin banyak perusahaan yang berinvestasi pada proyek energi bersih, efisiensi energi, maupun kendaraan listrik untuk memenuhi tuntutan regulasi dan target keberlanjutan. Di sisi lain, bank memperoleh peluang memperluas portofolio pembiayaan pada sektor-sektor yang diperkirakan terus berkembang dalam jangka panjang.

Inovasi Digital Ikut Mendorong Pertumbuhan Pendapatan Nonbunga

Selain mengandalkan bisnis intermediasi, BCA terus memperkuat ekosistem layanan digital sebagai sumber pertumbuhan baru. Strategi ini terlihat dari berbagai fitur yang ditambahkan ke aplikasi myBCA sepanjang semester pertama tahun ini.

Kini, nasabah dapat membuka rekening efek dan Rekening Dana Nasabah (RDN) BCA Sekuritas langsung melalui myBCA. Perseroan juga menyediakan layanan pengajuan kartu kredit baru maupun kartu tambahan secara digital.

Di sektor gaya hidup, myBCA turut menghadirkan fitur pembelian tiket pesawat melalui tiket.com, melengkapi layanan pembelian tiket kereta api dan kapal yang telah tersedia sebelumnya.

Beragam inovasi tersebut ikut berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas transaksi nasabah. Dampaknya tercermin pada pendapatan nonbunga BCA yang mencapai Rp13,2 triliun, atau tumbuh 11% yoy hingga Juni 2026.

Bagi bank besar seperti BCA, pendapatan nonbunga menjadi semakin penting karena tidak sepenuhnya bergantung pada selisih bunga kredit dan simpanan. Semakin aktif nasabah menggunakan layanan transaksi, investasi, pembayaran, maupun produk digital lainnya, semakin besar pula peluang bank memperoleh fee based income.

Lebih dari Sekadar Laba, Tonggak Rp1.000 Triliun Menunjukkan Skala Bisnis Baru

Jika hanya melihat angka laba, publik mungkin akan menganggap semester I 2026 sebagai satu lagi periode dengan kinerja positif bagi BCA. Namun, pencapaian yang lebih strategis justru terletak pada keberhasilan perseroan membawa total kredit menembus Rp1.036 triliun untuk pertama kalinya.

Tonggak ini menandai bahwa kapasitas intermediasi BCA telah memasuki level baru. Semakin besar portofolio kredit yang dikelola dengan kualitas aset tetap terjaga, semakin besar pula peluang perusahaan menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan pada masa mendatang.

Menariknya, pencapaian tersebut tidak didorong oleh ekspansi yang terlalu agresif. Sebaliknya, BCA tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian dengan menjaga likuiditas, mempertahankan dominasi dana murah, serta mengendalikan rasio kredit bermasalah.

Dengan kata lain, sejarah baru yang dicetak BCA bukan hanya soal melewati angka psikologis Rp1.000 triliun. Lebih dari itu, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan skala bisnis masih berjalan seiring dengan disiplin pengelolaan risiko. Bagi industri perbankan, kombinasi seperti inilah yang sering kali menjadi pembeda antara pertumbuhan jangka pendek dan pertumbuhan yang mampu dipertahankan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Bagaimana Cara Main Gacha BCA? Begini Panduan Lengkap Mengumpulkan Poin hingga Klaim Hadiah

Baca Juga: ShopeePay Hadirkan Fitur Tarik Tunai Tanpa Rekening Lewat ATM BCA

Penghargaan Nasional dan Internasional Perkuat Reputasi BCA

Kinerja keuangan yang solid juga diikuti dengan pengakuan dari berbagai lembaga nasional maupun internasional. Pada semester I 2026, BCA kembali mempertahankan posisinya sebagai bank terbaik di Indonesia versi Forbes, sebuah penghargaan yang mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga kualitas layanan dan kepercayaan nasabah.

Di sisi lain, BCA juga menerima empat penghargaan dari Kementerian Keuangan RI sebagai Mitra Distribusi dan Dealer Utama Surat Utang Negara (SUN). Penghargaan ini menunjukkan peran strategis BCA tidak hanya sebagai lembaga intermediasi, tetapi juga sebagai mitra pemerintah dalam mendukung pendalaman pasar keuangan domestik.

Pada aspek sumber daya manusia, BCA meraih HR Asia Best Companies to Work for in Asia, HR Asia Tech Empowerment Award 2026, serta LinkedIn Talent Awards 2025 untuk kategori Best Employer Branding bagi perusahaan berskala besar.

Beragam penghargaan tersebut memang tidak secara langsung memengaruhi laba perusahaan. Namun, dalam jangka panjang, reputasi yang kuat dapat menjadi keunggulan kompetitif karena membantu perusahaan menarik talenta terbaik sekaligus memperkuat kepercayaan investor dan nasabah.

Bakti BCA Dorong Dampak Sosial dari Pendidikan hingga Pariwisata

Di luar bisnis inti, BCA juga terus menjalankan berbagai program Corporate Shared Value (CSV) melalui Bakti BCA. Berbeda dengan program tanggung jawab sosial yang berfokus pada pemberian bantuan, pendekatan CSV menekankan penciptaan nilai bersama antara perusahaan dan masyarakat.

Salah satu program yang dijalankan adalah Genera-Z Berbakti, yang memfasilitasi empat tim mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk mengabdi di desa-desa binaan Bakti BCA. Program tersebut bertujuan mendorong generasi muda terlibat langsung dalam pengembangan masyarakat sekaligus mencari solusi atas berbagai tantangan di tingkat desa.

Di bidang pendidikan, Bakti BCA menggelar pelatihan matematika menggunakan metode GASING (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) bagi siswa dan guru di Aceh Tamiang sebagai bagian dari upaya membantu pemulihan masyarakat terdampak bencana. Selain itu, program BCA Berbagi Ilmu juga terus digelar di berbagai perguruan tinggi dengan menghadirkan para pimpinan BCA untuk berbagi pengalaman kepada mahasiswa.

Pada sektor kesehatan, Bakti BCA berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi, deteksi dini, serta penyaluran paket alat deteksi preeklamsia kepada Puskesmas Cisompet di Garut, Jawa Barat.

Sementara pada bidang budaya, Bakti BCA bersama Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI) memperkenalkan produk tenun berbahan pewarna alami melalui Tenun Exhibition di Indonesia House Amsterdam, Belanda. Di sektor pariwisata, BCA juga mengajak pelaku industri pariwisata dari Singapura dan Malaysia mengunjungi Desa Bakti BCA Bukit Peramun di Belitung melalui kegiatan familiarization trip.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa strategi keberlanjutan BCA tidak hanya diwujudkan melalui pembiayaan hijau, tetapi juga melalui pengembangan kualitas sumber daya manusia, pelestarian budaya, hingga penguatan destinasi wisata berbasis masyarakat.

Tonggak Rp1 Triliun Lebih Penting daripada Sekadar Laba

Laba Rp29,5 triliun tentu menjadi capaian yang mengesankan. Namun, jika melihat lebih jauh, pencapaian yang paling strategis justru adalah keberhasilan BCA membawa total kredit menembus Rp1.036 triliun untuk pertama kalinya.

Dalam industri perbankan, laba dapat naik atau turun mengikuti siklus ekonomi, perubahan suku bunga, hingga kondisi pasar. Sebaliknya, skala portofolio kredit yang terus bertumbuh dengan kualitas aset yang tetap terjaga mencerminkan kemampuan bank menjalankan fungsi intermediasi secara berkelanjutan.

Data semester I 2026 memperlihatkan bahwa pertumbuhan BCA bukan dibangun di atas ekspansi yang berisiko. Sebaliknya, perusahaan tetap mempertahankan dominasi dana murah melalui rasio CASA sebesar 84,3%, menjaga NPL di level 1,9%, serta terus memperbesar porsi kredit produktif yang menjadi motor aktivitas ekonomi.

Kombinasi inilah yang membuat pencapaian BCA layak dipandang lebih dari sekadar laporan keuangan enam bulanan. Tonggak kredit Rp1.000 triliun menjadi indikator bahwa skala bisnis perusahaan telah memasuki fase baru, dengan fondasi yang relatif kuat untuk menopang pertumbuhan pada periode berikutnya.

Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi mengejar angka kredit yang lebih tinggi, melainkan mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, efisiensi pendanaan, dan inovasi digital di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Bagi pelaku industri maupun investor, kinerja semester I 2026 menjadi gambaran bahwa keberhasilan sebuah bank tidak hanya ditentukan oleh besarnya laba, tetapi juga oleh kemampuan menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Karena itu, perkembangan BCA hingga akhir tahun akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah industri perbankan nasional di tengah perubahan kondisi ekonomi.

Pantau terus perkembangan kinerja emiten perbankan dan kebijakan sektor keuangan untuk mengetahui bagaimana strategi BCA dan bank-bank besar lainnya beradaptasi menghadapi tantangan ekonomi pada paruh kedua 2026.

FAQ

Berapa laba BCA pada semester I 2026?

BCA dan entitas anak membukukan laba sebesar Rp29,5 triliun pada semester I 2026. Kinerja tersebut didukung oleh pertumbuhan kredit, dominasi dana murah (CASA), peningkatan pendapatan nonbunga, serta kualitas aset yang tetap terjaga dengan rasio NPL sebesar 1,9%.

Berapa total kredit BCA hingga semester I 2026?

Total kredit yang disalurkan BCA mencapai Rp1.036 triliun, tumbuh 8% yoy. Ini merupakan pertama kalinya portofolio kredit BCA menembus angka psikologis Rp1.000 triliun.

Apa faktor utama yang mendorong pertumbuhan laba BCA?

Pertumbuhan laba BCA ditopang oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan kredit produktif, dominasi dana murah (CASA) yang mencapai 84,3% dari total DPK, kenaikan pendapatan nonbunga menjadi Rp13,2 triliun, serta kualitas kredit yang tetap sehat.

Mengapa kredit produktif penting bagi BCA?

Kredit produktif diberikan kepada sektor usaha, korporasi, serta pelaku komersial dan UKM. Jenis pembiayaan ini berpotensi mendorong investasi, ekspansi bisnis, dan penciptaan lapangan kerja sehingga memiliki dampak ekonomi yang lebih luas dibandingkan kredit konsumsi.

Apa yang dimaksud CASA dalam perbankan?

CASA (Current Account Saving Account) adalah dana yang berasal dari giro dan tabungan. Karena biaya bunganya relatif rendah dibanding deposito, tingginya CASA membantu bank menekan biaya dana (cost of fund) dan menjaga profitabilitas.

Bagaimana perkembangan pembiayaan hijau BCA?

Hingga semester I 2026, nilai green financing BCA mencapai Rp123 triliun, tumbuh 19% yoy. Pertumbuhan tersebut didorong antara lain oleh pembiayaan Energi Baru Terbarukan yang melonjak 82% menjadi Rp7,7 triliun dan kredit kendaraan listrik yang naik 25% menjadi Rp4 triliun.