Jakarta (ANTARA) - Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) menjadi momentum bagi Indonesia untuk membuka peluang investasi dan pasar ekspor baru.
Faisal mengatakan dinamika global yang semakin terfragmentasi membuat Indonesia perlu mencari opsi kerja sama baru untuk meminimalkan risiko sekaligus menggali peluang ekonomi yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
“Memang perlu dicari opsi-opsi untuk kerja sama yang bisa, pertama, meminimalisir risiko dari fragmentasi global tersebut, dan yang kedua tentu saja untuk melihat peluang-peluang baru yang belum banyak tergali," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut Faisal, kehadiran Presiden dalam EEF juga positif karena forum tersebut dapat dimanfaatkan Indonesia untuk menggali potensi kerja sama dengan berbagai negara, tidak hanya Rusia tetapi juga negara-negara di kawasan Asia, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
Dia menilai posisi Indonesia sebagai negara besar, hubungan historis dengan sejumlah negara, serta keanggotaan Indonesia dalam BRICS dapat menjadi modal untuk memperluas kerja sama ekonomi.
Di sisi lain, dia mengakui kerja sama dengan Rusia dan negara lain di tengah tensi geopolitik global memiliki tantangan, terutama terkait pembatasan dan sanksi.
Faisal menilai Indonesia perlu tetap menjalin hubungan dengan berbagai kelompok negara untuk menjaga ruang kerja sama ekonomi di tengah fragmentasi global.
Menurut dia, kemampuan diplomasi menjadi penting untuk memastikan Indonesia tetap dapat memanfaatkan peluang perdagangan dan investasi sekaligus mengelola risiko yang muncul akibat persaingan geopolitik global.
Dalam forum Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9), Presiden Prabowo mengusulkan agar Indonesia dan Rusia menggandakan nilai perdagangan melalui implementasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Eurasian Economic Union (I-EAEU), yang terdiri atas Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia.
Sementara itu, data Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai perdagangan ekspor-impor bilateral Indonesia dan Rusia mencapai 4,84 miliar dolar AS sepanjang 2025. Sementara pada Januari—Juli 2026, nilai perdagangan kedua negara mencapai 3,6 miliar dolar AS.
Menurut Prabowo, Indonesia memiliki sejumlah komoditas seperti minyak sawit, kopi, produk perikanan, karet, tekstil, dan barang konsumsi, sementara Rusia memiliki keunggulan antara lain pada sektor gandum, pupuk, energi, serta teknologi sains dan rekayasa. Prabowo juga menilai Indonesia dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha Eurasia ke pasar ASEAN yang memiliki sekitar 680 juta penduduk.
Pewarta : Shofi Ayudiana
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026