Kowani luncurkan gerakan nasional dukung tempe ke UNESCO
Senin, 27 Juli 2026 19:35 WIB
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Nannie Hadi Tjahjanto (tengah) berfoto bersama Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pangan Kasan serta narasumber di Seminar Nasional Menguatkan Ketahanan Pangan Nasional, di Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA/Aria Ananda
Jakarta (ANTARA) - Kongres Wanita Indonesia (Kowani) meluncurkan gerakan nasional untuk mendukung pencalonan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO melalui penguatan ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, dan hilirisasi pangan lokal.
Ketua Umum Kowani Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan gerakan tersebut menjadi bagian dari empat gerakan yang disiapkan pihaknya menuju usia ke-100 Kowani pada 2028, sekaligus memperluas kontribusi perempuan dalam pembangunan nasional.
"Hari ini Kowani meluncurkan empat gerakan strategis nasional yang saling terintegrasi sebagai fondasi memasuki abad kedua perjuangan dan peradaban perempuan Indonesia," kata Nannie dalam seminar Menguatkan Ketahanan Pangan Nasional di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin.
Empat gerakan itu meliputi Kick-Off Festival Panen Raya Kowani untuk penguatan ketahanan pangan nasional, Kick-Off Kowani Car Free Day melalui Fun Walk Gerakan Nasional Tempe Goes to UNESCO yang dilaksanakan pada 9 Agustus, Pengembangan Pamong Pramuka Kowani sebagai gerakan kaderisasi pembentukan karakter pada 14 Agustus, serta transformasi digital melalui laman resmi dan portal Ruang Perempuan.
Nannie menjelaskan agenda Festival Panen Raya menjadi langkah awal membangun ekosistem pemberdayaan perempuan berbasis ketahanan pangan yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
"Kami tidak ingin berhenti pada seremoni. Kami ingin membangun sistem, membangun model, dan membangun bukti keberhasilan," ujarnya.
Ia menjelaskan Kowani akan mengembangkan desa binaan sebagai percontohan pemberdayaan perempuan, ketahanan keluarga, pembangunan desa, dan ekonomi rakyat yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Program tersebut mencakup penguatan kelompok wanita tani, koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hilirisasi pangan lokal, penerapan teknologi tepat guna, serta pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi sirkular.
Menurut Nannie, ketahanan pangan dipilih sebagai titik awal gerakan, karena berkaitan langsung dengan kesehatan, kesejahteraan keluarga, keberlangsungan petani dan nelayan, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Ia menambahkan perempuan memiliki peran penting dalam seluruh rantai pangan, mulai dari produksi, pengolahan hasil pertanian, hingga pengelolaan konsumsi keluarga dan usaha pangan.
Data Kementerian Koordinator Bidang Pangan menunjukkan perempuan mencakup 41,7 persen tenaga kerja pertanian. Selain itu, lebih dari 30 persen perempuan terlibat dalam pengelolaan lahan pertanian dan pekarangan, sedangkan lebih dari 60 persen berperan dalam penyediaan pangan keluarga.
"Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan pangan tersedia, ketahanan pangan adalah memastikan setiap keluarga memperoleh pangan yang sehat, bergizi, aman, terjangkau, dan berkelanjutan," ujar dia.
Terkait Gerakan Tempe Goes to UNESCO, Nannie mengatakan pihaknya memberikan dukungan karena tempe tidak hanya menjadi pangan tradisional Indonesia, tetapi juga menopang banyak pelaku UMKM perempuan.
"Tempe pun kita harapkan menjadi tempe yang diakui dunia sebagai kearifan lokal, menjadi warisan budaya tak benda oleh UNESCO," ujar Nannie.
Dalam acara yang sama, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pangan Kasan yang hadir mewakili Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem pangan nasional.
"Tidak ada negara yang mampu membangun ketahanan pangan yang kokoh apabila perempuan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap lahan, pembiayaan, teknologi, pendidikan, maupun pasar," kata Kasan.
Ia mengatakan hilirisasi diperlukan agar hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan selanjutnya mengapresiasi gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO karena dinilai dapat memperkuat diplomasi pangan Indonesia sekaligus memperkenalkan pengetahuan tradisional dan kearifan lokal kepada masyarakat dunia.
"Tempe adalah hasil inovasi budaya nusantara yang menggabungkan ilmu pengetahuan tradisional, kearifan lokal, nilai kesehatan, serta keberlanjutan lingkungan. Oleh sebab itu upaya mendorong tempe sebagai warisan budaya tak benda UNESCO bukan semata-mata pengakuan internasional tapi juga strategi memperkuat diplomasi pangan Indonesia di tingkat global," ujar Kasan.
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Popy Rufaidah mendorong Kowani menjadikan Festival Panen Raya sebagai gerakan penyerapan produk petani lokal dengan harga yang layak.
Ia juga mendorong UMKM binaan Kowani menjadi pemasok bahan pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, serta mengembangkan pangan lokal, koperasi perempuan, dan pekarangan pangan di tingkat desa.
Terkait sisi ketahanan pangan, Popy menyampaikan bahwa cadangan beras pemerintah per 1 Juli 2026 mencapai 5,17 juta ton, sedangkan proyeksi produksi beras nasional pada Januari-Agustus 2026 diperkirakan mencapai 25,28 juta ton.
Selain itu, pemerintah menargetkan pembentukan 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dengan sekitar 35.000 koperasi ditargetkan mulai beroperasi pada Agustus 2026 sebagai simpul distribusi pangan dan penyerap hasil panen di desa.
Pewarta : Aria Ananda
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026