Banda Aceh (ANTARA) - Kota Sabang, Aceh dijadikan ruang belajar riset kelautan internasional oleh peneliti dari berbagai negara dalam program lapangan UTM-PORSEC-USK 2026 yang melibatkan akademisi dan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, Vietnam hingga Thailand.
"Kami sangat senang dan merasa terhormat karena Kota Sabang telah dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Program Lapangan UTM-PORSEC-USK 2026,” kata Wakil Wali Kota Sabang, Suradji Junus, di The Pade Dive Resort, Sabang, Rabu.
Program dengan tajuk "Capacity Building on Ocean Remote Sensing Towards Climate Resilience," tersebut memanfaatkan lingkungan laut dan pesisir Sabang sebagai bagian dari pembelajaran penginderaan jauh kelautan untuk memperkuat ketahanan menghadapi perubahan iklim.
Kegiatan ini turut dihadiri Dr Stefano Vignudelli dari Badan Riset Nasional Italia-CNR, Associate Dr Nurul Hazrina Binti Idris, Profesor Universiti Teknologi Malaysia sekaligus Direktur Kemitraan Global UTM. Dr Van Duong Nguyen, Direktur Departemen Kebumian Badan Riset Nasional Vietnam-VAST, Associate.
Kemudian, Dr Haekal Azief Haridhi, Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan USK, Sofyatuddin Karina, Ketua Program Studi Ilmu Kelautan FKP USK, serta para instruktur, peneliti, kolega, mitra dan peserta program.
Suradji mengatakan, program tersebut sangat relevan dengan kondisi Sabang sebagai kota kepulauan. Di mana, laut dan wilayah pesisir menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat serta menopang sektor perikanan, pariwisata, keanekaragaman hayati dan pembangunan kota.
“Bagi Sabang, laut bukan hanya bagian dari kondisi geografis, tetapi bagian penting dari identitas dan kehidupan sehari-hari. Lingkungan pesisir dan laut kita menopang kehidupan masyarakat dari sektor perikanan, pariwisata, keanekaragaman hayati serta pembangunan kota,” ujarnya.
Suradji menuturkan, pemanfaatan penginderaan jauh kelautan, data satelit dan teknologi geospasial dapat membantu memahami berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan laut dan pesisir.
Teknologi tersebut juga dapat mendukung penelitian ilmiah, pemantauan lingkungan serta pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang lebih tepat berdasarkan data dan informasi.
Namun, teknologi juga harus didukung oleh pengetahuan, sumber daya manusia yang terampil, serta kolaborasi yang kuat.
Dirinya berharap, Pulau Weh tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan program, tetapi juga ruang belajar terbuka bagi peserta untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kondisi nyata di lapangan.
“Lautan menghubungkan kita semua. Tantangan seperti perubahan iklim serta pengelolaan sumber daya laut dan pesisir yang berkelanjutan tidak dapat ditangani oleh satu lembaga atau satu negara saja. Dibutuhkan ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi dan yang tak kalah penting yaitu kemitraan,” demikian Suradji Junus.
Sebagai informasi, UTM-USK-PORSEC Training 2026 merupakan program pelatihan dan peningkatan kapasitas internasional (capacity building) mengenai penginderaan jauh kelautan untuk ketahanan iklim (Ocean Remote Sensing towards Climate Resilience).
Program ini diselenggarakan berkat kerjasama antara Universitas Syiah Kuala (USK), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan PORSEC (Pacific Ocean Remote Sensing Conference), serta didukung oleh PBB (UN Ocean Decade).
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.