Elephants

Korea Selatan makin dekat ke Selat Hormuz

September 11, 2026

Korea Selatan belum memutuskan untuk mengirim pasukan ke kawasan Selat Hormuz. Namun, berdasarkan laporan Yonhap News (11/9) Seoul kini mulai mempertimbangkan kemungkinan keterlibatan dalam menjaga keamanan jalur pelayaran. 

Pemerintah Korea Selatan sebelumnya mengirim tim yang terdiri dari pejabat pertahanan dan luar negeri ke Uni Emirat Arab (UEA). Tim tersebut bertugas menilai kondisi keamanan dan operasional di sekitar Selat Hormuz, termasuk fasilitas militer, pelabuhan, serta kondisi logistik yang mungkin dibutuhkan jika Korea Selatan nantinya berkontribusi di kawasan tersebut. 

Tim tersebut telah kembali ke Korea Selatan pada Kamis (10/9/2026). Hasil peninjauan akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Meski begitu, Kementerian Pertahanan Korea Selatan menegaskan bahwa pengiriman tim tersebut tidak otomatis berarti pengerahan pasukan dilakukan. 

Lalu, mengapa Selat Hormuz menjadi perhatian?

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Jalur ini menjadi salah satu titik penting dalam perdagangan energi dunia (EIA, 11/9). 

Gangguan di kawasan tersebut mulai berdampak pada lalu lintas pelayaran. Data pelacakan kapal Kpler 2026 yang dikutip Reuters menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintas Selat Hormuz pada 10 September. Angka tersebut jauh di bawah kondisi sebelum perang, ketika sekitar 125 kapal komersial besar melintasi selat tersebut setiap hari.

Kondisi ini menjadi penting bagi Korea Selatan karena negara tersebut bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Karena itu, keterlibatan di Hormuz tidak hanya berkaitan dengan keamanan pelayaran, tetapi juga dengan kepentingan energi Korea Selatan.  

Di sisi lain, Seoul masih menghitung bentuk kontribusi yang paling memungkinkan. Pemerintah Korea Selatan menyebut beberapa opsi masih dipertimbangkan, termasuk bentuk pasukan, peralatan, dan kontribusi lain jika pengerahan militer nantinya dipilih. Belum ada keputusan final mengenai opsi tersebut.

Sambil mempertimbangkan kemungkinan keterlibatan, Korea Selatan juga masih membuka jalur komunikasi dengan Iran. Yonhap News (11/9) melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengenai situasi Timur Tengah, keamanan, serta kebebasan di Selat Hormuz.

Seoul juga menyampaikan komitmennya terhadap keamanan pelayaran melalui partisipasi dalam upaya keamanan internasional. Di saat yang sama, pembahasan dengan Amerika Serikat diperkirakan masih akan berlanjut.