Elephants

Kolaborasi manusia dan AI disebut tingkatkan produktivitas

September 23, 2026

Jakarta (ANTARA) - Anak usaha PT Astra International Tbk bidang solusi dokumen dan teknologi informasi, PT Astra Graphia Tbk (Astragraphia) menyebutkan kolaborasi manusia dan kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan produktivitas, sementara peran manusia tetap dibutuhkan.

"AI itu menggantikan peran manusia dari sisi administrasi atau repetitif, pekerjaan-pekerjaan yang repetitif atau yang menggunakan analitik. Tetapi, mereka tidak mempunyai empati dan tidak mempunyai creative thinking," kata Direktur Astra Graphia Trivena Nalsalita dalam Astra Media Day 2026 di Jakarta, Rabu.

Menurut Trivena, perkembangan otomatisasi tidak serta-merta menghilangkan peran manusia dalam proses kerja.

Ia mengatakan manusia tetap diperlukan terutama untuk pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, empati, dan pertimbangan.

"Jadi, rasanya AI dengan manusia, harusnya bisa berkolaborasi untuk menciptakan produktivitas lebih baik," ujarnya.

Ia mengatakan Astragraphia memanfaatkan AI baik dalam proses internal perusahaan maupun pada sejumlah solusi teknologi informasi yang dikembangkan perusahaan.

Dalam pengembangan aplikasi, misalnya, AI digunakan dalam proses pengodean untuk membantu meningkatkan kecepatan dan akurasi serta menemukan bagian yang memerlukan koreksi.

Pemanfaatan AI juga dilakukan di bidang keamanan siber, antara lain untuk membantu analisis saat melakukan pengujian penetrasi atau penetration test terhadap sistem pelanggan.

Sementara, dalam proses internal, Trivena mengatakan AI dimanfaatkan antara lain pada proses rekrutmen dan bidang keuangan. Menurut dia, teknologi tersebut membantu mempercepat pekerjaan dan otomatisasi proses.

Astragraphia memiliki dua portofolio bisnis utama, yakni Solusi Dokumen dan Solusi Teknologi Informasi.

Pada semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih konsolidasian Rp138 miliar, meningkat 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan bersih pada periode tersebut mencapai Rp1,556 triliun atau tumbuh 2 persen secara tahunan.

Perusahaan menyebut pertumbuhan pendapatan dan laba bersih berasal dari segmen Solusi Dokumen dan Solusi Teknologi Informasi, dengan percepatan digitalisasi proses bisnis menjadi salah satu faktor yang mendukung kinerja.

Trivena mengatakan perusahaan tidak memandang AI semata sebagai perkembangan teknologi, tetapi juga melihat penerapannya dari sisi keberlanjutan model bisnis.

"AI itu tidak hanya menjadi tren atau hype saja, tetapi kita juga harus mencari model bisnis dan menghasilkan sebuah bisnis yang memang ada recurring revenue-nya," tutur dia.

Dalam konteks ketenagakerjaan, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sebelumnya mengatakan adopsi AI di dunia kerja perlu berorientasi pada manusia dan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja nasional.

Menurut Yassierli, pemanfaatan AI tidak serta-merta berarti pengurangan tenaga kerja secara drastis. Pekerja disebut tetap perlu memperkuat keahlian di bidangnya sekaligus kemampuan memanfaatkan AI dalam pekerjaan.

Di sisi tata kelola, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menekankan prinsip human centric dan human in the loop dalam pengembangan AI.

Dengan pendekatan tersebut, AI dapat mengambil alih tugas tertentu untuk meningkatkan efisiensi, tetapi keterlibatan manusia tetap diperlukan pada keputusan tertentu.

Nezar juga menekankan tata kelola AI perlu berjalan beriringan dengan keamanan siber.

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan Peta Jalan AI Nasional 2026-2029 dan regulasi etika AI untuk membangun ekosistem AI yang bertanggung jawab.

Baca juga: Kemendikdasmen: Program Terpujilah Guru ruang pembuktian kompetensi AI

Baca juga: Menkomdigi hadiri forum PBB tentang perlindungan anak dari risiko AI

Baca juga: Siapa menguasai AI Indonesia?

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.