Elephants

Sejarah: Kisah 'Indiana Jones sungguhan' menemukan kota Inca yang hilang - BBC News Indonesia

September 6, 2026

Gene Savoy, Inka, Peru

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Penjelajah dan fotografer Amerika Serikat, Gene Savoy, berpose di reruntuhan Pajaten, 6 Juni 1966.

Telah diterbitkan sejam yang lalu

Waktu membaca: 10 menit

Pada 1911, seorang profesor asal Amerika Serikat mengklaim telah menemukan benteng pegunungan kuno milik raja Inca (atau Inka) terakhir yang tersembunyi jauh di Pegunungan Andes, Peru.

Namun, 53 tahun kemudian, penjelajah lain membuktikan bahwa ia keliru. Tak lama berselang, sebuah tim BBC mengikuti jejaknya.

"Kini tak seorang pun meragukan bahwa inilah lokasi Vilcabamba kuno," demikian tulis akademisi Yale, Hiram Bingham III, yang memperkenalkan reruntuhan Machu Picchu di Peru kepada dunia pada 1911.

Bingham III, sang profesor, direkrut oleh penduduk setempat untuk mencari kota Inca yang hilang dan termasyhur karena harta karunnya yang tersembunyi. Ia sangat yakin bahwa kota itulah yang telah ditemukannya.

Namun, sekitar 50 tahun kemudian, keyakinan Bingham dipertanyakan oleh penjelajah AS lain yang dijuluki sebagai "Indiana Jones yang sesungguhnya".

Pada Agustus 1964, Gene Savoy mengklaim telah menemukan kota hilang yang sama, sekitar 60 kilometer di barat laut Machu Picchu.

Savoy meyakini ekspedisinya berhasil mengidentifikasi benteng pegunungan milik raja Inca terakhir di Espíritu Pampa, yang berarti "Dataran Para Roh" atau Vilcabamba.

Kompleks reruntuhan itu berada di kawasan hutan awan yang terpencil, jauh di atas salah satu anak sungai Amazon.

Hanya enam minggu setelah penemuan Savoy, sebuah tim BBC mengikuti jejaknya.

Mereka menempuh perjalanan dengan perahu karet menyusuri jeram sungai, bahkan sempat terbalik, lalu mendaki lereng ngarai yang curam dengan bantuan bagal, sebelum menerobos hutan lebat untuk mencapai lokasi tersebut.

"Informasi yang mereka kumpulkan sepanjang perjalanan membuat mereka meragukan sebagian klaim Savoy," ungkap sang presenter.

"Namun, setelah menempuh perjalanan sejauh itu, mereka merasa harus terus melangkah dan melihatnya dengan mata kepala sendiri."

Taruhannya sangat besar. Mungkin saja mereka akan menemukan "jantung sebuah kota yang belum dikenal, tempat yang diduga menjadi lokasi kaisar Inca terakhir menghimpun sisa-sisa rakyatnya."

Hiram Bingham, Peru, Pampaconas

Sumber gambar, H. Bingham/Royal Geographical Society via Getty Images

Keterangan gambar, Foto ini memperlihatkan sisa-sisa bangunan peradaban Inca di Lembah Pampaconas, Peru. Ini diabadikan pada 1911 oleh Hiram Bingham, penjelajah dan akademisi yang kemudian dikenal luas karena penelitiannya di kawasan Andes.

Pada awal abad ke-20, Vilcabamba, yang dalam bahasa Quechua berarti "dataran suci", telah menjadi kota legendaris yang keberadaannya berada di antara sejarah dan mitos.

Setelah gagal mencegah pasukan penakluk Spanyol merebut ibu kotanya, Cusco, pada 1536, Raja Inca Manco memimpin rakyatnya yang telah kalah perang menuju pegunungan terpencil.

Di sanalah, menurut berbagai kisah, beberapa ribu pengikutnya membangun istana dan kuil di ibu kota pengasingan Manco.

Ke tempat itu pula sang raja diyakini membawa harta emas miliknya, berhala-berhala berlapis emas, serta mumi para leluhurnya.

Menurut biarawan abad ke-16 Martín de Murúa, yang mendokumentasikan penaklukan Peru oleh Spanyol, "Orang-orang Inca nyaris tetap menikmati kemewahan, kebesaran, dan kemegahan Cusco di negeri yang jauh, atau lebih tepatnya, negeri pengasingan itu."

Namun, Vilcabamba bukan sekadar tempat perlindungan bagi bangsa Inca. Kota itu juga menjadi pusat perlawanan terhadap kekuasaan Spanyol.

Dari sana, mereka merencanakan perang gerilya melawan penjajah dan memicu pemberontakan di berbagai wilayah lain.

Akan tetapi, pada 1572, ketika menghadapi invasi baru, bangsa Inca membakar kota tersebut dan melarikan diri.

Ibu kota terakhir bangsa Inca akhirnya ditelan hutan belantara, dan lokasi keberadaannya tetap menjadi misteri selama berabad-abad.

Perburuan kota hilang yang melegenda

Hiram Bingham direkrut oleh sejumlah tuan tanah di Peru pada 1909 untuk memastikan apakah sebuah lokasi bernama Choquequirao, yang berarti "buaian emas", merupakan kota hilang yang selama ini melegenda.

Saat itu, Bingham yang berusia 34 tahun, dan kelak menjadi senator AS, merupakan asisten profesor sejarah Amerika Latin yang kebetulan sedang melakukan perjalanan di kawasan tersebut.

Ia bukan arkeolog, dan juga tidak sedang mencari reruntuhan peninggalan Inca.

Namun, seorang pejabat pemerintah setempat bernama Juan José Núñez, tidak mau menerima penolakannya.

"Núñez bersikeras bahwa karena saya seorang doktor, pemegang gelar PhD, saya pasti mengetahui segala hal tentang arkeologi dan dapat menjelaskan kepadanya seberapa berharganya Choquequirao sebagai lokasi harta karun yang terkubur," tulis Bingham.

"Keberatan saya bahwa ia keliru menilai pengetahuan arkeologi saya justru dianggapnya sebagai bukti kerendahan hati," lanjutnya.

Hiram Bingham, Inka, Peru

Sumber gambar, Heritage Art/Heritage Images melalui Getty Images

Keterangan gambar, Hiram Bingham saat berada di meja kerjanya, 1917.

Bingham kemudian mengakui, "Saya hanya mengetahui sangat sedikit tentang bangsa Inca."

Sebagai gantinya, ia mengandalkan sebuah buku terbitan Royal Geographical Society di Inggris berjudul Hints to Travellers.

Buku tersebut berisi panduan praktis bagi para pelancong, termasuk saran mengenai apa yang harus dilakukan ketika menemukan sebuah situs arkeologi.

Dengan bekal itulah Bingham memulai penelusurannya terhadap jejak peradaban Inca, meski ia tidak memiliki latar belakang sebagai arkeolog maupun pengalaman khusus dalam penelitian arkeologi.

Meski skeptis bahwa terdapat emas di Choquequirao atau bahwa tempat itu merupakan kota hilang yang termasyhur, perjalanan tersebut tetap menginspirasi Bingham untuk memimpin ekspedisi Universitas Yale pada 1911 guna mencari tempat perlindungan terakhir bangsa Inca.

"Tampaknya ada wilayah yang belum dikenal di balik pegunungan itu, yang mungkin menyimpan banyak kemungkinan. Mungkin ibu kota Manco tersembunyi di sana," katanya.

Ironisnya, para pemandu sebenarnya telah membawa Bingham ke lokasi yang 50 tahun kemudian diidentifikasi oleh Savoy sebagai Vilcabamba. Situs tersebut terletak sekitar 150 kilometer di timur laut Cusco.

Namun, ekspedisi Bingham saat itu terkendala cuaca buruk. Persediaan makanan mulai menipis, sementara para pengangkut barang mengancam akan meninggalkan rombongan.

Dalam kondisi tersebut, ia memutuskan segera melanjutkan perjalanan dan meninggalkan lokasi itu.

Tak lama kemudian, Bingham mengklaim telah menemukan kota hilang yang dicarinya di Machu Picchu.

Penjelajah lain lanjutkan perburuan kota hilang

Pada 1964, Savoy, seorang penjelajah berusia 37 tahun asal Portland, Oregon, mencapai kawasan dekat Espíritu Pampa bersama penjelajah Peru, Antonio Santander Cascelli.

Pada awalnya, penduduk setempat menolak mengantarkan mereka ke lokasi tersebut. Mereka takut terhadap legenda suku setempat yang menyebut para dewa akan membunuh siapa pun yang mengungkap keberadaan situs itu.

Namun, setelah melalui berbagai upaya bujukan, warga Peru akhirnya bersedia memandu Savoy dan Santander menuju reruntuhan Vilcabamba yang tertutup lumut dan tersembunyi di tengah hutan.

Tiga orang Indian Peru berdiri mengenakan pakaian tradisional di atas tepian batu kota kuno Inca, Machu Picchu, dan memandang ke lembah yang dalam di salah satu sumber sungai Amazon, awal abad ke-20. Situs ini dulunya merupakan kompleks istana dan kuil, kemungkinan digunakan sebagai tempat peristirahatan musiman oleh bangsawan Inca. Kemungkinan dibangun pada pertengahan tahun 1400-an dan dihuni hingga Penaklukan Spanyol pada tahun 1532. Situs ini ditemukan kembali oleh Hiram Bingham dari Universitas Yale pada tahun 1911.

Sumber gambar, Henry Clay Gipson/Frederic Lewis/Getty Images

Keterangan gambar, Tiga orang Indian Peru berdiri mengenakan pakaian tradisional di atas tepian batu kota kuno Inca, Machu Picchu.

"Kami tak percaya dengan apa yang kami lihat," kata Savoy.

"Setiap hari, penemuan ini terasa semakin luar biasa."

Savoy dan Santander menemukan reruntuhan yang tersebar di tiga dataran tinggi pegunungan.

Kompleks tersebut mencakup sebuah istana, bangunan-bangunan dari granit dan batu kapur, serta sejumlah air mancur.

Dataran pertama saja diperkirakan memiliki luas sekitar empat kali lebih besar daripada Machu Picchu.

Hasil penjelajahan mereka di kawasan itu membuat Savoy yakin bahwa "situs ini merupakan tempat perlindungan yang digunakan oleh bangsa Inca terakhir yang terlibat dalam perjuangan terakhir melawan para penakluk baru."

Namun, setelah hanya dua pekan berada di lokasi, para pemandu mereka mulai meninggalkan ekspedisi karena takut pada takhayul yang hidup di kalangan masyarakat setempat.

"Biasanya mereka ramah dan selalu tersenyum," kata Savoy. "Tetapi ketika kami membawa mereka masuk ke hutan-hutan itu, mereka berubah."

Akhirnya, Savoy dan timnya memutuskan untuk meninggalkan kawasan tersebut dan kembali pada kesempatan lain untuk melanjutkan penyelidikan.

Hanya enam minggu setelah ekspedisi itu, sebuah tim BBC menempuh perjalanan yang sama.

"Selama 400 tahun, hanya sedikit orang Eropa yang pernah melewati jalur itu, apalagi yang membawa kamera film," tulis Tony Morrison, sutradara film yang dibuat untuk serial BBC Adventure yang dipandu David Attenborough.

"Setelah sepekan berjalan kaki menempuh medan berat dan menuruni lereng panjang menuju hutan pegunungan yang lebat serta kerap diguyur hujan, kami tiba di reruntuhan permukiman Inca tersebut."

Hutan lebat telah melindungi kota itu selama berabad-abad. Siapa pun yang berusaha menjelajahinya harus menebas pohon kapuk raksasa, sulur-sulur menjalar, tanaman merambat, dan pakis yang tumbuh rapat.

Menurut salah satu laporan, "Pepohonan besar mencengkeram dinding dan teras-teras kota dengan akarnya, sementara cabang-cabangnya terjalin oleh tanaman merambat yang tebal dan kuat seperti kabel telepon."

Savoy sendiri tidak menyembunyikan frustrasinya terhadap medan yang dihadapi.

"Saya benci hutan sialan itu," katanya.

Namun, ia segera menambahkan pernyataan yang mencerminkan semangat petualangnya: "Saya lebih memilih mati di sana daripada tidak menjelajahinya."

Inca warriors, painting on an old Peruvian vase. (Photo by: Bildagentur-online/Universal Images Group via Getty Images)

Sumber gambar, Bildagentur-online/Universal Images Group via Getty Images

Keterangan gambar, Inca warriors, painting on an old Peruvian vase.

Penemuan Savoy dan Santander belum serta-merta membuktikan bahwa reruntuhan di Espíritu Pampa adalah ibu kota terakhir bangsa Inca.

Namun, salah satu temuan mereka di lokasi itu kemudian menjadi petunjuk penting yang mengarah pada konfirmasi bahwa situs tersebut memang Vilcabamba: genteng atap.

"Genteng-genteng ini sejauh ini merupakan bukti fisik paling kuat yang kami miliki," kata presenter BBC dalam laporan tahun 1964.

"Desainnya berciri Spanyol, tetapi warna dan motifnya menunjukkan pengaruh Inca yang khas."

Temuan itu dianggap penting karena menegaskan catatan sejarah yang menyebut Vilcabamba merupakan tempat bangsa Inca bertahan setelah penaklukan Spanyol.

Di sana, unsur budaya Inca dan Eropa diyakini pernah berpadu selama masa-masa terakhir perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.

Dengan demikian, genteng-genteng tersebut menjadi salah satu bukti paling nyata yang menghubungkan reruntuhan Espíritu Pampa dengan kota Vilcabamba yang selama berabad-abad hanya dikenal melalui legenda dan catatan sejarah.

Signifikansi temuan tersebut belakangan diakui oleh John Hemming, pakar Inca yang menjabat sebagai direktur Royal Geographical Society di London pada 1975-1996.

Ia berhasil mencocokkan berbagai kesaksian saksi mata mengenai Vilcabamba, termasuk kronik yang ditulis biarawan Martín de Murúa, dengan detail-detail yang ditemukan di situs tersebut.

Penemuan genteng itu tergolong tidak biasa karena bangsa Inca pada umumnya menggunakan atap dari jerami atau ilalang.

Namun, dalam deskripsinya mengenai ibu kota pengasingan bangsa Inca, Murúa mencatat sebuah petunjuk penting:

"Bangsa Inca memiliki sebuah istana bertingkat yang beratapkan genteng."

Keterangan itu menjadi salah satu bukti yang memperkuat kesimpulan bahwa reruntuhan di Espíritu Pampa memang merupakan Vilcabamba, kota terakhir yang menjadi pusat kekuasaan dan perlawanan bangsa Inca setelah jatuhnya Cusco ke tangan Spanyol.

Atahualpa (1497–1533) adalah penguasa Inca terakhir sebelum penaklukan oleh Spanyol. Dalam ilustrasi ini, ia terlihat berlutut di hadapan conquistador (penakluk) Spanyol, Pizarro. Selama penaklukan Spanyol tersebut, Francisco Pizarro menangkap Atahualpa dan memanfaatkannya untuk mengendalikan Kekaisaran Inca.

Sumber gambar, Universal History Archive/Universal Images Group via Getty Images

Keterangan gambar, Atahualpa (1497–1533) adalah penguasa Inca terakhir sebelum penaklukan oleh Spanyol. Dalam ilustrasi ini, ia terlihat berlutut di hadapan conquistador (penakluk) Spanyol, Pizarro. Selama penaklukan Spanyol tersebut, Francisco Pizarro menangkap Atahualpa dan memanfaatkannya untuk mengendalikan Kekaisaran Inca.

Savoy kemudian berkata: "Keberadaan kota ini telah begitu lama hanya menjadi desas-desus sehingga hampir berubah dari sejarah menjadi mitos. Kini kami telah mengembalikannya ke dalam sejarah."

Jika demikian, maka pada 1911 Bingham sesungguhnya telah berjalan hanya beberapa langkah dari tempat yang selama itu ia cari: tempat perlindungan terakhir Kekaisaran Inca.

Namun, bagi Savoy, masih ada satu misteri yang belum terpecahkan.

"Hanya sebagian kecil emas dan permata bangsa Inca yang pernah ditemukan kembali," ujarnya kepada Esquire pada 1967.

"Saya punya alasan untuk percaya bahwa mereka membuang sisanya ke danau-danau dan gua-gua daripada membiarkannya jatuh ke tangan orang-orang Spanyol."

Ia menambahkan bahwa dalam sejumlah ekspedisi sebelumnya, dirinya menemukan danau-danau yang tidak tercantum di peta mana pun, serta terowongan-terowongan tersembunyi yang belum pernah didokumentasikan.

Dengan demikian, meski lokasi Vilcabamba akhirnya berhasil diidentifikasi dan dikembalikan ke catatan sejarah, legenda tentang harta karun terakhir bangsa Inca masih terus memicu spekulasi dan pencarian hingga hari ini.

Penemuan yang diyakini sebagai kota terakhir bangsa Inca itu, yang hingga kini sebagian besar masih terkubur di tengah hutan dengan bangunan batunya terlilit tanaman merambat dan akar-akar pohon yang seolah menjaga setiap pintu masuk, justru memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

"Kawasan ini sangat menarik karena hingga sekarang belum banyak terganggu atau dijarah," kata Javier Fonseca, arkeolog di Kementerian Kebudayaan Peru, kepada The Guardian pada 2018.

Bahkan, ada pula laporan mengenai kemungkinan keberadaan kota lain yang terletak lebih jauh lagi di pedalaman hutan.

"Kita tahu bahwa apa yang disebut sebagai 'harta karun Inca yang hilang' belum pernah ditemukan," kata Savoy pada 1967. "Jika harta itu memang ada, maka kita hanya bisa berspekulasi mengenai keberadaannya."

Lebih dari setengah abad setelah Savoy mengumumkan penemuannya, Vilcabamba masih menyimpan banyak misteri.

Meski lokasi ibu kota terakhir bangsa Inca tampaknya telah berhasil diidentifikasi, pertanyaan mengenai nasib harta kekaisaran, wilayah-wilayah yang belum dijelajahi, dan kemungkinan adanya situs lain yang tersembunyi di hutan Amazon tetap belum terjawab.

Seperti banyak kisah penemuan besar dalam sejarah, berakhirnya pencarian satu misteri justru membuka jalan bagi misteri-misteri baru.