Malang Raya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan masifnya perkembangan teknologi digital harus disikapi oleh pelajar di bangku SMA dengan adaptif dan inovatif sehingga menjadi agen pembangunan kemajuan bangsa.
Khofifah melalui keterangan resmi yang diterima di Kota Malang, Jawa Timur, Senin, mengatakan, perubahan yang muncul karena perkembangan teknologi digital, seperti munculnya kecerdasan buatan (AI) akan mengubah cara belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan.
"Anak-anak harus dibiasakan untuk dapat berinovasi, bagaimana bersikap dan mencari sebuah solusi dari permasalahan yang dihadapi, pada 2030 diprediksi 39 persen keterampilan utama di dunia kerja juga akan berubah," kata Khofifah.
Dia menyampaikan, kompetensi para generasi muda akan menghadirkan dampak positif dalam menghadapi tantangan pembangunan di tengah berkembangnya teknologi digital.
Berdasarkan Global Innovation Index 2024, Indonesia menduduki peringkat 54 dari 133 negara sementara Malaysia ada di posisi 33 dan Singapura ada di posisi 4.
"Posisi ini harus menjadi motivasi bersama agar semua memiliki semangat yang sama untuk memacu ketertinggalan, anak-anak kita harus dibekali dan disiapkan untuk menjadi generasi emas 2045," ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa jumlah usia produktif menjadi salah satu potensi yang harus dimaksimalkan.
"Potensi ini menjadikan generasi milenial dan gen z sebagai motor untuk mengadaptasi digitalisasi," ucapnya.
Jumlah penduduk Indonesia per 31 Desember 2025 mencapai 288,3 juta jiwa berdasarkan hasil rilis Data Kependudukan Bersih Semester II 2025.
Jumlah itu meningkat sebesar 1.621.396 jiwa dibanding semester I pada periode yang sama.
Dari 288,3 juta jiwa, sebesar 69,03 persen atau 199.026.595 jiwa merupakan penduduk usia produktif dengan rentang umur 15 sampai 64 tahun. Sedangkan, untuk usia muda atau 0 hingga 14 tahun berjumlah 66,6 juta jiwa lebih.
Khofifah menambahkan, para pelajar membutuhkan pendampingan agar memiliki habituasi inovasi, salah satunya seperti yang diterapkan di SMA Taruna Nala, Kota Malang melalui program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP).
Program itu disebutnya melatih anak untuk berinovasi dalam rangka menguatkan ketahanan pangan nasional dengan memanfaatkan lahan dan media tanam di lingkungan pendidikannya.
"Program SIKAP ini mengajarkan tidak hanya pendidik, dan tenaga kependidikan tetapi juga anak-anak untuk bisa membudidayakan tanaman pangan dan hewan ternak yang dimulai di lingkungan sekolah," kata Khofifah.
Gubernur Jawa Timur dua periode berharap seluruh sekolah tidak berhenti melahirkan pelajar adaptif dan inovatif melalui berbagai program pendidikan yang digagas.
Peran kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang produktif sekaligus berwawasan lingkungan.
Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.