Elephants

KH Ahmad Rifa'i Pahlawan Nasional Tokoh Pembaru Pendidikan Islam dari Abad 18 |Republika Online

August 5, 2026

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pahlawan Nasional KH Ahmad Rifa'i dinilai sebagai salah satu tokoh pembaru pendidikan Islam di Indonesia yang pemikiran dan gagasannya melampaui zamannya. Pendiri gerakan Rifa'iyah yang lahir di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada 1200 H/ 1786 M itu telah meletakkan fondasi pendidikan Islam yang menekankan penguasaan ilmu, akhlak, dan moderasi beragama jauh sebelum konsep tersebut dikenal luas saat ini.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP Angkatan Muda Rifa'iyah Indonesia (AMRI), Dr Abdul Kholiq Syafi'i, saat bertemu Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Biyanto, di Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Kholiq mengatakan, meski istilah moderasi beragama belum dikenal pada masa KH Ahmad Rifa'i, ajaran yang diwariskannya telah mencerminkan nilai-nilai moderasi. Menurut dia, KH Ahmad Rifa'i mampu mengolah khazanah keilmuan Islam yang bersumber dari dunia Arab maupun berbagai literatur lainnya ke dalam bahasa dan budaya lokal sehingga lebih mudah dipahami masyarakat.

"Sunan Kalijaga dikenal karena mengislamkan masyarakat yang belum Islam, sementara Kiai Ahmad Rifa'i dikenal karena memurnikan ajaran Islam di tengah masyarakat yang masih dipengaruhi praktik-praktik sinkretisme," ujar Kholiq.

Ia menjelaskan, salah satu pembaruan pendidikan yang diperkenalkan KH Ahmad Rifa'i adalah penekanan agar setiap santri menjadi pribadi yang alim dan adil. Alim dimaknai memiliki penguasaan ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan umum termasuk sains, sedangkan adil berarti menjaga integritas moral dengan menjauhi dosa besar serta terus berupaya menghindari dosa-dosa kecil.

Selama hidupnya, KH Ahmad Rifa'i menulis sekitar 60 kitab yang membahas berbagai bidang, mulai dari pendidikan, bayan, akidah, akhlak, fikih, ekonomi hingga hukum. Pemikiran-pemikirannya membuat pemerintah kolonial Belanda menganggapnya sebagai tokoh yang berbahaya sehingga aktivitasnya, termasuk para pengikutnya, terus diawasi.

"Setiap santri yang sanad keilmuannya bersambung kepada Kiai Rifa'i hingga sekarang diwajibkan mengkhatamkan 60 kitab karya beliau. Tujuannya agar lahir guru-guru sejati dan murid yang alim serta adil, sebagaimana wasiat beliau," ujar Kholiq.

Menurut Kholiq, hingga kini organisasi Rifa'iyah telah mengelola sekitar 250 pesantren yang menaungi lembaga pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP hingga SMA di berbagai daerah, mulai dari Sumatera hingga Sulawesi Utara.

Karena itu, AMRI berharap sosok KH Ahmad Rifa'i semakin dikenal oleh para pelajar Indonesia. Menurut Kholiq, gagasan pendidikan yang diwariskan KH Ahmad Rifa'i lahir jauh sebelum era modern dan layak ditempatkan sejajar dengan tokoh-tokoh besar pendidikan nasional seperti Ki Hajar Dewantara yang lahir setelahnya.

"Masih banyak mutiara-mutiara pemikiran dan khazanah ilmu Kiai Rifa'i yang perlu dikenalkan lebih luas karena ajarannya tetap relevan dengan tantangan zaman sekarang," ujar Kholiq. 

Sementara itu, Prof Biyanto mewakili Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan apresiasi atas kunjungan AMRI. Ia mengatakan hasil silaturahmi dan audiensi tersebut akan disampaikan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Abdul Mu'ti.

"Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Prof. Abdul Mu'ti) terbuka untuk menerima undangan mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan Rifa'iyah," ujarnya.